Malam semakin larut, namun bagi Rara, waktu seolah berhenti berputar. Setelah insiden di ruang sterilisasi, ia berharap "tamu" tak diundangnya akan bosan dan mencari mangsa lain. Namun, ia salah besar. Entitas di RS peninggalan Belanda ini tidak hanya memiliki ingatan yang kuat, mereka juga memiliki ketekunan yang mengerikan untuk urusan mengganggu manusia.
Rara kini berada di ruang perawatan utama Bangsal Anggrek. Ruangan ini adalah jantung dari bangunan lama, dengan deretan ranjang pasien yang dipisahkan oleh tirai-tirai kain hijau kusam. Di pojok ruangan, sebuah laptop medis terbuka, menampilkan grafik tanda-tanda vital pasien yang harus ia input ke dalam sistem.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki dengan sepatu hak tinggi bergema di atas lantai marmer. Rara tahu itu bukan langkah Suster Wiwin yang memakai sandal karet empuk. Itu adalah langkah kaki yang datang dari masa lalu.
Rara duduk di depan laptop, jemarinya mulai menari di atas keyboard. Ia berusaha fokus pada angka-angka tekanan darah dan saturasi oksigen. Namun, aroma mawar busuk itu kembali lagi, kali ini jauh lebih kuat, memenuhi rongga hidungnya hingga ia merasa sesak.
Tiba-tiba, dari sisi kanan layar laptop, sebuah wajah muncul secara perlahan.
Itu dia. Noni Belanda itu.
Wajahnya kini tidak lagi sekadar pucat. Kulitnya tampak seolah mulai mencair, menyingkapkan otot-muka yang merah kehitaman di bawahnya. Lubang di pelipisnya mengeluarkan bunyi cepluk... cepluk... saat cairan hitam kental menetes ke atas meja kayu tempat laptop Rara berada. Cairan itu tidak nyata secara fisik, tapi mata batin Rara bisa melihat noda hitam itu mengotori dokumen medis yang sedang ia kerjakan.
"Juffrouw... luister naar mij..." (Nona... dengarkan aku...)
Suara itu serak, seperti suara orang yang tenggorokannya dipenuhi pasir. Sang Noni mendekatkan wajahnya. Sangat dekat. Rara bisa melihat detail urat-urat biru yang menonjol di bola matanya yang pecah. Rara tetap diam. Matanya terpaku pada layar laptop, membaca satu demi satu nama pasien dengan konsentrasi yang dipaksakan.
Satu, dua, tiga... tarik napas. Empat, lima, enam... buang napas.
"Ik wil naar huis... Ik wil naar Nederland..." gumam Noni itu. Nada suaranya mulai berubah dari memohon menjadi menuntut.
Rara meraih ponselnya yang tergeletak di samping laptop. Ia berpura-pura sedang mengecek pesan w******p, meski tangannya terasa membeku karena hawa dingin yang memancar dari sang arwah. Ia mulai men-scroll layar ponselnya dengan cepat, mencoba mencari pengalihan.
"Ga naar huis... terug naar mijn land..." Noni itu kini mulai berputar-putar di kursi Rara. Setiap kali ia lewat, embusan angin es menyapu tengkuk Rara.Rara yang tidak paham artinya segera membuka translate bahasa Belanda ke Indonesia,jiwa kekepoan nya tetaplah ada.
Dalam hati, Rara mulai merasa kesal. Ketakutannya perlahan bercampur dengan kejengkelan yang luar biasa. Enak banget lu, Noni, batin Rara sambil terus menatap layar ponselnya yang menampilkan kamis translate an. Minta pulang ke Belanda. Lah, aku aja yang masih hidup, jangankan ke Belanda, ke Jakarta aja masih mikir ongkos. Kamu malah minta diantar pulang lintas benua. Emangnya aku agen travel antar dimensi?
Meski dongkol, Rara tetap tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia tahu, sekali ia menyahut dalam bahasa Indonesia—atau apalagi bahasa Jawa—Noni ini akan tahu bahwa jalurnya sudah terbuka.
Teror Visual di Balik Monitor
Noni itu tampaknya menyadari bahwa Rara sedang berusaha keras mengabaikannya. Ia tidak menyerah. Ia mulai melakukan manuver yang lebih agresif.
Saat Rara sedang mengetik, tiba-tiba sebuah tangan putih pucat dengan kuku yang sudah terlepas menutupi layar laptop. Rara berhenti mengetik. Ia tidak panik. Ia hanya menghela napas panjang, lalu meraih botol hand sanitizer di dekatnya. Ia menggosok tangannya perlahan, seolah-olah ia berhenti karena ingin membersihkan diri, bukan karena ada tangan mayat di atas layarnya.
Noni itu kini berpindah ke depan Rara, berjongkok di atas meja sehingga wajah hancurnya berada tepat di depan mata Rara. Jarak mereka tak lebih dari lima sentimeter.
"Waarom kijk je me niet aan?" (Kenapa kamu tidak melihatku?)
Rara bisa merasakan "kehadiran" itu menembus ruang pribadinya. Ia tetap menatap lurus ke arah layar monitor, menembus bayangan transparan wajah sang Noni seolah sosok itu hanyalah debu di udara. Ia mulai menggumamkan lagu pop yang sedang viral di radio, pelan sekali, hampir seperti bisikan, hanya untuk menutupi suara gumaman bahasa Belanda yang terus menerus masuk ke telinganya.
Noni itu mulai marah. Ia menjerit. Jeritan yang tak terdengar oleh telinga manusia namun mampu membuat kaca jendela bangsal bergetar halus.
"IK WIL TERUG! BRENG ME NAAR SCHIPHOL! BRENG ME NAAR DE BOOT!" (Aku ingin kembali! Bawa aku ke Schiphol! Bawa aku ke kapal!)
Rara memutar bola matanya di dalam hati. Schiphol? Kapal? Aduh, Nyonya, ini tahun modern. Kalau mau pulang naik pesawat, sana cari counter check-in di bandara Ahmad Yani, jangan nongkrong di rumah sakit.
Kejengkelan ini sebenarnya adalah mekanisme pertahanan Rara. Dengan menganggap mereka konyol atau menyebalkan, rasa takutnya tereduksi. Namun, tetap saja, melihat wajah yang dagingnya menggelayut di depan mata selama berjam-jam bukanlah hal yang mudah bagi kewarasan siapa pun.
Bayangan yang Melekat hingga Gerbang
Waktu menunjukkan pukul 06.00 pagi. Cahaya matahari fajar mulai menyusup malu-malu melalui celah jendela tinggi RS Belanda itu. Shift Rara akhirnya berakhir.
Saat ia berjalan menuju ruang ganti untuk mengambil tasnya, Noni itu masih ada. Ia tidak lagi berteriak, tapi ia terus mengekor tepat di samping Rara, berjalan melayang dengan kaki yang tidak menyentuh lantai. Gaunnya yang kotor menyapu udara, meninggalkan jejak bau mawar busuk di sepanjang koridor.
"Juffrouw... asjeblieft... mijn moeder wacht..." (Nona... tolong... ibuku menunggu...)
Langkah Rara tetap stabil. Ia masuk ke ruang ganti, membuka loker, dan mengambil tas punggungnya. Saat ia bercermin sebentar untuk merapikan rambutnya, ia melihat sosok Noni itu berdiri tepat di belakang bahunya di dalam cermin. Wajah Noni itu tampak sedih, matanya yang biru pucat kini digenangi cairan hitam yang menyerupai air mata.
Rara hanya merapikan kerah bajunya, lalu berbalik dan berjalan keluar. Ia melewati meja resepsionis, menyapa satpam dengan lambaian tangan kecil, dan melangkah keluar menuju area parkir motor.
Udara pagi Semarang yang mulai hangat menyambutnya. Rara menghirup oksigen dalam-dalam, mencoba membersihkan paru-parunya dari bau mawar busuk yang menempel. Ia menghidupkan mesin motor matic-nya.
Namun, saat ia memakai helm dan melirik ke kaca spion motornya, jantungnya nyaris copot.
Noni itu duduk di jok belakang motornya.
Ia duduk menyamping, seperti gaya wanita terhormat zaman dulu, sambil terus bergumam dalam bahasa Belanda yang semakin tidak jelas ujung pangkalnya. Tangannya yang dingin mencoba memegang pinggang Rara.
"Enak saja, bonceng nggak bayar," gumam Rara pelan sekali, nyaris tidak terdengar oleh mesin motornya yang menderu.
Rara menarik gas motornya, membelah jalanan Semarang yang mulai padat oleh orang-orang yang berangkat kerja. Noni itu tetap di sana, melayang tipis di atas jok belakang, rambutnya yang kusut berkibar tertiup angin jalanan. Sepanjang jalan dari rumah sakit menuju kos-kosannya, telinga Rara terus-menerus "disiksa" oleh permintaan-permintaan dalam bahasa Belanda yang menuntut untuk pulang.Tidak lupa dia mampir beli sarapan di tempat langganan nya.
"Naar het schip... naar de zee..." (Ke kapal... ke laut...)
Rara hanya bisa menghela napas lelah di balik maskernya. Ia benar-benar merasa seperti sedang diculik oleh turis asing dari alam baka yang tersesat dan tidak punya peta.
Sabar, Ra. Sabar. Sampai rumah nanti langsung tidur, siram air garam depan pintu, pikirnya.
Namun jauh di dalam sudut hatinya yang paling dalam, ada rasa iba yang sedikit mencuat. Ia bisa merasakan kesepian yang luar biasa dari arwah ini. Ratusan tahun terjebak di tanah asing, di sebuah rumah sakit yang dulu mungkin adalah tempat tinggalnya atau tempat ia menghembuskan napas terakhir, tanpa ada satu pun orang yang bisa diajak bicara.
Tapi Rara segera menepis perasaan itu. Kasihan pada hantu adalah awal dari bencana. Jika ia menunjukkan simpati, Noni ini tidak akan hanya membonceng motornya, tapi mungkin akan ikut masuk ke dalam kamarnya, tidurnya, dan hidupnya.
Motor Rara terus melaju, melewati bangunan-bangunan tua di Lawang Sewu yang seolah saling menyapa dengan penumpang gaib di belakang motornya. Pagi itu, Rara pulang dengan beban yang lebih berat dari biasanya, membawa seorang pengungsi dari masa kolonial yang bersikeras bahwa Rara adalah tiket pulangnya menuju Belanda.