Lorong itu menyempit semakin ke dalam, seolah rumah-rumah di kiri kanannya saling mendekat untuk berbisik. Arsa memarkir mobil pikap sewaan di mulut gang karena tak ada cara lain untuk masuk. Sisanya mereka tempuh dengan kaki, mengangkut kardus demi kardus melewati dinding-dinding lembap yang ditumbuhi lumut hijau gelap.
"Pak, rumah paling ujung itu beneran murah?" tanya Nita, istrinya, sambil menggeser tas berisi peralatan masak ke pinggul. Suaranya pelan, ragu, tertahan oleh sesuatu yang belum bisa ia namai.
"Murah banget, malah," jawab Arsa. Ia tersenyum, mencoba menularkan optimisme yang ia paksakan sejak pagi. "Pemiliknya mau cepat lepas. Rezeki kita, Nit. Tiga kamar, halaman belakang, dan harganya cuma sepertiga rumah lain. Kapan lagi?"
Bila, putri mereka yang baru tujuh tahun, berlari kecil di depan, melompati genangan air sisa hujan kemarin. Rambutnya yang dikuncir dua melambai-lambai. Untuk anak seusianya, lorong sempit dan gelap itu bukan pertanda buruk, melainkan tempat petualangan baru.
Rumah di ujung lorong berdiri sendiri, terpisah dari deretan rumah lain oleh sebidang tanah kosong yang ditumbuhi semak liar. Bangunannya tua, bergaya kolonial sederhana, dengan dinding yang dulu mungkin putih namun kini menguning dan bercak-bercak abu. Jendela-jendela kayunya tinggi dan sempit, daunnya tertutup rapat. Di atasnya, lantai dua dengan satu jendela bundar yang seperti mata, menatap lurus ke arah mereka.
Arsa membuka gembok pagar besi yang berderit panjang. Karat menempel di telapak tangannya, berbau besi dan tanah basah. Ia mengusapnya ke celana, lalu mendorong daun pintu utama. Engsel tua itu mengaduh, dan dari dalam menyembur udara dingin yang menyimpan bau lama: kayu lapuk, debu, dan samar-samar sesuatu yang manis. Bunga, pikir Arsa sekilas, lalu melupakannya.
"Wangi," gumam Nita, mengernyit. "Kayak bunga apa, ya?"
"Mungkin dari kebun tetangga," kata Arsa cepat. "Ayo masuk, keburu sore."
Ruang tamunya luas, jauh lebih luas dari yang tampak dari luar. Langit-langitnya tinggi, dengan kerangka kayu gelap yang membentang seperti tulang rusuk. Cahaya sore masuk miring lewat celah jendela, memotong ruangan dengan garis-garis keemasan yang dipenuhi partikel debu yang melayang malas. Di sudut ruangan, tangga kayu melengkung naik ke lantai dua, hilang di kegelapan atas.
Bila langsung berlari memeriksa setiap ruangan, suaranya memantul di dinding kosong. "Ayah! Kamarku yang ini, ya? Yang ada jendelanya!"
"Boleh, Sayang. Yang mana pun boleh," sahut Arsa, hatinya menghangat sedikit melihat anaknya bahagia.
Mereka mulai menata. Nita membersihkan dapur, Arsa memasang ulang beberapa engsel pintu yang miring, dan menjelang magrib rumah itu mulai terasa sedikit lebih hidup. Lampu-lampu yang sempat mereka khawatirkan ternyata menyala, meski cahayanya kuning redup dan sesekali berkedip seakan ada yang lewat di depan saklar.
Saat menata kardus di ruang tengah, Arsa berhenti sejenak di depan tangga. Ada perasaan aneh, seperti diawasi. Ia mendongak ke arah lantai dua yang gelap. Tak ada apa-apa. Hanya tangga, hanya bayang-bayang. Ia menggeleng, menertawakan dirinya sendiri. Rumah tua selalu punya cara membuat orang berimajinasi, pikirnya.
Malam itu mereka makan nasi bungkus di lantai beralas koran, tertawa kecil membicarakan rencana mengecat ulang dinding, menanam cabai di belakang, membeli sofa bekas. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, sejak Arsa kehilangan pekerjaan dan mereka harus pindah dari kontrakan lama, keluarga itu merasa punya pijakan lagi.
"Aku cuma pengin kita aman di sini," kata Nita lirih, menyandarkan kepala di bahu suaminya.
"Pasti aman," jawab Arsa. "Ini rumah kita sekarang."
Di luar, lorong telah tenggelam dalam gelap total. Tak ada lampu jalan yang menjangkau sampai ke ujung. Hanya rumah mereka satu-satunya titik cahaya, dikepung kegelapan dan keheningan yang terlalu sempurna untuk sebuah kota.
Dan ketika Arsa mematikan lampu ruang tamu untuk tidur, untuk sepersekian detik, ia merasa ada sesuatu yang bergerak di puncak tangga. Sesuatu yang berdiri diam, lalu mundur ke dalam gelap. Ia berkedip. Kosong. Hanya tangga.
"Cuma capek," bisiknya pada diri sendiri, dan menutup pintu kamar.
Di atas, di lantai dua yang kosong dan belum mereka sentuh, lantai kayu berderik pelan satu kali. Seakan ada beban yang berpindah tempat. Lalu sunyi.