Nadine berdiri di tepi jalan tanah merah yang membelah Desa Pasir Putih, menunggu bus pertama yang akan membawanya menjauh dari satu-satunya dunia yang pernah ia kenal. Koper tua peninggalan ibunya tergeletak di sampingnya, kulit imitasinya sudah mengelupas di sudut-sudutnya, diikat tali rafia agar tidak terbuka di tengah perjalanan.
"Kamu yakin, Nak?" Ayahnya, seorang nelayan dengan tangan kasar dan punggung bungkuk, menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca tetapi mencoba tegar. "Ibu kota itu bukan tempat untuk orang seperti kita."
Nadine menelan ludah. Ia tahu betul kata-kata itu menyimpan ketakutan, bukan kemarahan. "Aku harus coba, Pak. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?"
Di tangannya, sebuah surat lusuh sudah ia baca puluhan kali. Surat dari Astra Talent Agency, agensi model ternama di Jakarta, yang menyatakan ia lolos seleksi foto yang dikirimkan diam-diam oleh temannya, Sari, tiga bulan lalu. Nadine bahkan tidak tahu fotonya dikirim sampai surat itu datang.
Tinggi seratus tujuh puluh delapan sentimeter, tulang pipi yang tegas, kulit sawo matang yang dianggap "kampungan" oleh orang-orang desa, dan mata cokelat gelap yang menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan. Di Pasir Putih, ia hanya gadis jangkung yang sering jadi bahan ejekan. Tetapi seseorang di Jakarta melihat sesuatu yang lain.
"Tinggimu itu kutukan di sini, Nadine," kata Sari pernah, sambil tertawa. "Tapi di sana, mungkin itu berkahmu."
Bus tua berwarna oranye pudar muncul di kejauhan, mengepulkan debu. Ayahnya menggenggam tangan Nadine erat-erat, menyelipkan uang lima ratus ribu rupiah yang dilipat berkali-kali. Nadine tahu itu adalah seluruh tabungan dari penjualan ikan selama berbulan-bulan.
"Pak, ini terlalu—"
"Ambil." Suara ayahnya tegas, final. "Dan jangan pernah lupa siapa dirimu. Apa pun yang mereka katakan di sana, kamu anak nelayan dari Pasir Putih. Itu bukan aib."
Nadine memeluk ayahnya. Aroma laut dan keringat, aroma rumah, memenuhi paru-parunya. Ia ingin mengingat ini selamanya.
Bus berhenti dengan deru rem yang melengking. Kondektur berteriak tidak sabar. Nadine mengangkat kopernya, menaiki tangga besi yang berkarat, dan mencari tempat duduk di dekat jendela. Ketika bus mulai bergerak, ia menempelkan dahinya ke kaca, menatap ayahnya yang berdiri sendirian di tepi jalan, melambai sampai sosoknya menjadi titik kecil, lalu menghilang.
Perjalanan ke Jakarta memakan waktu hampir empat belas jam. Nadine melewati kota-kota yang namanya hanya pernah ia dengar, melihat gedung-gedung yang semakin lama semakin tinggi, jalanan yang semakin padat. Hatinya berdebar campur aduk antara takut dan harap.
Di sebelahnya duduk seorang ibu paruh baya yang membawa keranjang penuh buah. "Mau ke mana, Neng?" tanya ibu itu ramah.
"Jakarta, Bu. Mau jadi model," jawab Nadine, dan seketika ia merasa konyol mendengar suaranya sendiri mengucapkan itu.
Ibu itu menatapnya lama, dari ujung rambut sampai sepatu kanvas murahnya yang sudah menguning. "Hati-hati, Neng. Jakarta itu manis di depan, pahit di dalam. Banyak yang datang dengan mimpi, pulang dengan luka."
Nadine tersenyum sopan, tetapi kata-kata itu menempel di benaknya seperti duri.
Malam turun ketika bus akhirnya memasuki terminal Jakarta. Lampu-lampu kota berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi, ribuan jumlahnya, menyilaukan dan asing. Klakson kendaraan, teriakan pedagang, bau asap dan parfum dan got bercampur menjadi satu. Nadine turun dari bus dengan lutut gemetar, mencengkeram kopernya seolah itu satu-satunya jangkar yang ia miliki.
Ia mengeluarkan secarik kertas dengan alamat Astra Talent Agency. Besok pagi, pukul sembilan, ia harus datang untuk wawancara dan penandatanganan kontrak. Malam ini, ia akan menginap di sebuah kos murah yang direkomendasikan Sari, di gang sempit di belakang sebuah pasar.
Saat ojek membawanya menembus kemacetan, Nadine memandangi billboard raksasa di sebuah gedung. Seorang model dengan gaun merah menyala menatap turun dari ketinggian, sempurna, dingin, tak tersentuh. Di bawahnya tertulis nama merek mewah yang tidak ia kenal.
"Suatu hari," bisik Nadine pada dirinya sendiri, jantungnya berdebar keras, "itu akan jadi aku."
Ia belum tahu harga yang harus dibayar untuk berdiri di tempat seperti itu. Belum tahu bahwa di balik setiap senyum di billboard, ada air mata yang tidak pernah difoto. Tetapi malam itu, di tengah kota yang asing dan dingin, mimpi adalah satu-satunya kehangatan yang ia miliki.
Dan Nadine memutuskan untuk memegangnya erat-erat.