Tiga hari setelah konferensi pers, ketika kerumunan wartawan di depan Astra mulai menipis dan suasana asrama berubah dari panik jadi limbung tak menentu, seorang perempuan datang tanpa janji.
Ia berdiri di lobi mengenakan kemeja katun sederhana dan tas selempang kanvas yang sudah pudar. Rambutnya disanggul asal dengan pensil. Tidak ada yang tentang dirinya yang mengingatkan pada Jakarta yang gemerlap — tidak sepatu hak, tidak parfum mahal, tidak senyum terlatih. Ia tampak seperti guru sekolah negeri yang nyasar.
"Saya cari Nadine," katanya pada Maya yang menjaga meja depan.
"Untuk?"
Perempuan itu mengeluarkan kartu nama dari tas kanvasnya, agak kusut. "Laras. Saya pengacara. Bidang saya ketenagakerjaan dan perlindungan pekerja."
Mereka berkumpul di ruang latihan yang kosong — Nadine, Maya, Vania, dan Bu Laras duduk di lantai kayu yang biasa dipakai untuk catwalk. Bu Laras menolak kursi. "Saya lebih suka begini," katanya. "Di lantai semua orang setinggi."
"Bu mau berapa?" tanya Vania langsung, masih dengan kebiasaan curiganya. "Kami tidak punya uang. Secara teknis kami malah berutang."
Bu Laras tersenyum kecil. "Tidak ada bayaran. Pro bono. Artinya gratis."
"Tidak ada yang gratis di Jakarta," kata Vania.
"Ada satu hal yang gratis," kata Bu Laras tenang. Ia menatap mereka satu per satu. "Marah. Dan saya sudah marah sejak lama." Ia membuka tasnya, mengeluarkan map berisi kliping berita lama — agensi-agensi lain, kasus-kasus serupa yang dulu redup dan hilang tanpa putusan. "Dua belas tahun saya mendampingi buruh pabrik, pekerja rumah tangga, kuli bangunan yang tidak digaji. Industri kalian ini — model, talenta, hiburan — orang mengira ini dunia mewah, jadi tidak ada yang percaya ada perbudakan di dalamnya. Justru karena gaunnya indah, tidak ada yang melihat rantainya."
Nadine menatap perempuan itu lekat. Ada sesuatu dalam suaranya yang jujur, lelah, dan tidak menjual apa pun. "Kenapa kami harus percaya Ibu?"
"Tidak harus," kata Bu Laras. "Percaya pada bukti kalian sendiri." Ia mengangkat map kliping. "Tapi izinkan saya jelaskan apa yang sudah kalian pegang tanpa kalian sadari." Ia mengeluarkan satu lembar dari dokumen Astra yang sudah viral — Maya yang menyalinnya rapi. "Klausa penalti pindah agensi lima ratus juta. Ini bukan cuma kejam. Ini melanggar hukum. Klausa yang membuat pekerja tidak bisa berhenti bekerja itu batal demi hukum. Utang investasi berbunga yang ditagihkan ke anak di bawah umur tanpa wali yang sah — itu bisa dibatalkan. Potongan yang membuat upah bersih di bawah ketentuan — itu pelanggaran."
Mata Maya melebar. "Jadi semua angka yang membuat kami 'berutang' itu—"
"Bisa runtuh di pengadilan," kata Bu Laras. "Kalau kalian berani membawanya ke sana. Dan kalau kalian punya cukup orang yang mau bersaksi."
Hening sejenak. Lalu Vania berbicara, suaranya lebih pelan dari biasanya. "Ayah saya pengusaha. Dia akan bilang ini pertarungan yang tidak masuk akal. Astra punya pengacara mahal, koneksi, uang."
Bu Laras menatapnya. "Ayahmu betul. Ini memang tidak masuk akal. Astra punya semua itu." Ia menutup mapnya. "Yang tidak mereka punya adalah seratus gadis yang akhirnya berani bicara di waktu yang sama. Itu satu-satunya hal yang tidak bisa dibeli dengan uang."
Nadine merasakan sesuatu mengeras di dadanya. Bukan kemarahan — itu sudah ada sejak lama. Tapi arah. Selama ini ia hanya bertahan, mengelak sabotase demi sabotase, melangkah dari satu pemotretan ke pemotretan berikutnya. Sekarang, untuk pertama kalinya, ada peta. Ada jalan ke depan, dan jalan itu menanjak ke meja hijau pengadilan.
"Apa yang Ibu butuhkan dari kami?" tanya Nadine.
Bu Laras mengeluarkan buku catatan biasa, jenis yang dijual seharga ribuan di warung. "Nama," katanya. "Saya butuh nama. Setiap model yang dipotong gajinya, ditimbang, didenda, ditagih utang fiktif. Yang masih di sini dan yang sudah dicoret pergi. Saya butuh daftar korbannya."
Nadine teringat ranjang atas yang kosong di kamarnya — penghuni sebelumnya yang dicoret karena berat tak turun, yang namanya bahkan tak pernah ia tahu. Berapa banyak ranjang kosong seperti itu, di berapa banyak kamar, di berapa banyak tahun.
"Akan kami buat daftarnya," kata Nadine.
Bu Laras mengangguk dan, untuk pertama kalinya, senyumnya melebar penuh — senyum seseorang yang sudah lama menunggu dan akhirnya menemukan orang yang berani. "Kalau begitu," katanya, "kita mulai bekerja."