Ruang sidang itu dingin oleh pendingin udara, tapi telapak tangan Nadine basah. Ia duduk di bangku belakang, di antara Maya dan Vania, menatap meja saksi yang kosong. Seharusnya hari ini Lina yang duduk di sana.
Lina. Model Astra yang sudah empat tahun terjebak, yang utangnya menumpuk paling tinggi, yang dua minggu lalu menangis di pundak Nadine dan berkata, "Aku mau bersaksi. Aku capek diam."
Bu Laras, pengacara mereka, berdiri dengan map di tangan. Wanita berusia akhir empat puluhan itu mengenakan blazer cokelat lusuh, sepatu yang ujungnya sudah memutih. Ia membela buruh selama dua puluh tahun dan tak pernah kaya. Tapi matanya tajam.
"Yang Mulia," kata Bu Laras, "saksi kami, Saudari Lina Marpaung, dijadwalkan memberi keterangan pagi ini. Namun kami kehilangan kontak dengannya sejak kemarin malam."
Di seberang ruangan, Pak Hendra tersenyum tipis. Pengacara Astra itu duduk tenang dengan jas abu-abu mahal, jam tangan berkilau di pergelangannya. "Yang Mulia, jika saksi tidak hadir, kami mohon keterangannya dianggap gugur."
Hakim mengetuk palu pelan. "Sidang ditunda dua hari. Pihak penggugat agar menghadirkan saksi atau alat bukti pengganti."
Di luar gedung pengadilan, di bawah pohon yang daunnya berdebu, Nadine menelepon nomor Lina untuk kesepuluh kali. Tidak aktif.
"Ada yang salah," kata Nadine pelan.
Maya menggigit bibir. "Lina nggak akan kabur. Dia yang paling semangat."
Vania berdiri sedikit terpisah, menatap jalanan. Sejak ia memilih berdiri di pihak Nadine, ada beban berbeda di wajahnya, seakan ia tahu cara kerja orang-orang berkuasa lebih baik dari siapa pun di sini. "Bukan kabur," kata Vania akhirnya. "Dibungkam."
Mereka mendatangi kos Lina sore itu. Sebuah rumah petak di gang sempit, jemuran melintang di atas kepala. Ibu kos, perempuan tua bersarung, menggeleng-geleng. "Lina pindah tadi malam. Buru-buru. Ada mobil hitam jemput. Dia bawa koper, nggak pamit, cuma bayar lunas sisa sewa. Pakai uang tunai banyak."
Nadine merasakan perutnya dingin. "Bu, dia bilang sesuatu?"
"Cuma satu. Katanya, 'Bilang ke teman-teman, maaf.'"
Malam itu di asrama yang kini setengah kosong, Nadine duduk di lantai dengan buku catatan keuangan yang ia kumpulkan bersama Maya. Halaman demi halaman bukti. Tapi bukti di atas kertas tidak bisa menangis di kursi saksi. Tidak bisa membuat publik percaya bahwa di balik angka-angka ini ada manusia yang dihancurkan.
"Mereka membeli kesaksiannya," kata Nadine. "Berapa pun harganya, Astra mampu bayar lebih dari yang kita bisa janjikan. Kita cuma bisa janji keadilan. Mereka janji uang yang nyata, sekarang juga."
Maya duduk di sampingnya. "Terus kita gimana?"
Nadine memandang ranjang atas yang kosong — ranjang penghuni yang dulu dicoret karena beratnya tak turun. Selalu ada kursi kosong di sini. Selalu ada yang hilang.
"Kita cari saksi lain," kata Nadine. "Tapi sekarang aku tahu satu hal." Ia menutup buku catatan. "Renata nggak akan sebrutal ini cuma untuk menyelamatkan reputasinya. Orang yang takut kalah nggak menyuap. Orang yang takut ketahuan-lah yang menyuap. Dan Renata takut pada sesuatu — atau seseorang — yang lebih besar dari kita."
Vania, yang bersandar di kusen pintu, mengangkat kepala. "Kamu pikir ada orang di atas Renata."
"Aku tahu ada." Nadine menatap ponselnya, layar Lina yang tak pernah lagi menyala. "Dan saksi kita baru saja menghilang untuk membuktikannya."