Astra Talent Agency runtuh dalam hitungan hari.
Klien-klien menarik kontrak. Sponsor menghilang. Gedung kaca dua belas lantai yang dulu megah kini sepi, lampunya mati lantai demi lantai. Putusan pengadilan, ditambah skandal yang viral, ditambah audit yang mulai membongkar aliran uang — semua menutup Astra seperti pasir surut dari pantai saat ombak menarik diri.
Dan Renata Wijaya kehilangan segalanya.
Surat pemberhentian datang padanya bukan dari Astra — sebab Astra sudah tak ada — melainkan dari "pemegang saham" lewat notaris. Pak Suryanto Halim, nama yang sama yang ditemukan Vania berlapis-lapis di balik perusahaan cangkang. Renata, yang selama dua puluh tahun mengira dirinya berkuasa, disingkirkan dengan satu lembar surat seperti aset yang sudah tak bernilai. Persis seperti yang ia lakukan pada para model.
Nadine bertemu Renata satu kali lagi, secara tak terduga, di lobi gedung Astra yang sudah kosong. Nadine datang mengambil dokumen pribadi para model yang masih tertinggal. Renata sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam kardus, sendirian, tanpa asisten, tanpa siapa-siapa.
Mereka saling tatap. Untuk waktu yang lama.
"Kamu menang," kata Renata akhirnya, suaranya tanpa kemarahan, hanya kelelahan yang dalam. "Anak desa yang aku suruh ngaku dari Bandung. Yang aku larang pakai nama aslinya. Kamu meruntuhkan semua yang aku bangun."
"Saya nggak meruntuhkan apa-apa, Bu," kata Nadine. "Saya cuma menolak bohong. Yang lain runtuh sendiri karena dibangun di atas kebohongan."
Renata tertawa pelan, getir. "Kamu pikir aku monster. Mungkin aku memang monster. Tapi aku juga pernah jadi kamu, dua puluh tahun lalu. Gadis dengan mimpi. Lalu seseorang menjadikanku alat. Dan aku belajar bahwa di industri ini kamu cuma punya dua pilihan: jadi palu atau jadi paku. Aku memilih jadi palu." Matanya menatap jauh. "Tapi sekarang aku tahu, bahkan palu pun cuma alat di tangan seseorang yang lebih besar."
Nadine melangkah lebih dekat. "Bu Renata. Siapa orang itu? Siapa yang ada di atas Bu?"
Sesaat, sesuatu bergetar di wajah Renata — ketakutan, atau mungkin keinginan untuk akhirnya melepaskan beban. Bibirnya terbuka.
Lalu menutup lagi.
"Kalau aku sebut namanya," kata Renata pelan, "aku mati. Bukan kiasan. Dan kamu juga, Nadine. Kamu pikir kamu sudah menang perang. Kamu baru menang satu pertempuran, melawan tentara paling rendah." Ia menutup kardusnya. "Orang itu... dia punya banyak Astra. Banyak Renata. Aku cuma satu yang tumbang. Dia akan bangun yang baru besok, dengan wajah yang lebih cantik, dengan kata-kata yang lebih manis. 'Etis'. 'Adil'. Hati-hati dengan kata-kata manis, Nadine."
Renata mengangkat kardusnya dan berjalan menuju pintu. Di ambang, ia berhenti.
"Ini belum berakhir," katanya, tanpa menoleh. "Bukan ancaman. Peringatan. Aku sudah selesai — aku akan menghilang ke tempat yang dia tak bisa temukan aku. Tapi kamu baru saja membuat dirimu terlihat. Dan orang seperti dia tidak suka pada hal yang terlihat dan tidak bisa ia kendalikan." Ia menoleh sekilas, dan ada sesuatu yang hampir seperti penyesalan di matanya. "Kamu punya tulang pipi yang bagus, Nadine. Dari ibumu, kan? Jaga dirimu. Jaga ayahmu. Kamu akan butuh mereka."
Lalu Renata Wijaya melangkah keluar dari gedung kaca itu, sosoknya mengecil di kejauhan, dan menghilang ke dalam keramaian kota Jakarta — bukan dengan kemarahan seorang penjahat yang dikalahkan, melainkan dengan kelelahan seseorang yang akhirnya bebas dari rantai yang ia kira adalah mahkota.
Nadine berdiri sendirian di lobi kosong, peringatan Renata bergema di kepalanya. Sebuah nama yang lebih besar. Banyak Astra. Kata-kata manis: "etis", "adil".
Ia menggambar ulang piramida itu di kepalanya. Renata telah jatuh. Tapi puncaknya masih kosong.