Kantor Vertikal berbeda dari segala yang pernah Nadine bayangkan tentang agensi model. Tidak ada gedung dingin dua belas lantai berdinding kaca seperti Astra. Vertikal menempati ruang terbuka yang hangat, penuh tanaman hijau, dinding bata ekspos, sofa empuk berwarna pastel, dan musik akustik lembut. Di dinding tergantung poster-poster bertuliskan kata-kata indah: "Model adalah manusia." "Kontrak adil, masa depan cerah." "Bersama, bukan menguasai."
Nadine datang karena penasaran, ditemani Maya dan Vania. Undangan itu mengundang Akar untuk "berbincang santai tentang masa depan industri".
Mereka disambut oleh seorang lelaki muda berkemeja linen, rambut tertata rapi, senyum yang hangat dan terlatih. Ia memperkenalkan diri sebagai Dimas, direktur Vertikal.
"Nadine," katanya, menjabat tangannya dengan dua tangan. "Kamu tahu, kamu inspirasi bagi kami. Apa yang kamu lakukan pada Astra, membongkar semua kebusukan itu, itu yang membuat kami berani mendirikan Vertikal. Agensi yang berbeda. Agensi yang etis."
Ia membawa mereka berkeliling. Vertikal, katanya, tidak menimbang model. Tidak memaksa operasi. Tidak ada utang tersembunyi. Komisi mereka hanya dua puluh persen, jauh di bawah Astra. Mereka menyediakan asuransi kesehatan, konseling psikologi, bahkan beasiswa kuliah untuk model muda. Semua model yang lewat tersenyum tulus, terlihat sehat, dirawat dengan baik.
Maya berbisik pada Nadine, "Ini... ini bagus. Ini yang seharusnya."
Dan memang terlihat begitu. Vertikal seperti mimpi yang Nadine perjuangkan, dijalankan oleh orang lain dengan modal yang Akar tidak punya.
Dimas mengajak mereka duduk di sudut yang nyaman, menyuguhkan kopi yang harum. "Aku akan jujur," katanya. "Aku mengagumi Akar. Tapi aku khawatir." Senyumnya melembut menjadi keprihatinan. "Kalian kolektif yang indah, tapi rapuh. Tanpa modal, tanpa struktur, tanpa pengaman hukum, satu masalah saja bisa meruntuhkan semuanya. Bagaimana kalau ada anggota yang sakit keras? Bagaimana kalau ada klien yang menggugat? Kalian punya pengacara tetap? Asuransi? Dana yang cukup?"
Nadine terdiam. Itu pertanyaan yang sering membuatnya tidak bisa tidur.
"Aku tidak datang untuk menjatuhkan kalian," lanjut Dimas. "Aku datang untuk menawarkan kerja sama. Bayangkan Akar dan Vertikal bergabung. Idealisme kalian, sumber daya kami. Model-model kalian dapat asuransi, dapat keamanan, dapat panggung yang lebih besar. Dan kalian tetap bisa menjaga semangat Akar."
Terdengar sempurna. Terlalu sempurna.
Vania, yang sejak tadi mengamati diam-diam, akhirnya bicara dengan nada manis tapi mata tajam. "Pak Dimas, boleh saya tanya? Siapa pemodal Vertikal? Mendirikan kantor seindah ini, memberi asuransi, beasiswa, konseling, semua itu butuh modal besar. Dari mana?"
Untuk sepersekian detik, senyum Dimas tersangkut. Hanya sekejap, lalu pulih sempurna. "Investor swasta yang percaya pada visi etis kami. Mereka memilih tetap di belakang layar. Filantropi, kau tahu. Tidak semua orang kaya jahat."
Jawaban yang halus. Terlalu halus.
Dalam perjalanan pulang, ketiganya diam di angkutan umum. Maya yang pertama bicara.
"Kalian merasakan itu juga?" tanyanya. "Semuanya bagus. Semuanya benar. Tapi ada yang... mengganjal."
"Karena tidak ada yang sempurna," kata Vania pelan, memandang jalanan Jakarta yang macet. "Aku besar di keluarga pengusaha. Aku tahu seperti apa orang yang punya rencana tersembunyi. Mereka selalu paling ramah, paling murah hati, paling membela yang lemah." Ia berbalik menatap Nadine. "Sampai mereka mendapatkan apa yang mereka mau."
Nadine memandang keluar jendela. Bayangan billboard merah Lúmin yang dulu jadi mimpinya lewat di kejauhan. Ia teringat ayahnya: laut paling tenang justru saat arus paling deras menariknya ke dalam.
"Investor di belakang layar," gumamnya. "Filantropi yang tidak mau disebut namanya." Ia teringat telepon misterius minggu-minggu lalu, suara halus yang menolak menyebut nama, yang bilang "kami sudah mengamati kalian sejak lama."
Bulu kuduknya meremang. "Dia tahu nama kita sebelum kita viral," kata Nadine pelan. "Telepon waktu itu. Sebelum peragaan gang. Seseorang sudah mengincar kita."
Vania mengangguk perlahan. "Dan sekarang dia datang dengan wajah ramah, menawarkan surga." Ia menggenggam tangan Nadine. "Hati-hati, Nadine. Kadang racun paling mematikan disuguhkan dengan senyum paling manis. Aku tahu, karena dulu aku yang menebar racun itu."