Pukul lima pagi, aula latihan di lantai dasar asrama sudah terang benderang oleh lampu sorot. Lantainya dilapisi kayu mengkilat dengan garis lurus yang ditandai selotip, menyerupai catwalk sungguhan. Cermin besar memenuhi salah satu dinding, memantulkan tujuh gadis yang berdiri menggigil dalam pakaian latihan ketat.
Di depan mereka berdiri seorang wanita berusia lima puluhan dengan postur sempurna dan tatapan setajam pisau. Madame Sylvia, pelatih catwalk legendaris Astra, mantan model internasional yang konon pernah berjalan di Paris dan Milan.
"Aku tidak peduli kalian datang dari mana," kata Madame Sylvia dengan suara yang dingin dan jernih. "Di sini, kalian semua sama. Sama-sama bahan mentah yang menyedihkan. Tugasku adalah mengubah kalian dari ulat menjadi sesuatu yang layak ditatap. Sebagian dari kalian akan berhasil. Sebagian besar tidak."
Matanya berhenti pada Nadine.
"Kamu. Yang baru. Jalan."
Nadine melangkah maju ke garis catwalk. Ia mencoba mengingat cara ia berjalan di ruang casting, momen ketika punggungnya menegak dengan sendirinya. Tetapi di bawah tatapan tujuh pasang mata dan lampu sorot yang menyilaukan, tubuhnya mengkhianatinya. Langkahnya kaku, bahunya membungkuk, dan di tengah jalan, sepatu hak tinggi yang belum pernah ia kenakan seumur hidupnya membuatnya tersandung.
Vania tertawa. Dua gadis lain ikut menahan tawa.
"Berhenti." Suara Madame Sylvia memotong seperti cambuk. Ia berjalan mendekat, mengelilingi Nadine seperti elang. "Lihat dirimu. Kau berjalan seperti petani yang baru pulang dari sawah. Bahumu membungkuk seolah memikul beban dunia. Pinggulmu kaku seperti papan."
Setiap kata menusuk, tetapi Nadine berdiri tegak, menahan air mata yang mendesak.
"Catwalk bukan sekadar berjalan," lanjut Madame Sylvia, suaranya melunak sedikit, berubah menjadi nada seorang guru. "Catwalk adalah pernyataan. Setiap langkah berkata: aku ada, aku berkuasa, aku tidak butuh persetujuanmu. Garis lurus, Nadine. Satu kaki di depan kaki yang lain, di garis yang sama. Pinggul mengikuti, jangan dipaksa. Pandangan lurus ke depan, satu titik di kejauhan. Jangan pernah menunduk. Menunduk berarti kalah."
Nadine mencobanya lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Selama tiga jam, ia berjalan bolak-balik di garis itu sampai betisnya terasa terbakar dan telapak kakinya melepuh di dalam sepatu hak. Madame Sylvia tidak memberinya jeda, tidak memberinya pujian, hanya koreksi demi koreksi yang tajam. "Dagumu! Bahumu! Lambat! Terlalu cepat! Kau seperti bebek!"
Saat latihan berakhir, Nadine nyaris tidak bisa berdiri. Tetapi ia tidak menangis. Tidak di depan mereka.
Di ruang ganti, ia melepas sepatu dan menemukan lepuhan berdarah di tumitnya. Maya menghampiri dengan plester dan sebotol air.
"Kau bertahan lebih lama dari yang kuduga," kata Maya, menempelkan plester dengan lembut. "Hari pertamaku dulu, aku menangis di kamar mandi selama satu jam."
"Aku ingin menangis," aku Nadine, suaranya parau. "Tapi kalau aku mulai, aku takut tidak akan berhenti."
Vania lewat di depan mereka, mengeringkan rambut dengan handuk. "Tumit berdarah di hari pertama. Manis sekali. Pertaruhanku, kau tidak akan bertahan sebulan, Nona Desa."
Nadine mengangkat kepala dan menatap Vania lurus-lurus, untuk pertama kalinya. "Kalau begitu, kau akan kalah taruhan."
Sesuatu berkilat di mata Vania, antara tersinggung dan tertarik. "Kita lihat saja."
Setelah ruang ganti kosong, Maya menatap Nadine dengan ekspresi serius. "Hati-hati dengan Vania. Dia bukan sekadar mulut besar. Ayahnya pengusaha besar, dan dia punya banyak koneksi di agensi. Dia sudah menjatuhkan beberapa anak baru yang dia anggap ancaman. Cara-caranya tidak selalu bersih."
"Kenapa dia menganggapku ancaman? Aku bahkan belum bisa berjalan dengan benar."
Maya tersenyum samar. "Justru karena itu. Madame Sylvia tidak membuang waktu tiga jam pada gadis yang dianggapnya tidak punya potensi. Dan Vania menyadarinya."
Nadine memandang pantulan dirinya di cermin. Wajah lelah, mata sayu, tumit berdarah. Tetapi di balik itu, ada api kecil yang menolak padam.
Malam itu, setelah semua tidur, Nadine menyelinap turun ke aula yang gelap. Ia menyalakan satu lampu, melepas sepatu, dan dengan kaki telanjang yang masih perih, ia berlatih lagi. Satu kaki di depan kaki yang lain. Punggung tegak. Dagu terangkat. Pandangan ke satu titik di kejauhan.
Aku ada. Aku berkuasa. Aku tidak butuh persetujuanmu.
Ia berlatih sampai langkahnya mulai menemukan irama, sampai pinggulnya mulai mengayun dengan sendirinya, sampai langit di luar jendela mulai membiru menjelang fajar. Ia tidak tahu seseorang sedang memperhatikannya dari balkon lantai dua, menyilangkan lengan, dengan ekspresi penuh perhitungan.
Renata Wijaya tersenyum dalam gelap. "Anak ini," gumamnya, "mungkin berbeda."