Undangan itu datang lewat surat resmi, bukan amplop misterius di depan pintu. Kop suratnya dicetak dengan tinta emas: PEKAN MODE NASIONAL. Nadine membacanya tiga kali untuk memastikan ia tidak salah baca.
"Mereka mengundang Akar," katanya, suaranya hampir tak percaya. "Mereka memberi kita satu slot. Peragaan pembuka hari kedua."
Maya merebut surat itu, membacanya cepat, lalu memekik. "Ini panggung terbesar di negeri ini, Nadine. Setiap desainer, setiap merek, setiap wartawan mode berkumpul di sana. Astra dulu butuh tiga tahun untuk dapat slot di acara ini. Kita dapat dalam tujuh bulan."
Vania tidak ikut bersorak. Ia mengambil surat itu, membaca bagian bawahnya dengan mata yang waspada. "Tujuh bulan. Setelah video gang viral. Setelah liputan Bu Anjani." Ia mengetuk satu baris di surat. "Lihat ini. Penyelenggara menyebut Akar sebagai 'fenomena yang patut diberi ruang'. Sejak kapan pekan mode peduli pada koperasi model kampung?"
Hening sejenak. Pertanyaan Vania menusuk balon kegembiraan itu.
"Kamu pikir ini jebakan," kata Nadine pelan.
"Aku pikir tidak ada yang gratis di industri ini," sahut Vania. "Tapi aku juga tahu, menolak undangan ini sama dengan menolak satu-satunya jalan kita untuk membuktikan Akar bukan cuma viral sesaat. Kalau kita tidak tampil di panggung besar, Dimas benar: kita cuma eksperimen indah yang akan layu."
Kirana, yang sejak peristiwa malam itu jauh lebih sering bicara, mengangkat kepala dari sudut. "Kalau memang jebakan, justru kita harus datang. Supaya kita lihat siapa yang memasangnya."
Nadine menatap ketiganya. Ia teringat ayahnya, teringat nelayan yang tahu badai akan datang tapi tetap turun ke laut karena ikan tidak menunggu cuaca cerah. Ada saat-saat ketika menghindar lebih berbahaya daripada melangkah maju.
"Kita ambil," kata Nadine akhirnya. "Tapi kita masuk dengan mata terbuka."
Persiapan dimulai keesokan harinya. Tanpa modal besar, Akar memutuskan melakukan apa yang mereka lakukan terbaik: jujur. Tidak ada gaun haute couture pinjaman, tidak ada perancang ternama. Mereka akan menampilkan karya para pedagang kecil yang selama ini bekerja sama dengan mereka. Gamis Bu Sekar. Kebaya dari penjual yang hampir bangkrut. Batik dari pedagang yang anaknya putus sekolah. Mereka menamai koleksinya "Tangan", karena setiap helai dijahit dengan tangan manusia, bukan mesin pabrik.
Nadine merancang konsep peragaan sendiri, berlutut di lantai kontrakan dengan kertas bekas dan pensil tumpul. Ia tidak ingin para modelnya berjalan dingin seperti di Astra. Ia ingin mereka membawa cerita.
"Setiap model membawa satu benda dari rumahnya," jelas Nadine pada rapat kolektif. "Sapu tangan ibu, foto kakek, jam tangan tua, apa saja yang punya makna. Kalian berjalan bukan sebagai patung. Kalian berjalan sebagai anak-anak yang membawa rumah ke panggung paling mewah di negeri ini."
Ide itu sederhana, tapi membuat beberapa model menangis di rapat. Selama ini mereka diajari menyembunyikan asal-usul, mengaku dari Bandung alih-alih desa, memutihkan kulit, mengganti nama. Sekarang Nadine memintanya sebaliknya: bawalah dari mana kamu berasal.
Latihan berlangsung tiga minggu di gang, di malam hari setelah para pedagang tutup. Mereka membentangkan kain merah lusuh yang sama, dan para model berjalan bolak-balik di bawah lampu temaram. Nadine, mengingat semua yang diajarkan Madame Sylvia, melatih mereka satu per satu. Dagu terangkat. Pinggul mengikuti. Tapi ia menambahkan, "Pandangan ke satu titik, ya, tapi titik itu bukan dinding. Titik itu orang yang kalian cintai."
Pada minggu kedua, sesuatu yang tak terduga terjadi. Madame Sylvia datang.
Ia berdiri di ujung gang, mantel hitamnya tampak janggal di antara warung dan tukang sayur, memandang para model Akar berlatih dengan ekspresi yang sulit dibaca. Nadine membeku ketika melihatnya. Mereka belum bertemu sejak Astra runtuh.
"Madame," sapa Nadine hati-hati.
Sylvia tidak menjawab dulu. Ia memandang lama pada cara para model berjalan, pada wajah-wajah yang tersenyum alih-alih dingin, pada kain murah yang dikenakan seolah itu sutra termahal. Lalu, dengan suara serak yang Nadine kenal, ia berkata, "Kalian berjalan salah."
Jantung Nadine jatuh.
"Kalian berjalan terlalu indah," lanjut Sylvia, dan di sudut bibirnya ada sesuatu yang nyaris seperti senyum, sesuatu yang tidak pernah Nadine lihat selama di Astra. "Aku mengajari kalian berjalan seperti ratu yang tak butuh siapa-siapa. Kalian malah berjalan seperti manusia yang dicintai. Itu jauh lebih sulit. Dan jauh lebih berbahaya bagi mereka yang ingin kalian tetap menunduk."
Ia melangkah masuk ke gang, mantel hitamnya menyapu debu. "Tiga minggu lagi kalian naik panggung nasional. Aku tidak akan membiarkan anak-anakku jatuh di hak tinggi di depan seluruh industri." Ia menanggalkan mantelnya, menggantungnya di paku warung. "Mulai sekarang aku yang melatih. Gratis. Anggap saja aku menebus dosa karena pernah melatih untuk Astra."
Para model saling pandang, tak percaya. Maya menyikut Nadine. "Apa itu artinya yang kupikir?"
Nadine memandang Madame Sylvia yang sudah mulai membentak seorang model untuk menegakkan dagunya, persis seperti dulu, tapi kali ini untuk pihak yang berbeda. Ia merasakan sesuatu menghangat di dadanya.
"Itu artinya," kata Nadine pelan, "panggung nasional baru saja jadi sedikit lebih masuk akal."
Tapi di balik kehangatan itu, Vania berdiri di pojok gang, memandang ke jalan besar di mulut gang. Sebuah mobil hitam berhenti di sana, kaca gelap, mesin menyala. Tidak ada yang turun. Setelah beberapa menit, mobil itu pergi. Vania mencatatnya dalam diam, dan tidak mengatakan apa-apa pada yang lain. Belum.