Nadine tidak tidur semalaman. Ia duduk di lantai dengan peralatan jahit ibunya tergelar di hadapannya, memutar gunting tua itu di tangannya berulang-ulang. Memotong, atau menjahit. Membuang, atau menyembuhkan.
Ia teringat malam di tangga darurat Astra, bertahun-tahun lalu, ketika ia menemukan Vania menangis dan mengaku menyabotasenya. Saat itu setiap orang berharap Nadine membalas dendam. Ia tidak. Ia memilih melihat musuh yang sebenarnya — bukan Vania, tapi sistem yang membuat perempuan saling menjatuhkan untuk bertahan. Dan dari pilihan itu, Vania berubah dari musuh paling pahit menjadi sekutu paling setia.
Sekarang ada Rini. Pola yang sama. Pertanyaan yang sama.
Tapi kali ini taruhannya lebih besar. Dulu Vania menyabotase satu orang. Rini menjual seluruh kolektif, membuka pintu bagi musuh yang ingin menghancurkan mereka. Memaafkan bukan sekadar soal hati. Itu soal apakah Akar bisa bertahan kalau pengkhianatan tidak punya konsekuensi.
Pagi datang. Nadine mengumpulkan keempat orang inti, lalu memanggil Rini. Tapi ia juga melakukan sesuatu yang membuat yang lain terkejut: ia mengumpulkan seluruh anggota Akar yang tersisa. Sembilan orang. Ia memutuskan ini tidak akan diputuskan dalam gelap.
"Aku tidak akan menyembunyikan ini dari kalian," kata Nadine di hadapan semua. Ia menceritakan apa yang terjadi — sabotase di peragaan, kunci cadangan, kebocoran informasi, pengakuan Rini. Ruangan meledak. Ada yang marah, ada yang merasa dikhianati, ada yang menatap Rini dengan jijik.
"Usir dia!" seru Sasa, anggota yang dulu paling keras membela Akar. "Dia bisa saja menghancurkan kita semua!"
"Bagaimana kita tahu dia tidak akan mengkhianati lagi?" tambah yang lain.
Rini berdiri di tengah, menunduk, menerima setiap kemarahan tanpa membela diri. Itu, lebih dari apa pun, yang membuat Nadine memutuskan.
"Berhenti," kata Nadine, dan ruangan terdiam. Ia melangkah ke tengah, berdiri di samping Rini. "Aku mau bertanya pada kalian semua. Berapa banyak dari kalian, ketika di Astra, pernah melakukan sesuatu yang kalian sesali demi bertahan? Berbohong tentang teman supaya tidak dicoret? Diam ketika seharusnya bicara? Menjilat Renata supaya dapat jadwal?"
Ruangan hening. Tidak ada yang mengangkat tangan, tapi tidak ada juga yang berani menatap mata Nadine. Karena jawabannya, bagi hampir semua, adalah ya.
"Sistem membuat kita begitu," lanjut Nadine. "Sistem yang memeras membuat orang baik melakukan hal buruk demi bertahan. Itu yang dilakukan Astra pada kita. Dan itu yang dilakukan Vertikal pada Rini." Ia menoleh pada Rini. "Dia tidak menjual kita karena jahat. Dia menjual kita karena Dimas mengancam adiknya, ibunya. Karena dia takut. Sama seperti kita semua dulu takut."
"Tapi dia tetap melakukannya," kata Sasa, meski suaranya melunak.
"Ya," kata Nadine. "Dan itu salah. Pengkhianatan tetap pengkhianatan, dan harus ada konsekuensi." Ia menatap Rini. "Kalau kita memaafkan tanpa konsekuensi, kita mengkhianati semua yang setia. Tapi kalau kita membuang tanpa belas kasih, kita jadi Astra yang baru."
Ia mengambil napas, dan keputusannya keluar — keputusan yang sudah ia timbang sepanjang malam.
"Rini, kamu dilepas dari tugas-tugas penting. Kamu tidak akan pegang kunci, tidak akan tahu rencana rahasia, untuk sementara. Kamu harus mendapatkan kembali kepercayaan, perlahan, lewat kerja. Tapi kamu tidak diusir." Nadine menatap seluruh ruangan. "Karena kalau kita usir Rini, kita memberi Dimas tepat apa yang dia mau: membuktikan bahwa solidaritas kita rapuh, bahwa kita bisa dipecah dengan menyusupkan satu orang yang terdesak. Aku menolak memberinya itu."
Lalu Nadine berlutut, menatap mata Rini langsung. "Tapi aku butuh sesuatu darimu. Kamu akan tetap berhubungan dengan Dimas. Kamu akan tetap berpura-pura jadi mata-matanya. Tapi mulai sekarang, kamu mata-mata kami di dalam Vertikal. Setiap informasi yang dia minta, kita yang menentukan apa yang dia dapat. Setiap pertanyaannya, jadi jendela bagi kita untuk tahu apa yang dia takutkan."
Rini menatapnya, air matanya mengalir lagi, tapi kali ini bercampur sesuatu yang lain. Harapan. Penebusan.
"Kenapa," bisiknya, "kenapa kamu percaya aku lagi setelah apa yang kulakukan?"
Nadine berdiri, dan ia tersenyum lelah. "Karena ibuku penjahit. Dan penjahit tahu satu hal yang tidak diketahui orang lain." Ia mengangkat gunting tua di tangannya, lalu jarum di tangan satunya. "Memotong itu mudah. Siapa saja bisa membuang kain yang rusak. Tapi menjahit kembali yang sudah robek — itu butuh kesabaran, butuh kepercayaan bahwa yang retak masih bisa jadi indah. Aku memilih jarum, bukan gunting."
Ruangan itu hening, lalu, satu per satu, ketegangan mencair. Sasa, yang paling keras menuntut Rini diusir, melangkah maju dan, dengan ragu, meletakkan tangan di bahu Rini. Itu bukan pemaafan penuh. Itu awal.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak Vertikal muncul, Akar tidak retak lebih jauh. Sebaliknya, sesuatu yang lebih kuat terbentuk dari luka itu — kolektif yang tahu bahwa kesetiaannya teruji bukan karena tidak ada pengkhianatan, tapi karena memilih menyembuhkan alih-alih membuang.
Dan di luar, dalam mobil hitam berkaca gelap, seseorang menunggu laporan Rini yang tidak akan pernah lagi jujur kepadanya.