Telepon itu datang pada hari kesepuluh, saat ayah Nadine sudah cukup kuat untuk duduk di beranda dan mengomeli cucunya tetangga yang memanjat pohon kelapa.
Vania, dari Jakarta. Suaranya tegang.
"Nadine, aku tidak mau mengganggu. Aku tahu kamu sedang menjaga ayahmu. Tapi ada sesuatu yang harus kamu tahu, dan kamu harus tahu dari aku, bukan dari berita."
Nadine berjalan menjauh dari beranda, ke tepi pantai, agar ayahnya tidak mendengar nada cemas dalam suaranya. "Ada apa, Vania?"
"Renata muncul lagi."
Nama itu menusuk masa lalu. Renata Wijaya. Direktur Talent Astra yang dulu menyebut tubuh model sebagai aset, yang mengancam dengan penalti Rp500 juta, yang kehilangan jabatan dan menghilang setelah Astra runtuh, bersumpah ini belum berakhir.
"Muncul di mana?"
"Di Vertikal," kata Vania. "Aku punya orang yang mengawasi gerak-gerik mereka — kamu tahu, sejak kasus Rini. Renata terlihat masuk kantor Vertikal tiga hari berturut-turut. Bukan sebagai tamu. Dia punya akses. Kartu, lift khusus, ruang rapat. Dia bekerja di sana sekarang, Nadine."
Nadine menatap laut, otaknya berputar cepat. "Renata bekerja untuk Vertikal. Tapi Vertikal selama ini mengaku agensi etis. Modern. Adil. Mereka memposisikan diri sebagai kebalikan Astra. Kenapa mereka merekrut wajah lama Astra yang paling dibenci publik?"
"Itu yang membuatku merinding," kata Vania. "Mereka tidak merekrutnya untuk tampil di depan. Mereka menyembunyikannya. Orangku bilang Renata selalu lewat pintu belakang, jam-jam sepi. Dia tidak ada di struktur resmi mana pun. Seolah dia dibawa diam-diam, untuk pekerjaan yang tidak boleh diketahui siapa pun."
Nadine merasakan dingin merayap di tengkuknya meski matahari pantai terik. Potongan-potongan mulai bergerak di kepalanya, mencari tempatnya. Renata, yang menyimpan dendam. Renata, yang tahu seluruh isi perut sistem Astra. Vertikal, yang berwajah etis. Dan di atas semuanya, dalang tak berwajah yang sudah mengikuti mereka dari Jakarta sampai Paris.
"Vania," kata Nadine pelan, "kalau Renata bekerja diam-diam untuk Vertikal... dan Vertikal selama ini menyerang kita lewat Dimas, lewat sabotase, lewat Rini... maka Renata tidak bekerja untuk dirinya sendiri. Dia tidak punya modal untuk membangun apa pun lagi. Dia jatuh, ingat? Dia kehilangan segalanya."
"Lanjutkan," kata Vania, dan Nadine bisa mendengar napas sahabatnya tertahan.
"Kalau Renata bekerja di Vertikal, dan Renata dulu cuma alat — penjaga gerbang yang dibayar untuk menjaga gerbang orang lain..." Nadine berhenti, dan kalimat itu keluar seperti es. "Maka orang yang sama yang dulu memiliki Astra di atas Renata, orang yang membuatnya menghilang lalu memanggilnya kembali — orang itu juga ada di balik Vertikal. Astra dan Vertikal bukan musuh yang berbeda. Mereka tangan kanan dan tangan kiri dari tubuh yang sama."
Hening di seberang telepon. Lalu Vania berbisik, "Sang dalang. Sosok yang lebih tinggi dari Renata. Investor berinisial yang kita buru sejak sidang Astra dulu."
"Dia memanggil Renata kembali," kata Nadine, dan untuk pertama kalinya sejak ia pulang ke desa, api perang itu menyala lagi di dalam dirinya, bercampur dengan ketakutan baru. "Dia mengumpulkan kembali alat-alat lamanya. Itu artinya dia bersiap. Bukan untuk bertahan. Untuk menyerang. Dan dia memilih sekarang — saat aku jauh dari Jakarta, saat aku lemah karena ayahku sakit."
Ia menengok ke belakang, ke arah beranda tempat ayahnya duduk di bawah matahari sore, tua dan ringkih namun hidup. Hatinya terbelah dua. Di sini ada ayahnya yang baru saja hampir ia kehilangan. Di sana ada Akar, teman-temannya, gerakan yang ia mulai, badai yang ia panggil sendiri lewat Lúmin.
"Aku belum bisa meninggalkan Bapak," kata Nadine, lebih kepada dirinya sendiri daripada pada Vania. "Tapi aku juga tidak bisa membiarkan kalian menghadapi ini sendirian."
"Kami tidak menyuruhmu pulang ke Jakarta sekarang," kata Vania tegas. "Jaga ayahmu. Itu lebih penting. Tapi kami butuh kepalamu. Dari jauh. Karena kalau dugaan kita benar, kalau Renata kembali karena dipanggil dalang yang sama..." Vania berhenti. "Maka tirai itu mulai terbuka, Nadine. Dan kita akhirnya akan melihat wajah di baliknya."
Nadine menutup telepon dan berdiri lama di tepi pantai, menatap laut yang dulu hampir merenggut ayahnya. Bayangan yang ia kira sudah tumbang di reruntuhan Astra ternyata hanya mundur, berkumpul kembali, menunggu saat ia paling rapuh.
"Biarkan dia datang," gumam Nadine, mengulang kata-kata lamanya. Tapi kali ini matahari sudah hampir terbenam, dan bayangannya sendiri terbentang panjang di pasir, gelap dan tak terhindarkan.