Renata Wijaya tinggal di sebuah apartemen kecil di pinggiran kota sekarang. Jauh dari gedung kaca dua belas lantai yang dulu jadi kerajaannya.
Nadine menemukannya tanpa pengawal, tanpa jas hitam yang dulu seperti baju zirah. Perempuan itu mengenakan kemeja sederhana, rambutnya yang dulu rapi tertata kini diikat asal. Wajahnya lebih tua dari yang Nadine ingat, seakan dua tahun terakhir menambah sepuluh tahun.
"Aku tahu kenapa kamu datang," kata Renata, membiarkan pintu terbuka. "Asistenku — Dewi — sudah menemuimu, kan."
Nadine tidak menyangkal. Ia masuk dan duduk di sofa yang sudah usang. Di dinding, tidak ada satu pun foto dari masa kejayaannya. Hanya kalender dan jam dinding yang berdetak terlalu keras.
"Kamu datang untuk minta aku bersaksi," lanjut Renata. "Melawan Tuan Wirakusuma."
"Ya."
Renata tertawa, pelan dan getir. "Kamu tahu apa yang lucu? Selama bertahun-tahun aku pikir akulah yang berkuasa. Aku yang menentukan siapa naik, siapa dicoret. Aku yang bicara soal aset dan investasi seakan aku raja." Ia menatap jendela. "Lalu aku jatuh, dan baru sadar aku tidak pernah punya apa-apa. Aku cuma penjaga gerbang yang dibayar untuk menjaga gerbang orang lain. Saat gerbangnya runtuh, dia tinggalkan aku di reruntuhan."
"Maka balas dia," kata Nadine.
"Dengan apa?" Renata berbalik. "Aku tidak punya bukti. Yang punya rekaman itu Dewi. Yang punya kesaksian itu para model. Aku? Aku cuma punya nama buruk. Kalau aku maju ke pengadilan, orang akan tertawa. 'Lihat, perempuan yang memeras anak-anak desa itu sekarang pura-pura jadi pahlawan.' Aku tidak akan dipercaya. Aku malah memberi Wirakusuma alasan untuk menggambarku gila pendendam."
Nadine diam sejenak. Ia mengerti. Renata bukan dalang. Renata hanya alat yang juga dimanfaatkan — sama seperti Dewi, sama seperti model-model yang dulu ia injak. Sebuah rantai eksploitasi di mana setiap orang menindas yang di bawahnya karena ditindas yang di atasnya.
"Bu Renata," kata Nadine pelan, dan untuk pertama kalinya ia tidak memanggilnya dengan nada takut atau benci, "kenapa Ibu dulu menatapku dari balkon? Malam-malam saat aku berlatih sendiri. Saya tahu Ibu memperhatikan."
Renata terkejut. Lama ia tidak menjawab.
"Karena kamu mengingatkanku pada diriku sendiri," akhirnya ia berkata, hampir berbisik. "Aku juga dulu anak kampung. Dari Cirebon. Aku juga dulu berlatih sendirian di tengah malam, bermimpi keluar dari kemiskinan. Bedanya," matanya berkaca, "aku menyerah pada sistem ini. Aku pikir kalau aku tidak bisa mengalahkannya, aku harus jadi bagiannya. Lalu pelan-pelan aku jadi monster yang dulu aku takuti." Ia menyeka matanya kasar. "Dan kamu... kamu tidak menyerah. Kamu yang seharusnya jadi aku, tapi kamu memilih jalan lain. Itu yang membuatku tidak tahan menatapmu. Karena kamu cermin dari diriku yang gagal."
Ruangan itu sunyi, hanya jam dinding berdetak.
"Saya tidak datang untuk menghakimi Ibu," kata Nadine akhirnya. "Saya datang karena saya butuh Ibu. Bukan karena Ibu suci, tapi justru karena Ibu tahu seluruh isi perut sistem itu. Tidak ada yang tahu Astra dan Wirakusuma seperti Ibu. Kesaksian Ibu kotor, ya. Tapi kebenaran sering datang dari mulut orang yang pernah berbohong."
Renata menatapnya lama. Lalu ia berkata, suaranya gemetar antara takut dan rindu pada sesuatu yang ia kira sudah mati di dalam dirinya: "Beri aku waktu. Aku... aku tidak janji. Tapi beri aku waktu."
Nadine berdiri. Di ambang pintu, ia menoleh. "Ibu masih punya pilihan, Bu. Itu yang Wirakusuma tidak mau Ibu ingat. Bahwa Ibu masih manusia, bukan boneka."
Renata tidak menjawab. Tapi saat pintu tertutup, ia memandang jam dinding yang berdetak terlalu keras itu, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia menangis tanpa malu.