Pagi itu hujan turun tipis di Jakarta, tapi gang kecil tempat kolektif Akar berkumpul justru sesak oleh orang. Nadine berdiri di ambang pintu, menggenggam cangkir teh yang sudah dingin, menatap puluhan wajah yang berbaris dari mulut gang sampai ke jalan besar. Bukan hanya anggota Akar. Ada model-model dari agensi lain, ada yang masih remaja dengan tas ransel sekolah, ada pula yang sudah berkerut di sudut mata, mantan model yang dulu dicoret dan diam selama bertahun-tahun.
"Mereka datang sejak subuh," kata Maya pelan, berdiri di sebelahnya. Rambut hitam pendeknya basah di ujung. "Sebagian naik kereta dari Bandung. Ada yang dari Surabaya."
Nadine menelan ludah. Sejak tempat Akar nyaris digusur dan komunitas turun tangan menyelamatkannya, sesuatu telah berubah. Cerita tentang kontrak tak adil, utang fiktif, dan tubuh yang diperlakukan sebagai aset bukan lagi rahasia yang dibisikkan di tangga darurat. Cerita itu sudah jadi milik banyak orang.
Seorang gadis maju, mungkin tujuh belas tahun, tinggi tapi kurus seperti ranting. Tangannya gemetar memegang selembar kertas. "Kak Nadine," katanya, "agensi saya bilang saya berutang dua ratus juta. Saya baru kerja delapan bulan." Suaranya pecah di kalimat terakhir. "Saya tidak tahu harus mengadu ke mana sampai saya baca cerita Kakak."
Nadine meletakkan cangkir tehnya. Ia turun dari undakan, berlutut di depan gadis itu, dan menerima kertas itu dengan dua tangan, seperti menerima sesuatu yang suci. Matanya cepat menyusuri angka-angka di slip itu — potongan pelatihan, akomodasi, komisi, denda yang tak masuk akal. Pola yang sama persis dengan yang dulu menjeratnya di Astra. Pola yang dibuat seragam, seolah dicetak dari satu mesin yang sama.
"Kamu tidak berutang apa-apa," kata Nadine, menatap mata gadis itu. "Yang kamu utang itu utang yang mereka karang. Dan kita akan buktikan itu di depan hukum."
Vania datang menerobos kerumunan, jas blazernya kontras dengan suasana gang. Sejak ayahnya — yang dulu jadi beban karena namanya dipakai mengancam — akhirnya berdiri di pihaknya, Vania bergerak dengan keyakinan baru. Ia membawa map tebal. "Nadine, ini gawat dalam arti baik," katanya. "Sudah ada tiga ratus lebih laporan masuk ke posko hukum Bu Laras. Dari dua belas kota. Ini bukan kasus Astra lagi. Ini industri."
Bu Laras, pengacara pembela buruh yang sejak awal membela mereka tanpa bayaran, muncul di belakang Vania. Kacamatanya berembun. "Aku sudah hubungi Kementerian Tenaga Kerja," katanya. "Mereka tidak bisa pura-pura tidak dengar lagi. Tiga ratus aduan dalam dua minggu — itu bukan lagi keluhan, itu alarm nasional."
Nadine berdiri perlahan. Ia memandang lautan wajah di gang itu, dan untuk sesaat ia tidak melihat model. Ia melihat anak nelayan, anak penjual sayur, anak guru honorer — orang-orang yang datang ke Jakarta membawa koper murah dan mimpi besar, lalu dijerat sebelum sempat berjalan di runway pertama mereka. Ia melihat dirinya sendiri, dua tahun lalu, turun dari bus oranye dengan koper berikat tali rafia.
"Kita perlu memberi ini nama," kata Madame Sylvia. Pelatih catwalk tua itu bersandar di tembok gang, lengannya terlipat, tapi suaranya tak lagi setajam dulu. Ada kelembutan di sana, kelembutan orang yang dulu juga dihancurkan oleh industri yang sama. "Selama bertahun-tahun mereka membuat kita malu untuk bicara. Mereka bilang ini risiko profesi. Mereka bilang kalau tidak kuat, jangan jadi model. Sudah waktunya kita ubah ceritanya."
"Bukan gerakan satu orang," kata Nadine. Ia menatap Maya, Vania, Kirana yang berdiri diam tapi mantap di pojok, lalu ke gadis tujuh belas tahun yang masih gemetar. "Bukan gerakan Nadine. Gerakan para model."
Kata-kata itu seperti percikan ke jerami kering. Seseorang di belakang mengangkat ponselnya, merekam. Malam itu juga, video Nadine berlutut menerima slip gaji seorang gadis di gang sempit Jakarta menyebar ke mana-mana. Tagar muncul, lalu berkembang biak. Bukan tentang glamor runway. Tentang angka-angka kejam di balik glamor itu.
Pukul sembilan malam, ponsel Bu Laras berdering. Ia mengangkatnya, mendengarkan, lalu menutup telepon dengan tangan sedikit gemetar.
"Itu dari sekretariat dengar pendapat publik," katanya, suaranya rendah. "Mereka memanggil. Komisi industri kreatif menggelar sidang besar. Mereka minta perwakilan model bersaksi." Ia menatap Nadine. "Mereka menyebut namamu, Nadine. Sebagai saksi utama."
Gang itu hening. Hujan tipis masih turun. Nadine merasakan ratusan pasang mata menatapnya, dan untuk pertama kalinya beban itu tidak terasa seperti rantai — terasa seperti tanggung jawab.
"Kapan?" tanya Nadine.
"Lusa lorong," kata Bu Laras. "Tapi ada satu masalah." Ia menarik napas. "Kabarnya Wirakusuma juga akan hadir. Dengan seluruh tim pengacaranya. Dan dia tidak datang untuk minta maaf."