Renata berjalan masuk dengan langkah pelan tapi pasti. Sepatunya menggema di lantai marmer. Selama berbulan-bulan ia menghilang setelah jatuh dari Astra; rumor bilang ia bekerja diam-diam untuk seseorang yang lebih tinggi. Sekarang ia berdiri di tengah ruangan dengar pendapat, dan untuk pertama kalinya Nadine melihat wajah Renata tanpa topeng dingin. Wajah itu lelah. Wajah orang yang sudah lama tidak tidur nyenyak.
"Saya minta izin bersaksi," kata Renata kepada komisi. Suaranya, yang dulu setajam pisau saat menilai tubuh Nadine, kini terdengar serak.
Di seberang ruangan, senyum Wirakusuma membeku. Hanya sepersekian detik, tapi Nadine menangkapnya. Pengacara Wirakusuma setengah berdiri. "Yang Mulia, saksi ini tidak terdaftar—"
"Komisi punya wewenang menerima saksi sukarela," potong ketua komisi. Ia menatap Renata dengan rasa ingin tahu. "Siapa nama Anda dan apa kapasitas Anda?"
"Nama saya Renata Wijaya. Selama enam tahun saya Direktur Talent di Astra Talent Agency." Ia berhenti. Tangannya terkepal di sisi tubuh. "Dan selama enam tahun itu, saya adalah tangan yang menandatangani kontrak-kontrak yang dibicarakan hari ini. Saya yang menimbang gadis-gadis itu. Saya yang menghitung utang yang tidak mereka pahami. Saya yang mengusir mereka yang beratnya tidak turun." Suaranya gemetar sekarang, tapi ia tidak berhenti. "Saya tahu persis bagaimana sistem ini dibuat. Karena saya bukan yang membuatnya. Saya hanya menjalankannya."
Ruangan meledak dalam bisik-bisik. Ketua komisi mengetuk palu.
Nadine menatap perempuan yang dulu mengancamnya dengan penalti lima ratus juta, yang menyuruhnya berbohong soal asal-usulnya, yang nyaris membuatnya menukar wajah dan kulitnya demi kontrak Lúmin. Ia merasakan banyak hal sekaligus — amarah lama, dan sesuatu yang lebih rumit, yang mungkin awal dari kasihan.
"Saudari Wijaya," kata seorang anggota komisi, "Anda menyiratkan bahwa sistem ini dirancang oleh orang lain. Siapa?"
Renata menoleh perlahan. Ia menatap lurus ke meja kayu mengkilap di seberang, ke arah pria berambut perak yang duduk dengan ketenangan yang dipaksakan.
"Astra bukan milik saya," kata Renata. "Saya hanya boneka. Vertikal juga bukan milik orang-orang yang namanya tertulis di akta. Itu boneka juga. Di balik keduanya, di balik selusin agensi lain di kota-kota yang Saudari Nadine sebut tadi, ada satu orang. Satu pemodal. Ia tidak pernah menandatangani apa pun dengan tangannya sendiri. Ia memakai nama orang lain, perusahaan cangkang, keponakan, sopir, siapa saja. Tapi keputusannya yang menentukan. Klausa yang sama di setiap kontrak — tiga puluh, dua puluh, empat puluh, utang berbunga — itu instruksinya. Saya menerima naskahnya langsung darinya, bertahun-tahun lalu."
Ia mengangkat tangan, dan menunjuk.
"Namanya Wirakusuma."
Untuk sejenak tidak ada suara di ruangan itu kecuali dengung lampu. Lalu pecah — wartawan berebut, kamera berdecak, kursi-kursi berderit. Pengacara Wirakusuma berteriak keberatan, suaranya tenggelam dalam keributan. Wirakusuma sendiri tetap duduk, dan untuk pertama kalinya senyum sopan itu lenyap dari wajahnya. Yang tersisa hanyalah kemarahan dingin yang membuat Nadine merinding.
Ketua komisi mengetuk palu berkali-kali sampai ruangan tenang. "Saudari Wijaya, ini tuduhan sangat serius. Apakah Anda punya bukti, atau ini hanya kesaksian lisan?"
Renata menelan ludah. "Saat ini, kesaksian saya. Tapi saya tahu di mana buktinya ada. Saya tahu nama-nama perusahaan cangkangnya. Saya tahu rekening mana yang dipakai. Dan saya tahu ada orang lain yang menyimpan rekaman." Matanya beralih ke arah Nadine, lalu ke barisan sekutu Nadine di belakang. "Saya datang terlambat. Saya tahu. Selama bertahun-tahun saya pikir saya tidak punya pilihan, bahwa kalau bukan saya yang menandatangani, orang lain yang akan melakukannya, dan saya akan kehilangan segalanya. Itu pengecut. Saya tahu sekarang." Ia menatap Nadine langsung. "Anak ini berani melakukan apa yang tidak pernah saya berani lakukan. Dan saya tidak ingin mati sebagai orang yang menghancurkan ribuan gadis demi gaji bulanan."
Saat sidang ditunda untuk istirahat, Nadine menghampiri Renata di koridor. Mereka berdiri berhadapan, dua perempuan yang dulu di dua sisi jurang.
"Kenapa sekarang?" tanya Nadine.
Renata memandangnya lama. "Karena aku lelah, Nadine. Dan karena waktu itu, di aula, saat kau bilang kau memilih jadi manusia bukan boneka—" Suaranya tercekat. "Aku selalu ingat kalimat itu. Aku tidak bisa berhenti mengingatnya."
Nadine tidak tahu harus berkata apa. Maka ia hanya mengangguk. Pengampunan, kalau itu yang akan datang, butuh waktu lebih lama. Tapi untuk hari ini, mereka berdiri di sisi yang sama.
Di ujung koridor, seseorang dari tim Wirakusuma mengamati mereka, lalu mengetik cepat di ponselnya.