Sidang dibuka kembali tiga hari kemudian, dan ruangan dengar pendapat itu lebih sesak dari sebelumnya. Wartawan berdiri sampai ke pintu. Di balkon, para model berdesakan, sebagian membawa karton bertuliskan tagar yang sudah jadi gerakan nasional. Di meja kayu mengkilap, Wirakusuma duduk dengan ketenangan seorang pemain catur yang yakin sudah menskak lawannya.
Ia tidak tahu bahwa semua bidaknya sudah lepas dari tangannya.
Ketua komisi mengetuk palu. "Sidang dilanjutkan. Komisi telah menerima sejumlah pengajuan bukti baru. Kami mulai."
Bu Laras berdiri. Suaranya jernih, tanpa beban. "Yang Mulia, sebelum kami menyajikan bukti, saya wajib menyampaikan satu hal. Dua belas tahun lalu saya melakukan kesalahan profesional dalam menangani sebuah perkara. Saya telah melaporkan diri saya sendiri ke organisasi advokat pagi ini." Ruangan bergumam. "Saya sampaikan ini agar jelas: tidak ada rahasia yang bisa dipakai untuk membungkam saya. Saya berdiri di sini sebagai orang yang sudah tidak punya yang bisa diancam."
Nadine melihat sudut bibir Wirakusuma berkedut. Kartu pertamanya baru saja terlepas.
Lalu maju ayah Vania — pria gempal berusia lima puluhan yang Nadine baru pertama kali lihat, wajahnya keras tapi matanya jujur. "Nama saya Hartono," katanya. "Ayah Vania. Tiga hari lalu saya menyerahkan diri ke kejaksaan atas pelanggaran pajak dan transaksi yang tidak benar dalam usaha saya. Saya akan menerima hukumannya." Ia menatap Wirakusuma langsung. "Dan saya menyampaikan ini supaya tidak ada lagi orang yang bisa menjual diam saya. Saya sudah membayar diam terlalu lama. Saya selesai."
Vania, di balkon, menangis. Tapi ia tersenyum.
Lalu Renata berdiri. Ia membawa kotak kardus, tidak besar, terlihat biasa, tapi tangannya gemetar saat mengangkatnya ke meja bukti. "Di kotak ini," katanya, "ada salinan kontrak-kontrak yang saya tandatangani selama enam tahun di Astra. Ada juga catatan instruksi yang saya terima — kepada siapa saya melapor, dari siapa naskah klausa berasal, rekening mana yang menampung potongan. Sebagian tulisan tangan." Ia menatap ke meja kayu mengkilap. "Tulisan tangan yang akan dikenali siapa pun yang pernah bekerja untuk Tuan Wirakusuma."
Pengacara Wirakusuma berdiri dengan wajah pucat. "Yang Mulia, keaslian dokumen ini—"
"Dapat diuji," potong Bu Laras tenang, "lewat uji forensik tulisan dan jejak rekening yang sudah kami serahkan ke penyidik. Tapi ada satu bukti lagi yang tidak bisa dibantah."
Madame Sylvia berdiri dari kursinya. Perempuan tua itu berjalan ke depan dengan martabat seorang yang dulu berjalan di runway Paris dan Milan. Ia meletakkan map tipis dan sebuah perekam suara model lama di meja.
"Tiga puluh tahun lalu," kata Sylvia, suaranya bergema di ruangan yang senyap, "saya model muda dengan masa depan cerah. Lalu seorang pemodal memutuskan saya terlalu sulit dikendalikan. Ia menghancurkan kontrak-kontrak saya, memasukkan saya ke daftar hitam di seluruh agensi yang ia kendalikan, dan menyebar fitnah sampai tidak ada satu pun rumah mode mau memakai saya. Saya pulang ke Indonesia sebagai orang yang patah. Saya mengajar catwalk selama tiga puluh tahun, menyimpan satu hal yang tidak pernah berani saya keluarkan." Ia menyentuh perekam itu. "Rekaman pertemuan, ketika ia sendiri yang memerintahkan penghancuran saya. Saya merekamnya diam-diam karena saya pikir suatu hari saya akan butuh. Saya menunggu tiga puluh tahun untuk hari ini."
Ia menekan tombol.
Lewat dengung pita lama, sebuah suara mengisi ruangan. Lebih muda, lebih garang, tapi tak salah lagi — beludru yang sama, dingin yang sama. *"Buat dia menghilang. Aku tidak peduli bagaimana. Kalau dia tidak bisa kukendalikan, dia tidak boleh berjalan di runway mana pun di dunia ini. Pastikan."*
Ruangan itu pecah. Bukan jadi keributan kali ini, tapi jadi keheningan yang lebih dahsyat — keheningan ratusan orang yang baru saja mendengar topeng beludru itu terkelupas.
Di meja kayu, Wirakusuma berdiri perlahan. Wajahnya tidak lagi tenang. Tidak lagi ramah. Yang tersisa hanya kemarahan tua, kemarahan seorang raja yang melihat takhtanya retak di bawah kakinya.
"Itu rekaman lama," katanya, suaranya retak untuk pertama kali. "Tiga puluh tahun. Tidak relevan dengan—"
"Sangat relevan," kata Nadine, berdiri dari kursi saksi. Ia menatap pria itu menyeberangi ruangan. "Karena ini menunjukkan satu hal, Pak. Bahwa Anda melakukan ini bukan setahun, bukan sepuluh tahun. Tiga puluh tahun. Satu generasi gadis-gadis yang Anda perlakukan seperti aset. Yang Anda timbang, bentuk, lalu buang." Suaranya jernih, mengisi seluruh ruangan. "Tulisan tangan Renata cocok dengan instruksi Anda. Rekening menuju ke perusahaan Anda. Suara Anda ada di rekaman itu. Semua benangnya bertemu di satu tangan." Ia berhenti. "Tangan Anda."
Wirakusuma membuka mulut. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tidak ada kata-kata halus yang datang.