Gedung itu dulunya gudang tekstil yang terbengkalai di pinggiran Jakarta—atap seng tinggi, tembok bata merah, jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya masuk berlimpah. Sekarang, enam bulan setelah Akar mendapat hibah dari koalisi Bu Anjani dan beberapa donor yang tergerak oleh gerakan kontrak adil, gudang itu menjelma menjadi sesuatu yang dulu hanya ada dalam mimpi Nadine: sebuah sekolah model gratis.
"Sekolah Catwalk Akar," baca Vania, menatap papan nama yang baru dipasang di atas pintu. "Kedengarannya nyata sekarang, ya."
Hari itu hari pembukaan. Dari pagi, bus-bus dan kereta membawa anak-anak dari berbagai daerah—Nusa Tenggara, Sulawesi, pedalaman Kalimantan, desa-desa pesisir yang namanya bahkan tidak ada di peta wisata. Anak-anak dengan koper murah, dengan logat yang kental, dengan mata yang Nadine kenali seperti melihat dirinya sendiri bertahun-tahun lalu. Empat puluh anak terpilih dari ribuan pendaftar. Tidak ada biaya. Tidak ada kontrak yang menjebak. Hanya pelatihan, asrama yang layak, dan janji bahwa mereka akan diajari bukan hanya cara berjalan di runway, tapi cara melindungi diri dari orang-orang yang ingin memangsa mereka.
Nadine berdiri di depan empat puluh anak itu di aula utama. Madame Sylvia berdiri di sampingnya—rambutnya kini sepenuhnya putih, tapi punggungnya masih setegak penari, dan tatapannya masih bisa membuat seorang model pemula menelan ludah. Sylvia telah setuju menjadi kepala pelatih catwalk sekolah ini, tugas terakhir dan terbaik dalam hidupnya yang panjang.
"Sebelum kalian belajar berjalan," kata Sylvia kepada anak-anak itu, suaranya menggema di gudang tinggi, "kalian harus belajar berdiri. Dan berdiri bukan soal punggung yang tegak. Berdiri itu soal tahu siapa diri kalian sebelum dunia mencoba memberitahu kalian siapa yang seharusnya kalian jadi."
Seorang anak laki-laki—karena ya, sekolah ini menerima laki-laki juga, sesuatu yang akan membuat Renata yang lama tercengang—mengangkat tangan. "Bu, saya dari kampung. Logat saya aneh. Apa saya harus menghilangkannya?"
Nadine maju selangkah sebelum Sylvia bisa menjawab. Ia berlutut di hadapan anak itu agar setara dengan tingginya. "Namamu siapa?"
"Yusran, Bu."
"Yusran, dengar baik-baik." Nadine berbicara cukup keras agar semua mendengar. "Sepuluh tahun lalu, seorang perempuan menyuruhku mengaku berasal dari Bandung. Ia menyuruhku menyembunyikan bahwa aku anak nelayan. Ia menyuruhku malu pada desaku, pada kulitku, pada wajahku, pada cara aku bicara." Ia berhenti, membiarkan kata-kata itu menggantung. "Aku hampir percaya padanya. Hampir. Dan aku berjanji pada diriku, kalau aku pernah berdiri di posisi mengajar, aku tidak akan pernah menyuruh anak siapa pun menghapus dari mana ia berasal." Ia menatap mata Yusran. "Logatmu itu bukan cacat. Itu petamu. Itu yang membuatmu kamu. Jangan pernah hilangkan."
Aula itu hening, lalu pecah dalam tepuk tangan yang dimulai dari anak-anak dan menjalar ke para sukarelawan, pelatih, dan orang tua yang berdiri di belakang.
Hari itu panjang dan melelahkan. Kirana mengajari kelas pertama tentang membaca kontrak. Maya memimpin lokakarya tentang menjaga kesehatan tubuh tanpa kelaparan ekstrem yang dulu mereka alami—penimbangan bukan sebagai senjata, melainkan sebagai kepedulian. Vania mengajar tentang negosiasi, tentang berani berkata tidak. Pak Bram datang membawa kamera tuanya dan mengajari anak-anak bahwa kamera tidak menyukai kesempurnaan, kamera menyukai kejujuran.
Saat senja, ketika anak-anak sudah masuk ke asrama dan gudang itu kembali sunyi, Nadine berdiri sendirian di tengah aula. Ia menatap runway latihan yang baru dibangun—sederhana, kayu, tanpa lampu mewah. Tapi baginya itu panggung paling penting yang pernah ia injak.
Madame Sylvia menghampirinya, membawa dua gelas teh. "Kau tahu," kata Sylvia, "saat aku berhenti dari panggung internasional, aku pikir hidupku sudah berakhir. Aku pikir aku hanya akan jadi pelatih tua yang pahit di agensi yang membenciku." Ia menyerahkan satu gelas pada Nadine. "Aku tidak pernah menyangka panggung terbesarku justru di sebuah gudang di pinggir Jakarta, mengajari anak-anak yang namanya bahkan tidak diketahui dunia."
"Mereka akan diketahui," kata Nadine, menatap runway kayu itu. "Suatu hari nanti."
"Beberapa dari mereka, ya," kata Sylvia bijak. "Dan yang lainnya akan pulang dan membuka sekolah mereka sendiri di desa mereka sendiri. Dan begitulah seharusnya. Bukan tentang membuat bintang. Tentang membuka pintu." Ia menyesap tehnya. "Kau membuka pintu, Nadine. Itu warisan yang lebih besar daripada sampul majalah mana pun."
Ponsel Nadine bergetar. Sebuah email, dari sebuah alamat yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat: kantor pusat Lúmin Paris. Subjeknya hanya satu kalimat.
*Kami punya proposal. Bukan untuk mengubahmu. Untuk membiarkan dunia melihat Indonesia melalui matamu.*