Makam ibunya terletak di pemakaman desa di Pasir Putih, di atas bukit kecil yang menghadap laut. Nisannya sederhana, batu kapur yang sudah ditumbuhi lumut tipis, dengan nama yang hampir terhapus oleh angin laut yang asin selama bertahun-tahun. Nadine berlutut di depannya, dan untuk waktu yang lama ia tidak bisa berkata apa-apa.
Ia datang sendiri. Tidak ada kru, tidak ada kamera, tidak ada model Akar. Hanya ia, sehelai kain putih untuk membersihkan nisan, sebuket bunga melati yang ia beli dari seorang nenek di pelabuhan, dan sepucuk surat yang ia tulis tangan di pesawat dengan air mata yang berkali-kali ia hapus.
"Bu," akhirnya ia berkata, suaranya hilang ditelan deru ombak di kejauhan. "Maaf aku lama sekali."
Angin laut membelai rambutnya, membawa bau garam dan ikan yang sama yang mengisi masa kecilnya. Di kejauhan, ia bisa melihat perahu-perahu nelayan keluar untuk melaut sore, titik-titik kecil di garis cakrawala. Salah satunya mungkin perahu ayahnya.
Nadine membersihkan nisan itu pelan, mengusap lumut dari huruf-huruf nama ibunya, sampai nama itu kembali terbaca jelas. Lalu ia membuka suratnya dan membacanya keras-keras, karena ia ingin ibunya mendengar, di mana pun ia berada.
"Bu, aku ingat tanganmu," ia memulai. "Tanganmu yang selalu berbau benang dan kain. Aku ingat caramu memegang gunting, caramu mengukur kain dengan sehelai benang yang kau rentangkan dengan tanganmu. Aku tidak sadar saat itu bahwa kau sedang mengajariku. Aku pikir aku cuma main-main di sampingmu sambil menontonmu menjahit baju pesanan tetangga." Suaranya bergetar. "Tapi semua yang kau ajarkan menyelamatkan hidupku, Bu. Saat gaun pemotretanku rusak dan aku tidak punya ganti, tanganku ingat apa yang tanganmu ajarkan. Aku menjahit, aku memotong, aku menciptakan sesuatu dari kain yang tersisa. Mereka bilang itu bakat. Tapi aku tahu itu kau. Itu selalu kau."
Air matanya jatuh ke surat itu, menodai tintanya, tapi ia terus membaca.
"Mereka pernah menawariku miliaran rupiah, Bu, untuk mengubah wajah ini. Untuk memutihkan kulitku, untuk mengubah hidungku, tulang pipiku." Ia mengusap tulang pipinya sendiri, tulang pipi yang sama dengan ibunya, tulang pipi yang dulu dipuji direktur talent sebagai "tidak bisa diajarkan." "Mereka tidak tahu apa yang mereka minta. Mereka memintaku menghapus wajahmu. Karena wajah ini wajahmu, Bu. Setiap kali aku bercermin, aku melihatmu. Bagaimana aku bisa menghapus satu-satunya bagian darimu yang masih kumiliki?"
Ombak memecah di bawah bukit, ritmenya tenang, abadi.
"Aku menolak mereka, Bu. Aku menolak semuanya. Dan aku takut—Tuhan, aku takut sekali saat itu. Aku pikir aku menghancurkan hidupku sendiri. Tapi ternyata, dengan menolak menjadi orang lain, aku justru menemukan diriku." Ia tersenyum di sela tangisnya. "Sekarang wajah ini—wajahmu—ada di billboard di seluruh dunia. Paris, New York, Tokyo. Bukan karena wajah ini diubah jadi sempurna. Tapi justru karena wajah ini apa adanya. Karena wajah ini jujur. Karena wajah ini punya akar." Ia berhenti. "Kau ada di seluruh dunia sekarang, Bu. Tanpa pernah meninggalkan desa ini."
Nadine duduk di samping nisan itu sampai matahari mulai turun, mewarnai laut keemasan, lalu jingga, lalu merah. Ia menceritakan semuanya pada ibunya seperti seorang anak yang pulang dari perantauan panjang. Tentang Maya yang setia, tentang Vania yang berubah, tentang Kirana yang akhirnya bicara, tentang Renata yang akhirnya menebus dosanya, tentang sekolah yang ia dirikan, tentang anak-anak dengan logat dari segala penjuru. Tentang Wirakusuma yang tumbang. Tentang undang-undang yang kini melindungi ribuan model dari nasib yang hampir merenggutnya.
"Aku tidak menjadi boneka, Bu," bisiknya saat langit hampir gelap. "Aku tetap jadi manusia. Anakmu. Anak nelayan dari Pasir Putih. Aku tidak pernah lupa siapa diriku—seperti yang selalu Bapak bilang, seperti yang kau ajarkan tanpa kata-kata lewat tanganmu yang menjahit."
Ia menanam gunting jahit tua milik ibunya—jimat yang selalu ia bawa—di samping nisan itu, lalu mengubahnya. Tidak, ia memutuskan untuk menyimpannya. Ibunya pasti ingin gunting itu terus dipakai, terus menciptakan, terus hidup di tangan-tangan yang akan datang. Ia menggenggamnya erat dan berdiri.
"Aku akan kembali lagi, Bu," janjinya. "Tidak akan selama ini lagi."
Saat ia menuruni bukit dalam cahaya senja terakhir, ia melihat sosok yang dikenalnya berdiri di kaki bukit, menunggunya. Ayahnya. Punggungnya semakin bungkuk, rambutnya semakin putih, tapi senyumnya sama hangatnya seperti hari ia melepas Nadine ke bus oranye bertahun-tahun lalu.
"Bapak," panggil Nadine, dan ia berlari—bukan dengan langkah model di runway, tapi dengan langkah seorang anak desa yang pulang.
"Ada sesuatu yang ingin Bapak tunjukkan padamu," kata ayahnya, memeluknya erat. "Di pantai. Sesuatu yang sudah lama Bapak simpan untukmu."