"Bang, bang! Kayaknya Afa lihat Pak Afriz deh." Kejar Afa pada kakaknya yang berjalan lebih cepat melewati lorong sekolah mereka yang baru.
"Pak Attar Afriz anaknya ustadz Zain?" Tanya Safeer mengingat guru ngajinya itu dulu sering di gantikan oleh anaknya.
"Iya, yang mamanya pernah jadi mantannya papa." Jawab Afa seolah itu bukan lagi hal yang perlu di tutupi.
Tentu saja Safeer yang tak tahu menahu tentang hal itu langsung menoleh cepat pada sosok gadis di sampingnya yang malah tenang-tenang saja.
"Kenapa?" Tatap Afa bingung dengan raut terkejut kakaknya.
"Kamu dapat hoax dari mana? Kabar begitu?" Serunya pada sang adik.
"Yaaah, abang ketinggalan berita sih, itu bukan hoax bang, It's real." Jawab Afa yakin dengan ucapannya.
"Jadi itu yang kamu dapat kalau pulang dari masjid?" Jawab Safeer tidak suka dengan hal yang baru saja didengar.
"Ck, ya gak gitu juga kali Bang!, mama tuh kalau ketemu ustadzah Sarah sering ngomel ngomel sendiri. Pas Afa tanya eh mama cerita tetang mantannya Papa yang dulu ngajak balikan pas Mama lagi hamil abang."
Cerita Afa panjang lebar tanpa ada rasa canggung sedikitpun menceritakan masa lalu orang tuanya.
"Kok aku gak tau?" kata Safeer mulai mempercayai ucapan sang adik.
"Yee, Abang mana peka sama hal gituan." Ledek Afa tanpa sesal.
Safeer mengacak dengan gemas kepala adiknya yang tertutup hijab putih. Ia bahkan tak begitu memperdulikan masa lalu kedua orang tuanya.
"Kita gak langsung masuk kelas Bang?"
"Kamu yang langsung masuk kelas. Abang musti ke kepala sekolah dulu. Udah sana!" Perintah Safeer sedikit mendorong punggung adiknya memasuki kelas. Setelahnya ia melanjutkan perjalanan menuju ruangan kepala sekolah.
***
Safeer dengan sopan memasuki ruangan kepala sekolah yang sudah duduk seorang lelaki paruh baya menunggunya.
Dengan singkat ia menjelaskan indentitas dirinya dan alasnya pindah sekolah. Pak kepala sekolah pun hanya mengangguk menerima penjelasan Safeer yang tak ada masalah.
Sesaat kemudian, pintu di ketuk dan datanglah seorang siswi dengan hijab dan seragam muslimah berwarna putih abu-abu.
"Namanya Syafa, dia akan mengantarmu keliling sekolah sebelum kamu memulai pelajaran" kalimat yang keluar dari lelaki paruh baya yang menjabat sebagai kepala sekolah itu, diangguki Safeer dengan patuh.
"Aku Safeer." Dengan ragu Safeer mengulurkan tangan kananya ingin berkenalan.
"Syafa." Ucapnya selang beberapa lama. Bukan karena ia tak mau menyentuh lawan jenis. Namun Syafa pada akhirnya tetap menanggapi uluran tangan Safeer untuk berjabat tangan karena ia malu. Malu tapi mau. Ah, siapa coba yang mampu menolak bersalaman dengan laki laki setampan Safeer.
Syafa terpesona. Menurutnya, Safeer adalah nama yang indah. Karena setahunya, Safeer adalah nama dari sebuah batu mulia. Tapi, bukan hanya itu. Syafa cukup mengagumi betapa indah pemandangan di depanya. Mungkin melebihi keindahan batu Safeer itu sendiri.
Sedangkan Safeer hanya tersenyum kikuk saat berkenalan dengan teman barunya. Tak ada hal lain yang membuatnya tertarik.
Kini di sampingnya telah berjalan seorang gadis cantik yang sedang menunjukkan beberapa arah menuju kantin dan juga toilet padanya.
Tidak seperti adiknya yang akan mengenali sekolah melalui MOS, Safeer memang membutuhkan petunjuk itu karena tak memungkinkan iya mengikuti MOS seperti kelas X.
"Kamu kelas berapa?" Tanya Safeer yang masih mengikuti langkah gadis di depanya.
"Kita sekelas. Makanya pak Kepsek meminta saya untuk menemanimu. Setelah ini aku akan nunjukin kelas kita." Jawabnya dengan senyum manis yang tentu saja Safeer tak akan memungkiri kecantikan gadis itu. Namun tetap saja, itu sama seperti kecantikan kecantikan yang sering ia jumpai di sekolahnya dulu.
Tak banyak yang berbeda. Selain teman-teman dan guru baru, Safeer tak merasa harus keberatan dengan pola pelajaran di sekolah barunya. Meski cara mengajar di sekolah lama lebih efektif. Memang sih, beradaptasi dengan tempat baru itu gak mudah. Namun bagi Safeer ia tak keberatan. Apalagi itu semua demi sang ibu dan sang adik yang sangat ia cintai.
Dan seperti biasa, Safeer akan memilih jam istirahat pertama untuk makan siang. Meski jam setengah sepuluh itu masih dikatakan pagi. Karena jam istirahat kedua akan ia gunakan untuk shalat Dhuhur.
"Sory." Safeer mendongak menatap gadis yang terburu-buru keluar kelas Dan menabrak bahu kirinya. Safeer hanya menanggapi dengan anggukan kepala, lantas mengamati gadis yang buru-buru pergi itu. Dan menurut safeer gadis itu bukan menuju kantin karena arahnya berlawanan. Bahkan Safeer tak tau siapa gadis yang baru saja keluar dari kelasnya.
Safeer memandang dan cukup tertarik dengan sikap gadis yang buru-buru melewatinya. Namun akhirnya ia mengendikan bahu acuh dan segera pergi ke kantin.
Safeer memilih tempat sendiri untuk menghabiskan makanan yang ia pesan. Sambil mengedarkan pandangan ke seluruh pelosok kantin. Meneliti apa yang menarik di sini. Namun semua sama saja. Sebelum pada akhirnya seseorang datang dan duduk di sampingnya.
"Dia gadis yang cantik bukan?" Safeer mendongak mengikuti pandangan seorang laki-laki yang kini duduk di sampingnya. Ternyata Petra. Teman sebangkunya. Lalu safeer tahu ia tengah memandangi Syafa yang tengah bersenda gurau dengan teman-temanya.
"Iya. Cantik." Sahut Safeer jujur.
"Dia primadona di sini"
" Benarkah?" Seolah terkejut namun sebenarnya Safeer tak begitu peduli dengan pembahasan tersebut.
"Iya, tapi jangan deket-deket dengannya!" Masih tak begitu tertarik, karena Safeer juga tak ingin mendekati siapapun di sini. Tujuannya hanya belajar dan menjaga sang adik.
"Kenapa?" Tanya Safeer sok peduli. Ia tak ingin di anggap sombong.
"Selain karena ia anak ketua yayasan, Ahsand sangat menyukainya."
"Ahsand?"
"Anak kepala sekolah" jawab Petra yang hanya mendapat jawaban 'oh' dari mulut Safeer.
Safeer malah terkekeh mendengar cerita temanya itu. Sama saja kan? Di sekolah manapun memang pasti ada yang menonjol ada pula yg tak terlihat. Dan Safeer putuskan untuk menjadi murid yang tak terlalu menonjol seperti saat dirinya di Jakarta yang bukan cuma menonjol karena prestasi. Ia anggota band, dan tentu saja di sana semua temanya tahu siapa keluarganya.
Di sekolah yang lama Safeer disegani banyak temanya. Meskipun ia sering bersikap dingin. Tetap saja ia adalah primadonanya.
"Oh ya Petra, ekstrakurikuler agama di sini apa saja?" Tanya Safeer mengalihkan pembicaraan.
"Ekstrakurikuler agama? Seperti mengaji maksud kamu?"
"Iya, apakah ada?" Harusnya Safeer tak perlu menanyakan ini. Tentu saja. Ini kan Madrasah Aliyah. Bukan SMU seperti sekolahnya dulu.
"Ya, beberapa murid yang dites dan belom lancar membaca Alqur'an akan diwajibkan mengikuti les mengaji." Jawab Petra singkat. "Kalau aku sih gak ikut. Aku sudah lancar soalnya." Tambah Petra bangga pada dirinya.
"Kalau seperti mendalami ilmu hadist seperti kitab Tahrir, Bullugul Marom dan sejenisnya?"
"Itu masuk dalam pelajaran pagi kali, kamu dari SMA ya? Tapi kok tahu pelajaran kayak gitu?" Tanya Petra penasaran.
"Dari guru ngaji gue."
"Ooh, gitu. Oh ya, lihat dia!" Petra menunjuk seorang gadis yang baru saja memasuki kantin. Gadis yang tadi menabrak Safeer saat mau ke kantin. "Kamu coba tanya sama dia. Namanya Feera, dia mengikuti semua ekstra kurikuler sore." Tambah Petra di sela sela makanya.
Safeer mengamati Feera dengan seksama. Ia itu gadis yang tadi terburu buru saat mendengar bel istirahat. "Ok, trimakasih. Nanti gue tanya ke dia." Jawab Safeer mengakhiri.