Damar tidak menutup telepon. Tangannya bergerak pelan ke arah laptop, jari menekan tombol rekam pada aplikasi yang sudah ia siapkan berhari-hari lalu — justru untuk momen yang tak ia kira akan datang seperti ini. Lalu ia memberi isyarat ke Arini, yang langsung mendekat tanpa suara, menempelkan telinga.
"Pak Wirananta," kata Damar, menjaga suaranya tetap rata. "Saya kira Bapak terlalu sibuk lari untuk menelepon."
Tawa kecil di seberang. Tawa orang yang terbiasa memegang kendali. "Lari itu kata yang kasar. Saya cuma sedang mengatur jarak. Dari sini saya bisa melihat semuanya lebih jernih. Termasuk Anda, anak muda. Saya sudah lama mengikuti pekerjaan Anda. Dari awal. Dari laporan kecil yang Anda susun tentang piutang Cakrawala."
"Yang Bapak coba kubur dengan suap, lalu dengan pistol."
"Itu Salim." Suara Wirananta tak berubah, tetap halus seperti sutra. "Salim selalu memilih jalan yang kasar. Saya orang bisnis, Damar. Saya percaya semua masalah pada akhirnya adalah soal harga. Dan saya menelepon untuk membicarakan harga."
Damar menatap Arini. Arini mengangguk, satu kali — biarkan dia bicara.
"Saya dengarkan," kata Damar.
"Anda berbakat. Mata Anda luar biasa. Bumi Sentosa menyia-nyiakan Anda dengan gaji recehan." Wirananta seperti sedang menawarkan posisi kerja, bukan menyelamatkan dirinya dari penjara. "Sekarang Anda berdiri di tengah sesuatu yang jauh lebih besar dari yang Anda kira. Dan Anda pikir Anda sedang menang. Anda tidak menang, Damar. Anda cuma sedang membuat banyak orang berkuasa sangat tidak nyaman. Orang-orang yang tidak akan pernah diadili. Mereka akan membiarkan saya tumbang, mungkin. Tapi mereka akan memastikan Anda tumbang lebih dulu."
"Bapak menelepon untuk mengancam saya?"
"Saya menelepon untuk menyelamatkan Anda." Jeda. "Tarik kesaksian Anda. Katakan dokumen itu tak bisa Anda jamin keasliannya. Anda tidak perlu berbohong total — cukup ragu. Cukup berkata bahwa Anda 'tidak yakin'. Sisanya akan runtuh dengan sendirinya. Sebagai gantinya, ada angka yang saya siapkan untuk Anda. Bukan tiga kali gaji seperti yang Salim tawarkan dulu. Saya bicara tentang angka yang membuat Anda dan keluarga Anda tidak perlu memikirkan uang lagi, sampai tujuh turunan. Rekening di luar, atas nama yang tak bisa dilacak. Hidup baru. Di mana pun Anda mau."
Damar memejamkan mata. Ia merasakan beratnya tawaran itu — bukan godaannya, tapi keangkuhannya. Wirananta benar-benar percaya bahwa semua orang punya harga, bahwa dunia hanyalah pasar tempat segala sesuatu, termasuk keadilan dan nyawa Gunawan, bisa diberi label harga dan ditukar.
"Pak Wirananta," kata Damar perlahan. "Boleh saya tanya satu hal?"
"Tentu."
"Gunawan. Auditor Bapak. Berapa harganya?"
Hening di seberang. Hening yang panjang, yang lebih banyak bercerita daripada kata apa pun.
"Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan," kata Wirananta akhirnya, suaranya untuk pertama kali sedikit lebih dingin.
"Bapak tahu. Mobilnya masuk jurang. Rem blong. Baru servis dua minggu. Seminggu sebelum dia melapor." Damar membuka matanya. "Saya cuma ingin tahu, sebelum saya menjawab tawaran Bapak — apakah dalam angka yang Bapak siapkan untuk saya, sudah termasuk biaya untuk membuat saya juga masuk jurang nanti, setelah saya tidak berguna lagi? Karena begitu cara Bapak, kan? Bayar untuk diam. Lalu hilangkan yang tahu."
Suara Wirananta berubah total sekarang. Kesabaran yang halus itu mengelupas, dan di baliknya ada sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih keras.
"Anda anak yang pintar tapi bodoh, Damar," katanya. "Saya memberi Anda jalan keluar. Satu-satunya jalan keluar. Orang-orang menolak tawaran saya sebelumnya. Anda tahu di mana mereka sekarang? Tidak di mana-mana. Mereka tidak ada di mana-mana." Jeda. "Pikirkan orang tua Anda di kampung. Pikirkan betapa mudahnya sebuah kecelakaan terjadi di jalan desa yang sepi."
Damar mencengkeram tepi meja. "Terima kasih, Pak Wirananta."
"Untuk apa?"
"Untuk menelepon." Damar menatap indikator merah di layar laptop yang masih menyala. "Untuk semuanya."
Ia menutup telepon.
Arini menatapnya, napasnya tertahan. "Kau merekam semua?"
Damar menekan stop. Di layar, file audio tersimpan: penawaran suap, dan ancaman terhadap orang tuanya, dari mulut otak utama skema Ponzi triliunan, dengan suaranya sendiri.
"Semuanya," kata Damar. Tapi tangannya gemetar. Bukan karena suap. Karena kalimat terakhir itu — jalan desa yang sepi.