Kabar bahwa Salim mulai berbicara bocor lebih cepat daripada yang siapa pun perkirakan.
Wibowo menduga ada celah di dalam—seseorang di tahanan, atau di kejaksaan, atau di antara para pengacara yang silih berganti menemui Salim, yang masih melapor ke jaringan. Mereka belum sempat menemukan siapa. Dan mereka kehabisan waktu.
Pukul dua dini hari, telepon Damar berdering di rumah aman. Suara Wibowo, terengah. "Salim. Mereka mencoba menghabisinya. Di tahanan. Baru saja."
Damar duduk tegak di kegelapan. "Dia—"
"Hidup. Tipis sekali." Wibowo menarik napas. "Seorang tahanan lain. Dipindahkan ke blok yang sama tiga hari lalu, lewat surat perintah yang ternyata palsu. Membawa sesuatu yang diselundupkan. Menyergap Salim saat sipir berganti jaga. Untung ada sipir yang—entahlah, masih bersih, masih waras—curiga dengan perpindahan itu dan memeriksa lebih awal. Mereka menggagalkannya beberapa detik sebelum terlambat."
Damar menutup matanya. "Wirananta."
"Tidak ada bukti tertulis. Belum. Tapi siapa lagi?" Suara Wibowo mengeras. "Dengar, Damar. Ini justru membuka segalanya. Selama ini Salim ragu—setengah menawar, setengah masih setia. Tapi setelah malam ini—"
"Surat perintah palsu itu," potong Damar, otaknya sudah berputar meski jam dua dini hari. "Itu kuncinya, Pak. Tahanan tidak bisa dipindahkan tanpa tanda tangan. Siapa pun yang meneken perpindahan itu—dia orang dalam. Dia masih aktif. Periksa siapa yang memproses surat itu. Itu jejak yang tidak bisa mereka hapus."
Hening sejenak di seberang. Lalu Wibowo, pelan, "Kamu benar. Astaga. Bahkan jam segini otakmu jalan." Ia menarik napas. "Aku kejar dari situ. Kamu—datanglah pagi. Salim minta kamu. Dia bilang cuma mau bicara di depanmu."
Damar mengakhiri panggilan dan duduk di tepi ranjang dalam gelap, jantungnya berdetak keras. Bukan karena takut. Karena untuk pertama kalinya ia merasakan tanah bergeser di bawah kaki musuh-musuhnya. Salim, yang selama ini batu, akhirnya retak. Dan retakan itu, ia tahu, akan merambat sampai ke seberang lautan.
Esok paginya, Damar ikut ke tahanan bersama Wibowo. Salim terbaring di ranjang klinik penjara, satu lengannya diperban, wajahnya lebih pucat dari sebelumnya. Tetapi matanya, ketika terbuka dan menemukan Damar, tidak lagi menghitung. Untuk pertama kalinya sejak Damar mengenalnya, mata itu hanya menyala dengan satu hal: kemarahan murni.
"Dia," kata Salim, suaranya serak. "Dia mengirim orang. Setelah semua yang saya kerjakan untuknya. Setelah setiap urusan kotor yang saya bersihkan, setiap tangan yang saya kotori supaya tangannya tetap bersih." Ia tertawa, pahit, tertahan karena luka di sisi tubuhnya. "Tiga puluh tahun, Mas Damar. Tiga puluh tahun saya jadi tangan yang membersihkan. Dan begitu saya jadi risiko, dia memperlakukan saya persis seperti dia memperlakukan Gunawan. Sebuah angka yang harus dirapikan."
Damar berdiri diam. Ia tidak merasa puas. Ia tidak merasa menang. Ia hanya melihat seorang lelaki yang seluruh hidupnya melayani kebohongan, akhirnya ditelan oleh kebohongan itu sendiri.
"Anda mau apa sekarang, Pak Salim?" tanya Damar pelan.
Salim menoleh padanya. "Saya mau dia ikut tenggelam." Suaranya datar, mengerikan dalam ketenangannya yang kembali. "Semua yang saya tahu. Setiap rekening. Setiap nama pejabat di daftar itu. Setiap perintah yang dia ucapkan dan dia kira tidak ada saksinya. Cara dia memindahkan uang. Tempat dia bersembunyi sekarang." Ia menatap Wibowo. "Saya akan beri kalian Wirananta. Bukan karena saya menyesal. Saya tidak menyesali apa pun. Tapi karena kalau saya harus tenggelam, saya tidak akan tenggelam sendirian sementara dia berenang."
Wibowo dan Damar bertukar pandang. Loyalitas jaringan yang selama berbulan-bulan tampak tak tertembus—suap, intimidasi, pembunuhan, semua direkatkan oleh rasa takut dan uang—akhirnya retak total dari dalam. Bukan oleh hukum. Bukan oleh tekanan publik. Tetapi oleh pengkhianatan Wirananta sendiri terhadap orang yang paling setia padanya.
"Ada syarat," kata Salim, sebelum mereka sempat lega. "Saya tidak bodoh. Begitu saya bicara, saya jadi mayat berjalan. Saya mau dipindahkan. Pengamanan penuh. Dan saya mau pengacara saya sendiri diawasi—saya tahu salah satu dari mereka yang masih lapor ke jaringan." Ia tersenyum tipis, lelah. "Lucu, ya. Dulu saya yang menutup mulut orang. Sekarang saya yang takut mulut saya ditutup."
"Siapa pengacara yang melapor itu?" tanya Wibowo cepat.
Salim memejamkan mata. "Nanti. Satu per satu. Saya jual informasi saya seperti dulu saya menjaga rahasia—dengan harga, dengan urutan, dengan hati-hati. Itu satu-satunya cara saya tetap hidup cukup lama untuk berguna bagi kalian."
"Tempat dia bersembunyi," kata Damar pelan. "Anda tahu persisnya?"
Salim mengangguk lemah. Dan ketika ia menyebutkan nama negara, lalu nama kota, lalu detail-detail kecil yang hanya diketahui seseorang yang pernah mengurus pelariannya—Damar tahu, untuk pertama kalinya sejak Wirananta menghilang dari rumah dan kantornya, jaring itu mulai punya tepi yang nyata. Otak yang tak tersentuh itu, akhirnya, punya alamat.