Salim bersaksi pada hari yang dingin, ruang sidang lebih padat dari hari mana pun. Ketika namanya dipanggil sebagai saksi yang memberatkan terdakwa lain — Wirananta — gumaman menjalar seperti listrik. Selama ini Salim dan Wirananta berada di kursi terdakwa yang sama-sama membela diri. Sekarang salah satunya akan menghancurkan yang lain.
Salim berjalan ke mimbar dengan garis merah di lehernya yang sengaja tidak ia tutupi. Ia ingin majelis melihatnya.
"Sebelum saya mulai," katanya, suaranya rata dan tenang, suara orang yang sudah berhenti takut karena tidak ada lagi yang bisa direbut darinya, "saya ingin majelis tahu kenapa saya di sini. Bukan karena saya menyesal. Saya tidak akan berpura-pura. Saya di sini karena orang yang saya layani tiga puluh tahun mengirim seseorang untuk mencekik saya di sel saya sendiri."
Wirananta, di kursi terdakwa, menegang.
Bu Rahmi memulai dengan tenang. "Saudara Salim, apa peran Anda dalam Grup Wirananta?"
"Saya menyelesaikan masalah," kata Salim. "Masalah apa pun. Kalau ada karyawan yang bertanya terlalu banyak, saya yang menawari uang supaya dia diam. Kalau uang tidak berhasil—" ia berhenti, "—saya cari cara lain."
"Jelaskan kasus Gunawan."
Ruangan menahan napas.
"Pak Gunawan auditor internal," kata Salim. "Dia menyusun laporan lengkap soal skema yang sebenarnya — bahwa pendapatan itu fiktif, bahwa enam anak perusahaan cuma memutar uang. Dia mau menyerahkannya ke otoritas bursa. Saya tawari uang, dia tolak. Saya tawari lebih banyak, dia tetap tolak. Dia bilang dia punya anak dan dia tidak mau anaknya tumbuh dengan ayah pencuri." Salim berhenti, dan untuk sesaat suaranya nyaris bergetar. "Seminggu sebelum dia melapor, saya hubungi sebuah bengkel. Saya bayar mereka untuk 'memperbaiki' rem mobilnya. Dua minggu setelah servis itu, mobilnya masuk jurang di tol luar kota."
Di barisan pengunjung, seorang perempuan paruh baya berbaju gelap menutup mulutnya dengan tangan. Damar tahu siapa dia. Janda Gunawan. Ia datang setiap hari sidang, duduk diam, dan hari ini ia mendengar dari mulut pembunuh suaminya sendiri bagaimana suaminya mati.
"Atas perintah siapa?" tanya Bu Rahmi.
Salim mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke arah kursi terdakwa, ke arah lelaki tua berambut tipis yang dulu jadi sampul majalah ekonomi.
"Atas persetujuan Pak Wirananta," katanya. "Saya laporkan masalah Gunawan padanya. Dia bilang satu kalimat: 'Selesaikan, jangan sampai jadi besar.' Saya kirim email konfirmasi setelahnya — 'Soal Gunawan sudah saya tangani.' Email itu ada. Sudah disita. Sudah diverifikasi forensik. Itu bukan karangan saya."
Bhirawa melompat berdiri. "Keberatan! Kalimat 'selesaikan' bisa berarti apa saja! Tidak ada perintah membunuh secara eksplisit—"
"Saudara Pengacara," potong Hakim Wijoyo, suaranya dingin, "saksi sedang menerangkan email yang sudah jadi alat bukti. Apakah Saudara membantah email itu ada?"
Bhirawa terdiam.
Salim melanjutkan, kini lebih cepat, seperti membuka pintu yang sudah lama ia tahan. Ia bicara soal wartawan — sumber kedua Arini — yang bersedia bersaksi terbuka, lalu ditemukan tewas "bunuh diri". "Itu juga kami," katanya tanpa ragu. "Saya yang atur. Polanya selalu sama: dibuat seperti kecelakaan, seperti bunuh diri, seperti hal-hal yang membuat orang berhenti bertanya. Kami pelajari betul bagaimana membuat pembunuhan tidak terlihat seperti pembunuhan."
Ia bicara soal rekening cangkang di tiga negara, soal bagaimana triliunan rupiah uang korban dipindahkan keluar, soal pertemuan rahasia tempat saham Cakrawala dibagikan ke pejabat. Setiap nama yang ia sebut adalah nama yang membuat seorang lagi tokoh besar di luar sana tidak bisa tidur malam itu.
Damar mencatat satu hal yang tidak ia duga: Salim tidak membela diri. Ia tidak berkata "saya hanya menjalankan perintah" untuk meringankan dosanya. Ia mengaku sebagai pelaksana, penuh, tanpa mengurangi. Tapi ia memastikan setiap kalimat berakhir di satu nama: Wirananta. Bukan untuk menyelamatkan diri dari hukuman — ia tahu ia akan dihukum berat. Untuk satu hal yang lebih tua dari hukum: balas dendam pada orang yang mengkhianatinya.
Ketika Salim selesai dan turun dari mimbar, ia melewati kursi terdakwa Wirananta. Untuk satu detik keduanya bertemu pandang. Wirananta membuka mulut, hendak berbisik sesuatu. Salim hanya menatapnya, lalu berkata, cukup keras hingga baris depan mendengar:
"Anda kira benang nilon itu bisa membungkam saya. Anda lupa, Pak. Saya yang mengajari anak buah Anda cara memakai benang nilon."
Lalu ia berjalan keluar, dijaga dua sipir, meninggalkan ruangan yang terlalu hening untuk seukuran orang sebanyak itu.