Berita itu pecah pada Senin pagi, dan tidak berhenti sepanjang minggu.
Pejabat lembaga pengawas pasar modal yang dulu membelot — yang tertangkap basah menghapus bukti, lalu memilih bekerja sama — telah membuka semuanya. Bukan hanya nama. Tanggal, jumlah, cara setoran, lembar saham yang ditransfer ke rekening atas nama istri, anak, perusahaan cangkang. Daftar yang dulu hanya bocor sebagian ke publik, kini lengkap di tangan penyidik bersih.
Dan satu per satu, nama-nama itu jatuh.
Damar menonton dari rumah aman, layar televisi menyala sepanjang hari. Seorang anggota dewan ditetapkan tersangka — yang sama yang dulu memakai kekuasaannya menghentikan penyidikan, yang dulu memberangus media secara halus. Pagi ini ia keluar dari rumahnya dengan rompi tahanan, wajah menunduk, dikerubuti kamera yang dulu ia kira bisa ia kendalikan.
Lalu tokoh televisi itu. "Tokoh anti-korupsi" yang selama bertahun-tahun duduk di panggung talkshow, mengkhotbahi bangsa soal integritas, ternyata salah satu pemegang saham terbesar Cakrawala. Klip-klip lamanya beredar viral — dirinya berapi-api soal "memberantas mafia", ditempel berdampingan dengan bukti kepemilikan sahamnya. Ia tumbang dari panggung publik dalam hitungan jam. Stasiun televisi yang dulu menyiarkannya buru-buru menghapus namanya dari setiap acara.
"Ini yang Wirananta tidak mengerti," kata Arini, duduk di sofa dengan laptop di pangkuan, jemarinya bergerak cepat menulis liputan. "Dia kira daftar pejabat itu perisai. Selama mereka semua kotor, tidak ada yang berani membongkar, karena membongkar satu berarti membongkar semua. Tapi begitu satu orang membelot dan daftarnya keluar utuh—"
"Perisai itu jadi peta," Damar menyelesaikan. "Bukan melindungi mereka. Menunjukkan tepat di mana mereka semua berada."
Bu Rahmi menelepon sore itu, suaranya lelah tapi ada nada yang tidak pernah Damar dengar sebelumnya — sesuatu yang mendekati harapan.
"Sembilan orang," katanya. "Sembilan ditetapkan tersangka minggu ini. Tiga anggota dewan, dua pejabat pengawas pasar modal, satu tokoh publik, dua direktur sekuritas, satu oknum lembaga pemasyarakatan — yang menandatangani surat pemindahan tahanan ke sel Salim. Dan ini baru gelombang pertama."
Damar menutup mata. Ia ingat malam-malam di apartemen studio, ketika ia membuka folder terakhir di flashdisk Tito dan menemukan daftar itu — nama pejabat lembaga pengawas, anggota dewan, tokoh anti-korupsi di TV — dan untuk pertama kali merasakan ketakutan yang sebenarnya. Bukan takut pada Cakrawala. Takut menyadari bahwa kebenaran ini menyentuh negara, dan negara punya banyak tangan untuk menguburnya.
Ia ingat berkata pada Lestari, lewat telepon, bertahun-tahun rasanya tapi sebenarnya cuma beberapa bulan: menjauhlah, ini lebih besar dari kita. Saat itu ia mengira "lebih besar" berarti tidak terkalahkan. Sekarang ia mengerti, "lebih besar" hanya berarti lebih banyak yang akan jatuh ketika ia akhirnya runtuh.
"Tapi hati-hati," kata Bu Rahmi, nadanya berubah. "Orang yang merasa akan kehilangan segalanya adalah orang paling berbahaya. Sembilan tersangka ini punya keluarga, punya uang sisa, punya orang-orang yang masih setia karena belum tertangkap. Kasus pokoknya — Wirananta dan Salim — vonisnya tinggal hitungan minggu. Justru di saat-saat akhir ini mereka paling nekat."
Damar membuka mata, menatap ke arah Arini yang masih mengetik, wajahnya diterangi cahaya laptop. Perempuan yang dulu menyamar jadi ibu rumah tangga di pasar ikan, yang disandera di gudang blok C dengan wajah lebam, yang tidak pernah berhenti meliput meski namanya masuk daftar target.
"Saya tahu," kata Damar pelan ke telepon. "Mereka akan mencari titik terlemah kita."
Setelah menutup telepon, ia memandang Arini lebih lama dari yang ia sadari. Sembilan pejabat telah jatuh hari ini. Jaring yang dirajut Wirananta selama bertahun-tahun runtuh dalam seminggu. Tapi ada sesuatu yang dingin merayap di dadanya, semacam firasat yang sudah ia pelajari untuk tidak diabaikan sejak ada mobil hitam mengikutinya keluar dari perpustakaan kota tua.
Jaring yang runtuh masih punya benang-benang yang menjuntai. Dan benang yang menjuntai selalu mencari leher untuk dililit.