Putusan menjatuhkan vonis. Tapi vonis hanyalah kata-kata di atas kertas sampai uang benar-benar bergerak. Dan uang, Damar tahu betul, adalah benda paling licin yang pernah diciptakan manusia.
Selama dua bulan setelah vonis, ruang rapat lembaga antikorupsi internasional menjadi rumah kedua bagi Damar. Di sanalah pertarungan terakhir berlangsung — bukan di pengadilan, tapi di meja-meja konferensi dengan perbedaan zona waktu, di telepon dengan pengacara bank di tiga negara, di lembar-lembar perjanjian kerja sama hukum yang harus diterjemahkan dan diverifikasi kata demi kata.
Aset Wirananta tersebar seperti kepingan yang sengaja diceraikan: rekening cangkang di tiga yurisdiksi, properti atas nama orang lain, saham di perusahaan-perusahaan yang tampak tidak berhubungan. Damar, yang dulu memetakan lingkaran setan anak-anak perusahaan Cakrawala, kini memetakan lingkaran setan kekayaan yang disembunyikan.
"Ini bagian yang tidak pernah diceritakan di berita," kata Damar pada Arini, suatu malam, di ruang rapat yang nyaris kosong. Di papan tulis di belakangnya, diagram aliran uang membentang seperti akar pohon. "Orang kira begitu palu diketuk, uang otomatis kembali. Tidak. Setiap rupiah harus dilacak, diklaim, diperebutkan secara hukum. Bank-bank itu tidak melepaskan uang yang dibekukan begitu saja. Mereka takut salah lepas dan digugat balik."
Arini menyandarkan punggung. "Berapa yang bisa kembali?"
Damar memandang diagramnya lama. "Tidak semua. Tidak akan pernah semua. Sebagian sudah benar-benar menguap — dipakai Wirananta untuk hidup mewah, untuk menyuap, untuk membayar Salim dan orang-orangnya, untuk pelarian. Tapi yang dibekukan di bank internasional sebelum sempat dipindahkan — itu yang bisa kita rebut." Ia mengetuk satu angka di papan. "Sekitar tujuh setengah triliun. Dari dua belas yang menguap di pasar. Lebih dari setengah."
Tujuh setengah triliun. Damar mengucapkannya dan masih sulit mempercayainya. Berbulan-bulan lalu, angka itu hanya beban di pundaknya — bayangan kehancuran ribuan keluarga. Kini angka yang sama berubah arah.
Pertarungan terakhir adalah soal mekanisme. Bagaimana mengembalikan tujuh setengah triliun kepada lebih dari empat puluh ribu korban, sebagian di antaranya tidak lagi punya rekening, tidak punya bukti pembelian yang lengkap, atau sudah meninggal sehingga uang harus jatuh ke ahli warisnya. Lembaga internasional ingin dana ditahan dulu sebagai "dana pemulihan" yang dicairkan bertahap. Sebagian pejabat domestik ingin dana masuk kas negara dulu. Para korban, lewat gugatan class action, menuntut pencairan langsung.
Damar duduk di antara semua kepentingan itu, bukan sebagai pengacara, bukan sebagai pejabat, hanya sebagai orang yang paham angka dan dipercaya kedua belah pihak. Ia menyusun proposal: dana dimasukkan ke rekening khusus yang diawasi bersama oleh lembaga internasional dan auditor independen, lalu dicairkan dalam tiga gelombang berdasarkan prioritas — korban lanjut usia dan korban dengan kerugian terhadap kebutuhan dasar didahulukan.
"Kenapa lansia dulu?" tanya seorang perwakilan kementerian, di rapat penentuan. "Bukankah lebih adil rata semua sekaligus?"
"Karena mereka yang paling sedikit punya waktu untuk menunggu, Pak," jawab Damar. "Pak Hartono tujuh puluh dua tahun. Ayah salah satu korban kena stroke. Kalau kita tunggu mekanisme sempurna untuk empat puluh ribu orang, sebagian dari mereka akan meninggal sebelum melihat uangnya. Keadilan yang datang setelah orangnya mati bukan keadilan. Itu cuma laporan."
Ruangan terdiam. Perwakilan kementerian itu menatap Damar lama, lalu mengangguk pelan.
Proposal disetujui pada hari Jumat, pukul empat sore. Damar masih ingat detailnya — bagaimana cahaya senja masuk lewat jendela ruang rapat, bagaimana Arini di sudut ruangan diam-diam memotret tanda tangan terakhir di lembar perjanjian, bagaimana auditor internasional yang dulu diintimidasi sampai nyaris menyerah kini berdiri dan menjabat tangannya tanpa kata.
Malam itu, Damar berjalan keluar gedung sendirian. Udara kota terasa lebih ringan dari yang ia ingat. Ia berhenti di trotoar, mengeluarkan ponselnya, dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia menelepon ibunya di kampung. Bukan untuk membahas ancaman, bukan untuk menyuruhnya bersembunyi.
"Bu," katanya, suaranya bergetar sedikit. "Sudah selesai, Bu. Uangnya akan kembali ke orang-orang."
Di ujung sana, ibunya diam sebentar, lalu terdengar isak yang ditahan. "Kapan kamu pulang, Mar? Ibu masakin yang kamu suka."
Damar memandang langit kota yang oranye, lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu seperti angka-angka di layar monitornya dulu — naik dan turun, hidup dan mati. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, angka-angka itu tidak terasa seperti kebohongan.
"Sebentar lagi, Bu," katanya. "Masih ada yang harus saya pastikan. Saya mau lihat dengan mata sendiri uangnya benar-benar sampai. Setelah itu, saya pulang."