Setahun kemudian.
Pukul tujuh kurang sepuluh menit, ruangan itu sudah dipenuhi suara papan ketik dan dengung pendingin udara — sama seperti pagi-pagi bertahun lalu di lantai dua belas Gedung Mahanusa. Tapi ini bukan Gedung Mahanusa, dan Damar bukan lagi analis termuda yang mengejar saham mana yang akan naik.
Ini lantai kerja Lembaga Edukasi dan Perlindungan Investor, sebuah badan baru yang lahir langsung dari puing-puing kasus Cakrawala. Di dindingnya tergantung satu kalimat yang dipilih Damar sendiri, dicetak besar: "Angka yang terlalu cantik biasanya dirias." Kalimat yang dulu ia ucapkan pada Lestari di hari pertama semuanya bermula, kini menjadi semboyan kerja puluhan orang.
Damar duduk di mejanya, di depan layar yang menampilkan data — bukan untuk mencari keuntungan, melainkan untuk mengawasi. Ia dan timnya memantau pola-pola aneh di pasar: saham yang naik terlalu cepat tanpa alasan jelas, perusahaan dengan pendapatan yang melonjak mustahil, laporan keuangan yang catatan kakinya menyembunyikan lingkaran setan. Setiap kejanggalan yang mereka temukan, mereka peringatkan ke publik sebelum menjadi Cakrawala berikutnya.
Pagi itu, salah seorang analis mudanya — gadis berusia awal dua puluhan, baru lulus, dengan mata yang menyala oleh rasa ingin tahu yang sama seperti Damar dulu — datang membawa laporan.
"Pak Damar," katanya, "saya nemu perusahaan ini. Pendapatannya naik tiga kali lipat dalam dua kuartal. Tapi pelanggannya... saya cek, sebagian alamatnya ruko kosong."
Damar menatapnya, dan untuk sesaat ia melihat dirinya sendiri di wajah gadis itu. Ia mengangguk pelan.
"Bagus," katanya. "Telusuri piutangnya. Kalau piutang membengkak hampir sebesar pendapatan, kita perlu bicara serius." Ia tersenyum. "Dan jangan takut kalau atasanmu menyuruhmu lepas tangan. Atasanmu di sini nggak akan pernah menyuruh itu."
Gadis itu mengangguk semangat, lalu kembali ke mejanya.
Damar bersandar di kursinya, menatap layar. Di salah satu jendela monitornya, daftar harga saham bergerak naik turun seperti detak jantung — tapi kini, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia menatap angka-angka itu tanpa rasa curiga yang mencekik. Bukan karena pasar menjadi sempurna. Pasar tidak akan pernah sempurna. Tapi karena sekarang ada banyak mata yang menjaganya. Sekarang ada aturan baru, hasil dari pelajaran nasional bernama Cakrawala. Sekarang ada lembaga, ada pengawasan, ada orang-orang yang dididik untuk membedakan wajah dari riasan.
Di sebuah penjara, Wirananta menjalani hukumannya — sang otak utama yang dulu fotonya menghiasi majalah ekonomi, kini menghabiskan hari-harinya di balik jeruji, asetnya disita untuk mengganti kerugian ribuan korban. Di sel lain, Salim, sang tangan yang membersihkan, menanggung vonis atas pembunuhan Gunawan dan sumber kedua, tanpa lagi satu pun tangan atau kaki di luar yang bisa ia perintah. Direktur keuangan, para pejabat di daftar, editor pengkhianat, kurir terakhir — semua menjalani bagiannya masing-masing dari keadilan yang akhirnya tegak.
Dan di luar sana, kakek guru yang menabung tiga puluh dua tahun sudah selesai mengobati istrinya. Ibu yang menyimpan biaya sekolah anaknya sudah membayar uang kuliah itu. Ribuan korban, satu per satu, mulai pulih — tidak utuh, tidak seperti sebelum semuanya runtuh, tapi cukup untuk berdiri kembali.
Ponsel Damar bergetar. Pesan dari Arini.
"Liputan korban yang terakhir sudah tayang. Responsnya luar biasa. Mau makan malam nanti? Aku traktir, sekali ini saja, jangan kebiasaan."
Damar tersenyum, mengetik balasan. "Aku datang. Tapi jangan pilih tempat yang kopinya sepahit seleramu."
Ia meletakkan ponsel, menatap kembali ke layar. Di mejanya, di samping keyboard, ada satu lembar kertas usang yang ia bingkai — halaman fotokopi laporan keuangan Cakrawala, dengan satu kalimat ditulis tangan dan dilingkari tinta merah yang sudah memudar: "Dari mana uang masuknya, kalau penjualannya cuma di atas kertas?"
Dulu pertanyaan itu menyeretnya ke tempat yang jauh lebih gelap daripada yang pernah ia bayangkan. Ke mobil hitam yang membuntuti, ke gudang blok C, ke moncong pistol yang mengarah ke dadanya. Tapi pertanyaan itu juga yang akhirnya membongkar semuanya, yang mengembalikan tabungan ribuan orang, yang menutup lingkaran setan, yang membuat angka-angka di pasar ini akhirnya kembali jujur.
Damar menatap layar untuk waktu yang lama. Gelembung kosong itu sudah pecah. Dan kali ini, bukan meledak di wajah para korban yang tak tahu apa-apa — melainkan dibersihkan, sampai tuntas, oleh orang-orang yang berani melihat.
Di luar jendela, matahari pagi naik di atas kota, menyinari gedung-gedung pencakar langit yang dulu tampak seperti tumpukan koin. Hari baru dimulai. Dan untuk pertama kalinya, Damar Pradipta — si bocah dengan mata laser yang kini sedikit lebih tua, sedikit lebih lelah, dan jauh lebih bijak — menatap angka-angka itu, dan tidak menemukan satu pun kebohongan di sana.
TAMAT