Bu Laras tak pernah datang.
Pukul setengah sebelas, ketukan di pintu memang terdengar — tiga kali, pelan, berirama. Tapi bukan irama yang disepakati. Kode mereka adalah dua-jeda-satu. Yang ini tiga rata, seperti orang yang berpura-pura mengenal aturan tapi salah satu nada. Reyhan menahan napas, tidak bergerak, tidak bersuara. Ia mematikan lampu sejak tadi. Di bawah celah pintu, ia melihat dua bayangan kaki berdiri diam. Satu menit. Dua menit. Lalu mereka pergi.
Ia tahu sekarang. Seseorang membocorkan posisinya. Hanya tiga orang yang tahu ia di kos ini malam ini: dirinya, Bu Laras, dan pusat operasi. Dan Bu Laras tak akan pernah mengetuk dengan irama yang salah.
Ponselnya bergetar. Bukan dari Bu Laras. Nomor tak dikenal. Sebuah pesan: "Reyhan. Ini Damar dari pusat. Bu Laras tertahan. Bawa paket ke titik aman B sekarang. Aku jemput di parkiran timur." Reyhan mengenal nama Damar — koordinator logistik, wajah ramah, suka membawa donat ke ruang briefing. Tapi sesuatu terasa salah. Damar tidak pernah tahu di kos mana ia tinggal. Tidak seharusnya. Dan "titik aman B" bukan istilah yang dipakai divisinya. Itu istilah lama, istilah yang sudah dipensiunkan dua tahun sebelum Reyhan masuk.
Seseorang sedang menguji apakah ia bodoh.
Reyhan tidak membalas. Ia mengemasi barang seperlunya — paspor cadangan, uang tunai, charger, amplop cokelat itu yang kini terasa seberat batu. Ia membuka jendela kamar mandi yang menghadap ke atap rumah tetangga. Dari sana, dengan napas tertahan, ia merangkak melintasi genteng basah, turun lewat tangki air, dan menjejak tanah di gang belakang yang gelap.
Di mulut gang, sedan hitam yang sama — atau saudaranya — terparkir dengan mesin menyala. Reyhan berbalik arah, menyusuri tembok, menghilang ke dalam labirin kampung padat yang hanya dikenal orang-orang yang besar di dalamnya. Beruntung, ia salah satunya. Ia tidak selalu menjadi agen. Dulu ia anak gang ini, sebelum beasiswa, sebelum tes, sebelum Bu Laras menemukannya.
Ia berhenti di bawah sebuah jembatan kecil, mengatur napas. Pikirannya berputar cepat. Rencana malam ini, yang seharusnya berakhir dengan amplop diserahkan dan dirinya tidur nyenyak, telah pecah berkeping-keping dalam tiga jam. Ada kebocoran. Bukan dari luar — dari dalam. Seseorang di organisasi tahu setiap langkahnya: kafe, kos, paket. Dan orang itu memberi tahu pihak lain.
Ia mencoba menelepon Bu Laras. Mati. Nomor tidak aktif. Ia mencoba nomor darurat divisi. Berdering tiga kali, lalu diangkat oleh suara yang tidak ia kenal. "Halo?" Reyhan langsung memutus sambungan. Tangannya gemetar sekarang — bukan karena takut, tapi karena marah yang dingin.
Ia teringat pesan pria tua di kafe: anginnya sudah berubah arah. Saat itu ia mengira itu sandi pertukaran biasa. Sekarang ia mengerti, kalimat itu adalah peringatan. Seseorang telah berbalik. Angin di dalam organisasi telah berbalik melawan mereka.
Reyhan duduk bersandar pada tiang jembatan, air sungai kecil mengalir keruh di bawahnya. Ia membuka tas, menatap amplop merah-lilin itu. Aturannya jelas: jangan dibuka. Tapi aturan dibuat untuk dunia di mana ia bisa mempercayai pemberi aturan. Malam ini, dunia itu sudah tidak ada.
Tangannya menyentuh lilin merah. Berhenti. Belum. Membuka amplop ini mungkin satu-satunya kartu yang ia punya, dan kartu hanya berguna kalau dimainkan di saat yang tepat. Ia menutup tas kembali. Yang ia butuhkan sekarang bukan jawaban di dalam amplop, melainkan tempat untuk bertahan hidup sampai pagi.
Dan untuk pertama kalinya, Reyhan menyadari sesuatu yang lebih menakutkan daripada dikejar: ia tidak tahu lagi siapa yang sedang ia layani. Organisasi yang ia percayai mungkin sudah membusuk dari dalam. Dan dia, agen baru di malam pertamanya, kini berdiri sendirian di antara orang-orang yang ingin amplop itu — dan tak peduli ia hidup atau mati.