Seminggu berlalu begitu saja, hari demi hari melintas dengan tenang dan teratur. Freya menjalani hari-harinya dengan cekatan, tepat waktu, dan tak pernah sekalipun meleset dari jadwal yang ditentukan. Setiap pagi ia datang lebih awal sebelum kantor benar-benar ramai, menyapa seperlunya saja, lalu langsung duduk di tempat kerjanya dan mulai menyibukkan diri dengan tumpukan berkas dan gambar rancangan yang terbentang rapi di atas mejanya. Setiap sore ia pulang paling akhir, setelah memastikan semua pekerjaan hari itu beres, tersusun rapi, dan tidak ada satu pun hal yang tertinggal atau belum diperiksa. Tidak pernah sekalipun ia terlambat, tidak pernah mengeluh lelah atau meminta perlakuan istimewa, dan tidak pernah melanggar satu pun aturan ketat yang dibuat Kenzie sejak hari pertama. Ia bekerja seolah hidupnya saat ini hanya berisi tugas yang diembannya — fokus, tenang, dan menjaga jarak profesional yang tegas dan tak tertembus. Tidak mencari perhatian, tidak membicarakan hal-hal di luar pekerjaan, tidak ikut campur urusan orang lain, dan tak pernah sedikit pun terlihat berusaha mendekat atau mencari kesempatan untuk berbicara lebih dari yang diperlukan.
Namun justru sikap itulah yang perlahan-lahan membuat Kenzie semakin penasaran, bahkan mulai merasa gelisah tanpa alasan yang jelas. Di lingkungan tempat ia berdiri selama bertahun-tahun, dikelilingi oleh orang-orang yang selalu berusaha mendekat, menyanjung berlebihan, tersenyum manis sambil menyembunyikan niat tertentu, atau mencari celah untuk mengambil keuntungan darinya. Semua orang tampak berusaha sekuat tenaga agar diperhatikan olehnya, berharap mendapat keuntungan, atau sekadar ingin dilihat dan diakui keberadaannya. Namun Freya... Freya adalah satu-satunya yang terasa benar-benar berbeda. Ia tenang, teguh pada prinsipnya, tidak tergoyahkan oleh tatapan tajamnya, dan sama sekali tidak tampak takut atau terpesona oleh kekuasaan serta kemewahan yang mengelilingi pria itu. Semakin wanita itu bersikap biasa saja, menjaga jarak, dan fokus pada pekerjaannya, semakin Kenzie merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik ketenangan itu — sesuatu yang dalam, kokoh, dan tak mudah diguncang apa pun. Sesuatu yang perlahan-lahan menarik perhatiannya tanpa ia sadari, hingga tanpa sengaja ia kerap melirik ke arah meja kerja wanita itu saat ia sedang sibuk menunduk memeriksa lembaran demi lembaran kertas di hadapannya.
Suatu sore, ketika seluruh staf dan karyawan sudah pulang meninggalkan gedung, suara langkah kaki dan riuh rendah percakapan perlahan lenyap, berganti dengan kesunyian yang mulai menyelimuti setiap sudut ruangan. Namun Kenzie masih mendapati Freya duduk di mejanya, di ruangan terbuka yang kini sepi dan hening. Pria itu berjalan perlahan menuruni tangga lebar di tengah ruangan, langkahnya nyaris tak terdengar di atas lantai marmer yang dingin dan mengkilap. Ia berhenti tak jauh dari sana, berdiri diam sejenak sambil menatap punggung wanita itu yang duduk tegak di balik tumpukan kertas rancangan. Freya masih menatap lekat-lekat layar di hadapannya, jari-jarinya sesekali menunjuk angka-angka pada kertas di sampingnya sambil mencoret-coret catatan kecil dengan pulpen yang dipegangnya. Ia memeriksa ulang setiap baris perhitungan dengan ketelitian yang luar biasa, teliti, dan cermat, seakan sedang menjaga sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang tak boleh rusak sedikit pun. Ruangan sudah sepi, lampu-lampu di sebagian besar ruangan sudah dipadamkan, menyisakan cahaya lembut dari lampu meja yang jatuh tepat menerangi tempat Freya duduk. Dan di luar jendela besar yang memanjang dari lantai hingga ke langit-langit itu, suara hujan kembali terdengar turun, rintik-rintik air menghantam kaca dengan lembut namun tak henti-henti, seakan ikut menyertai kesunyian sore itu.
“Kenapa belum pulang?” tanya Kenzie tiba-tiba, suaranya terdengar pelan namun cukup jelas terdengar di ruangan yang hening itu.
Nada bicaranya tidak lagi setajam dan sedingin biasanya. Tidak tegas dan menohok seperti hari pertama mereka bertemu. Ada perubahan halus yang tak disadarinya sendiri — suaranya lebih rendah, lebih berat, dan seakan menyembunyikan sesuatu yang tak berani ia ucapkan dengan lantang.
Freya terkejut sejenak, bahunya sedikit bergerak, tangannya yang memegang pulpen berhenti bergerak seketika. Namun ia segera menegakkan punggung, menarik napas panjang, lalu menoleh perlahan ke arah sumber suara. Wajahnya tetap tenang, matanya yang jernih menatap lurus ke arah pria yang berdiri tak jauh darinya, tanpa rasa takut atau gugup sedikit pun.
“Masih ada bagian perhitungan struktur pondasi yang ingin saya pastikan sekali lagi, Pak,” jawabnya tenang dan mantap. “Saya tidak ingin ada kesalahan sekecil apa pun yang terlewat dan baru diketahui setelah semuanya terlambat.”
Kenzie melangkah mendekat, berdiri tepat di sisi meja kerja Freya. Matanya menyapu lembaran demi lembaran kertas yang terbentang rapi di atas meja itu, lalu perlahan beralih menatap wajah wanita di hadapannya.
“Bahkan jika kau sudah yakin itu benar dan tak ada kesalahan sedikit pun, kau tetap memeriksanya berkali-kali?” tanya Kenzie pelan, matanya tak lepas dari wajah Freya.
Freya mengangguk pelan, lalu menatap lurus ke dalam manik mata pria itu dengan tenang. “Karena kesalahan yang tampak kecil dan tak berarti sering kali justru menjadi penyebab kehancuran yang paling besar di kemudian hari. Sama seperti kepercayaan, Pak. Jika sudah retak dan rusak, sekuat apa pun kita berusaha menambalnya, ia tak akan pernah kembali utuh dan sempurna seperti sedia kala.”
Kalimat itu terucap begitu tenang, begitu sederhana, namun maknanya terasa begitu dalam hingga seakan menembus langsung ke tengah hati Kenzie. Pria itu terdiam mematung. Matanya menatap lekat wajah wanita di hadapannya, menyadari satu hal yang baru saja ia sadari — di balik ketenangan dan kesederhanaan yang tampak begitu lembut itu, tersimpan keteguhan hati yang sama kuatnya, bahkan mungkin jauh lebih kuat, dari dirinya sendiri yang selama ini bersembunyi di balik tembok keangkuhan dan kesunyian.
“Kau sepertinya tahu banyak hal soal hal-hal yang tak tampak oleh mata,” ucap Kenzie pelan, suaranya nyaris tak terdengar, seakan ia sedang berbicara pada dirinya sendiri.
“Karena hal yang paling berbahaya biasanya justru yang tersembunyi rapat-rapat, bukan?” jawab Freya tenang, tatapannya tak beralih sedikit pun dari wajah Kenzie. “Sama seperti rasa sakit dan luka yang disembunyikan di balik sikap dingin, ketegasan, dan wajah yang tak pernah menunjukkan perasaan apa pun.”
Detik itu juga, Kenzie seketika membeku di tempatnya. Napasnya tertahan di tenggorokan, jantungnya berpacu kencang tanpa alasan yang jelas. Rasanya seakan ada tangan tak kasat mata yang menembus tembok es setebal puluhan meter yang telah ia bangun bertahun-tahun dengan susah payah, menyentuh luka paling dalam dan paling perih yang dikiranya tak akan pernah diketahui siapa pun selain dirinya sendiri. Selama ini ia yakin tidak ada satu pun orang yang mampu melihat apa yang ia sembunyikan rapat-rapat — rasa sakit yang mendalam, kesepian yang menyengat, dan ketakutan yang terus membayangi hidupnya sejak lama. Namun Freya... wanita yang baru ia kenal sebentar ini, seakan sudah membaca seluruh isi hatinya sejak hari pertama mereka berhadapan di ruangan ini.
“Jangan terlalu banyak bicara hal-hal yang bukan urusanmu!” bentak Kenzie tiba-tiba, suaranya meninggi, penuh amarah yang sebenarnya bukan ditujukan pada wanita itu, melainkan pada dirinya sendiri yang merasa terbongkar dan tak berdaya. “Ingat batas yang sudah aku tentukan sejak awal! Jangan pernah melampaui batas tugasmu!”
Freya tidak mundur selangkah pun. Ia tidak tampak takut, tidak gemetar, dan tidak menunduk ketakutan seperti orang lain yang berhadapan dengan kemarahannya. Ia hanya menunduk sedikit sebagai tanda hormat, namun suaranya tetap tenang dan teguh.
“Maaf, Pak. Saya hanya mengungkapkan apa yang saya lihat. Tidak ada maksud lain sama sekali.”
Kenzie membuang wajah dengan kasar, berbalik memunggungi wanita itu dan melangkah cepat menuju jendela besar di sudut ruangan. Punggungnya terasa kaku, kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia marah, namun lebih dari itu — ia merasa takut. Takut jika benteng es yang dijaganya begitu rapi dan kokoh selama bertahun-tahun ini, perlahan-lahan mulai retak dan runtuh hanya karena kehadiran satu orang wanita yang bahkan tak pernah berusaha menembusnya dengan paksa.
“Lebih baik kau pulang sekarang,” ucap Kenzie akhirnya, suaranya terdengar lebih rendah, lebih berat, dan penuh kelelahan yang tak lagi ia sembunyikan. “Sudah cukup untuk hari ini. Besok pagi lanjutkan lagi pekerjaanmu.”
“Baik, Pak.”
Langkah kaki Freya terdengar menjauh perlahan, lalu suara pintu yang tertutup rapat terdengar pelan di belakangnya. Kenzie berdiri diam di tempatnya, menatap bayangan wanita itu yang perlahan lenyap dari pandangannya. Di dalam dadanya, satu pertanyaan kembali muncul dan terus berputar tanpa henti di kepalanya: Apakah dia datang ke sini untuk membangun sesuatu yang kokoh dan abadi... atau justru dialah yang perlahan-lahan akan menghancurkan segala tembok pertahanan yang telah kubangun selama ini?
Malam itu, Kenzie sulit memejamkan mata. Wajah tenang Freya, sorot matanya yang jernih, dan setiap kata yang diucapkannya terus terngiang berulang-ulang di kepalanya sepanjang malam. Ia sadar satu hal yang tak ingin ia akui sejak awal — sejak wanita itu melangkah masuk ke ruangannya minggu lalu, ketenangan yang selama ini ia miliki, meski penuh kesepian, mulai terganggu. Dan yang paling aneh... entah mengapa, ia justru tidak merasa ingin mengusirnya pergi.