Tiga hari berlalu, Satria duduk dikursi depan kamar kosnya seraya memandang layar ponselnya. Dirinya terus berdoa didalam hati supaya dirinya lolos seleksi. Ia memandang keluar jalan membayangkan bila dirinya lolos seleksi dan mendapatkan pekerjaan itu tentu ia akan mendapatkan gaji besar saat itulah pasti Pak Hendarto akan datang padanya dan meminta dirinya untuk segera menikahi anaknya.
Satria kembali mengingat bagaimana dulu ia berjuang mendapatkan cinta Sarah. Saat dirinya tengah kuliah semester tiga Satria sempat menembak Sarah yang merupakan teman seangkatannya namun beda jurusan. Sayang, pernyataan cintanya ditolak lantaran Sarah yang belum kenal dengan Satria, namun dirinya pantang menyerah berbagai usaha dilakukannya agar dapat meluluhkan sang pujaan hati dan usahanya berhasil. Pada semester lima akhirnya Sarah menerima cinta Satria saat dirinya kembali menyatakan cinta, melihat perjuangan Satria yang tulus akhirnya Sarah luluh.
Betapa bahagianya Satria kala itu, namun semenjak lulus kebahagian itu mulai sedikit-sedikit terkikis tatkala Pak Hendarto yang terus mendesak Satria agar terus mendapatkan pekerjaan. Satria bukan orang yang pemalas namun usahanya untuk mencari pekerjaan belum membuahkan hasil. Sementara Sarah semenjak lulus kuliah sudah langsung diterima disebuah bank swasta.
Satria yang lulusan Teknik Informatika telah berusaha mencari pekerjaan kesana kemari namun hasilnya nihil, sedangkan Sarah yang lulusan sarjana akuntansi, jeda sebulan lulus sudah mendapatkan pekerjaan.
Tentu hal ini membuat Pak Hendarto khawatir, takut kalau Satria nantinya malah mengandalkan Sarah. Karena sejatinya lelakilah yang harusnya mencari nafkah.
Satria menarik nafas dalam mengingat masa-masa kuliahnya dulu dengan Sarah begitu indah namun kini....ah Satria ingin sejenak melupakannya ia kemudian menutup matanya mencoba menenangkan hatinya yang mulai gusar hingga akhirnya Satria kaget mendengar sebuah panggilan telpon di ponselnya. Buru-buru ia membuka matanya menatap layar ponsel tertera dengan nama Danu disana
'ah....sue' pekiknya karena bukan Danu yang ia harapkan, Satria memencet tombol hijau disana
"ya" jawabnya malas
"lagi apa lo?"
"kuy mabar" ajak Danu
"males ah...gue lagi nunggu telpon penting...ganggu lo bangke"
belum sempat Danu berbicara lagi Satria sudah menutup telponnya.
Satria mengusap wajahnya kasar kemudian menatap layar ponsel, melihat sudah pukul 15.00 namun telpon yang ditunggu tak juga masuk, harapannya mulai kikis.
Akhirnya ia memutuskan untuk kembali masuk kekamar kosnya, ingin segera mandi agar dirinya segar kembali. Namun belum juga ia melngkahkan kakinya kedalam tiba-tiba ponselnya kembali berdering
'aishh si Danu bangke bed dah ah dibilang gue males make nelpon mulu'
batinnya namun setelah melihat layar ponsel ternyata menunjukkan yang lain dari nomor yang tidak tertera dikontaknya, segera ia memencet tombol hijau
"hallo sore bapak apa benar ini dengan bapak Satria Wiryawan?" tanya seorang wanita disana
"iya benar dengan saya sendiri"
"iya bapak perkenalkan saya Mira, sebelumnya selamat ya pak...bapak masuk seleksi tahap akhir yang akan dibagi dua tahap seleksi, mohon kehadirannya besok pukul 07.00 pagi dan diharapkan kedatangannya tepat waktu ya pak"
"baik bu saya pasti datang" ucap Satria semangat.
******************
Satria bangun dengan penuh semangat yang menggebu, setelah mandi dan meminum secangkir kopi ia berangkat menuju alamat yang telah dikirimkan lewat pesan keponselnya. Satria sempat merasa ada yang aneh ketika alamat yang diberikan berbeda dengan alamat seleksi awal kemarin, tapi lagi-lagi Satria menepisnya jauh-jauh berharap itu hanyalah sebuah kekhawatiran yang berlebihan mengingat gaji dan bonus yang diberikan Satria berfikir ini merupakan perusahaan besar sehingga memiliki cabang yang banyak jadi wajar bila tempat seleksinya berpindah-pindah.
Satria menghentikan sepeda motornya tepat didepan sebuag gerbang, mengambil ponselnya dari saku jaketnya dan melihat kembali alamat yang ditujunya, memastikan sesuai atau tidak.
Satria melihat kekiri dan kekanan, sepi, kembali ia melihat gerbang besar yang ada dihadapannya dari luar tidak tampak aktivitas apapun terlebih tempatnya jauh dari keramaian, terpencil tepatnya.
Satria memencet bel yang ada didepan pintu gerbang, kemudian seorang satpam membuka lubang penutup dari gerbang yang memang sengaja dibuat untuk melihat siapa yang datang. Setelah bilang maksud dan tujuannya, satpam tersebut membukakan pintu gerbang dan mengarahkan Satria untuk memarkirkan sepeda motornya ditempat parkir yang telah disediakan.
Satria memarkirkan motornya kemudian berjalan kedalam sebuah bangunan yang besar yang tertutup rapat, bangunan itu lebih mirip sebuah gudang.
Begitu masuk kedalam bangunan tersebut Satria diarahkan untuk masuk kedalam sebuah ruangan, disana telah ada beberapa orang yang juga telah dilanggil untuk ikut seleksi selanjutnya.
Seorang pria menyapa Satria, dia adalah pria kemarin yang berbincang dengannya, namanya Dika, baru hari ini akhirnya mereka saling menyebutkan nama satu sama lain karena kemarin mereka lupa saling mengenalkan diri.
"hei bro...ketemu lagi kita"
"hei"
"oia gue Dika, kemaren lupa kenalan" Dika menjulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Satria
"Satria"
"gak nyangka ya kita bakal ketemu lagi"
Satria tersenyum menanggapi
"lo tau bro?ini tuh seleksi akhir kita harus bener-bener semangat karena yang dipilih gak banyak" ujar Dika semangat
Satria lagi-lagi tersenyum menanggapinya, Satria bukan orang yang gampang bergaul terlebih dengan orang yang baru dikenalnya, apalagi bisa dibilang kalau Dika adalah saingannya sekarang.
Satria mencoba bersikap hati-hati terhadap siapa saja yang baru dikenalnya terlebih dia adalah saingannya untuk mendapatkan pekerjaan, dia tidak akan mensia-siakan kesempatan yang ada didepan mata.
Ada sekitar 30 orang yang lulus seleksi awal kemarin. Hari ini mereka semua dikumpulkan didalam sebuah ruangan, ketika jam menunjukkan tepat pukul 07.00 seorang pria masuk kedalam ruangan tersebut.
Pria tersebut memakai kaos ketat berwarna army yang memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang sangat terbentuk jelas memperlihatkan bahwa dirinya gemar berolahraga, dan menggunakan celana hitam panjang dengan sepatu kets hitam dan kacamata hitam tidak lupa topi baseball yang menutupi rambutnya yang dipotong cepak itu, ya sekilas mirip tentara.
"pagi semua" sapa pria tersebut dengan tegas
"sebelumnya saya ucapkan selamat kepada kalian semua calon terpilih yang nantinya akan mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang cukup besar, bonus dalam jumlah yang banyak bila kalian dapat menyelesaikan misi yang diberikan, tapi untuk itu kalian harus melewati tahap seleksi akhir yang akan dibagi dalam dua tahap"
"karena pekerja yang terpilih tidak banyak tentu kalian harus berjuang dengan maksimal....dan perlu kalian ingat intuisi yang kuat, daya saing dan jiwa pemenang yang kami harapkan yang mampu menjadi pekerja yang tangguh nantinya"
"saya tidak akan berlama-lama dan membuang waktu kalian, seleksi terakhir tahap satu akan segera dimulai, ingat kalian harus berjuang secara maksimal karena akan ada yang tereleminasi...sekali lagi selamat berjuang"
Setelah mengucapkan kata-kata yang mengisyaratkan bahwa seakan-akan mereka akan kemedan perang, pria itu kembali keluar dari ruangan tanpa perkenalan diri sebelumnya, sungguh benar-benar membuat Satria bingung dan melongo dengan ucapan pria tersebut, tapi berbeda dengan Dika
"wuih...gile ye tuh body keker banget men...kalo gue cewek so pasti udah klepek-klepek" ujarnya seraya tersenyum
"lo ngerasa aneh gak si?" akhirnya Satria bertanya kepada Dika
"aneh? apaan si bro?"
"itu loh barusan...kata-katanya kek kita mo kemedan perang aja"
"ya iyalah medan perang...kita kan lagi berjuang untuk mendapatkan pekerjaan...gaji bosku...gede" ujarnya seraya menjentik-jentikkan jarinya dan memainkan kedua alisnya, Satria hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya
'sama aja ternyata...semuanya butuh duit...gue bener-bener harus berjuang' batin Satria dirinya menjadi semangat kembali