Belum sempat Queen menjawab panggilan Arka, suara langkah kaki yang tenang namun mantap terdengar menghampiri pintu UKS.
"Assa?"
Queen menoleh kaget. Di sana berdiri Axel, menatapnya lembut sekilas, lalu perlahan mengalihkan pandangan ke sosok Arka yang masih berdiri tegak di ambang pintu.
"Kukira kamu tertunda karena ada urusan, ternyata benar ada panggilan darurat," ujar Axel pelan sambil melangkah mendekat, lalu meletakkan tangan dengan lembut namun tegas di bahu Queen."Maaf mengganggu. Saya Axelrion Atlanta, tunangannya."
Arka terdiam, matanya tak lepas dari wajah Queen.
"Kamu teman lamanya Assa sewaktu sekolah?" tanya Axel kemudian, nadanya tetap sopan, tapi dia ingin tahu siapa sosok yang membuat Queen begitu terdiam.
Arka mengeratkan rahangnya, menelan rasa perih yang tiba-tiba menyergap.
"Arka," jawabnya singkat, suaranya berat dan hampir tak terdengar.
Queen berdiri mematung di tengah ruangan, terjepit di antara dua dunia: masa lalu yang tak sempat selesai, dan masa depan yang sudah menanti di depan mata.
Belum sempat keheningan pecah, terdengar langkah pelan mendekat.
"Ka? Siapa..."
Cellin berdiri di samping Arka, matanya melebar melihat sosok Queen, lalu beralih ke tangan Axel yang masih berada di bahu Queen. Wajahnya perlahan berubah pucat.
"Queen... Assa?"
Axel yang berapa di samping Queen teringat sesuatu melihat wajah gadis itu.
"Kok nggak asing ya... Sepertinya aku pernah melihat wajahnya di foto lama di kamarmu. Teman masa sekolahmu ya?" Tanya Axel dengan antusias.
Selama mengenal Queen, Axel belum pernah mendengar cerita Queen soal teman nya di SMA ini. Dia tau Queen pernah sekolah di sini saja dari mama, ibu dari Queen.
Sedang Cellin, yang mendengar panggilan akrab itu kembali teringat kala diri nya pertama kali bermain di rumah Queen ketika masa sekolah dulu.
[KILAS BALIK MASA SEKOLAH]
"Queen, kita jadi main ke rumah kamu kan?" Tanya vivi dengan riang. Vivi itu anak yang sedikit polos dia selalu di kekang oleh orang tua nya sejak kecil. Tidak boleh ini, tidak boleh itu, tetapi semenjak dia bergaul dengan Queen. Orang tua nya tidak terlalu mengekang nya, kata mereka 'Queen itu anak baik meski ada di keluarga yang tidak baik setidak nya dia pintar dan sopan temenan sama dia aja'.
Semenjak itu, kemanapun Queen pergi vivi minta ikut. Tidak, tidak hanya vivi Arnold pun ikut. Kata nya biar ketularan pintar nya Queen.
"Siapa yang bilang main? Kita ini kerja kelompok?" Dan jangan lupakan hal ini, Arnold dan Vivi tidak pernah akur.
"Tapi kan kita emang ke rumah Queen" ujar Vivi dengan nada sedikit ngambek.
"Udah kalau kalian ribut kita ga berangkat berangkat nih" Sahut Queen menengahi, bukan nya Ia marah. Hanya saja dia di kejar waktu semakin lama mereka mengulur waktu semakin lama juga pekerjaan rumah mereka akan selesai.
"Ayo" Arka tanpa banyak suara mengandeng tangan Queen melangkah menuju parkiran di ikuti dengan Cellin, Vivi, Arnold di belakang mereka.
"Bentar deh Ka," ucap nya mandang ke belakang kepada Arnold dan Vivi.
"Arnold tolong bonceng Vivi yah, Lin kamu bawa motor kan?" pokok nya kalau Queen yang mengatakan Arnold dan Vivi hanya mengangguk saja. Sedang Cellin sedikit merasa cemburu mungkin dalam hati nya. Tetapi dia tetap mengiyah kan pertanyaan Queen.
Sesampai nya di rumah Queen mereka di sambut hangat oleh mama dari Queen, Tante ACA namanya.
"Assa udah pulang? Ehh ini temen kamu yang mau kerja kelompok yah? Sini masuk tante buatin banyak makanan buat kalian. Assa ke atas dulu cuci muka cuci kaki ajak temen nya juga yah." Jelas tante Aca dengan senyum ramah nya.
Sedang yang lain mendengar nama itu sedikit bingung.
"Aku kalau di rumah panggilan nya Assa, cuma panggilan akrab orang rumah aja"
Mengerti raut bingung teman teman nya dia sedikit menjelaskan tentang perbedaan panggilan nama itu.
"Berarti aku panggil kamu Assa dong? Di masa depan kita keluarga kan?" Tanya Arka dengan percaya diri, sedang Arnold dan Vivi yang mendengarnya bingung antara kaget dan malu.
Kalau Cellin, Tanpa sadar rasa cemburu dan membenci memupuk diri perlahan.
[KEMBALI KE MASA KINI]
"Kak Xel, kata bunda acara nya jam makan malam kan? Udah mau jam makan malam pulang aja yuk siap2 biar ga kemaleman" Suara Queen memecah keheningan mereka.
"Arnold" Queen menoleh ke pemuda yang dari tadi diam mengamati keadaan, lalu dengan berat hati Queen menatap ke arah dua orang di depan nya.
"Arnold, Cellin, Arka Aku sama Kak Axel balik dulu yah" mengulang memanggil nama teman nya itu lalu pergi dengan mengandeng tangan Axel.
'Kenapa bukan aku?' tanya Arka dalam hati nya.