Malam hari kemudian, Audrey pergi jalan-jalan bersama dengan Diandra.
"Tumben ngajak jalan-jalan di malam hari, Drey?" tanya Diandra pada menantunya.
"Iya, Ma. Sepertinya ini kemauan anak Drey!" jawab Audrey sambil mengelus perutnya yang buncit.
"Ibu hamil memang aneh-aneh kemauannya!" ucap Diandra sambil tersenyum.
Audrey hendak berkata lagi, namun pandangan Audrey tertuju pada seorang pria yang sedang berpelukan dengan seorang wanita di tepi jalan.
"Kak Felix?" ucapnya setelah mengenali pria itu.
"Nak Felix? Mana dia?" tanya Diandra seraya melihat ke sekeliling dan tak perlu waktu lama, Diandra dapat melihat Felix yang sedang bersama dengan wanita lain di tepi jalan.
"Aku harus ke sana!" ucap Audrey yang kemudian bergegas ke sana.
"Drey, awas!" teriak Diandra kala melihat ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi ke arah menantunya dan mobil itu kini benar-benar membuat Audrey celaka.
Audrey merintih kesakitan kala ia terserempet mobil hingga terjatuh ke atas aspal.
Felix dan wanita lain yang melihat hal itu pun bergegas pergi ke arah Audrey yang kini sudah tidak sadarkan diri.
***
"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Felix pada seorang dokter yang baru saja selesai memeriksa Audrey di ruang UGD.
"Alhamdulillah, dia nggak keguguran! Namun kini kehamilannya sangat berisiko, jadi tolong jaga dia baik-baik!" jawab sang Dokter yang kemudian pamit pergi untuk menangani pasien lainnya.
"Felix, ini semua kesalahanmu! Drey melihatmu berduaan dengan wanita lain sehingga dia berniat untuk menemui mu!" ucap Diandra yang menyalahkan Felix.
"Status perkawinan belum selesai diperiksa," sahut Satria yang datang setelah dihubungi Diandra. "Jangan gunakan ketidakpastian itu untuk menuntut atau menuduh Audrey. Sekarang ia perlu dirawat."
"Saya nggak ada hubungan apa-apa dengan Devina, dia hanya rekan bisnis saya!" jawab Felix dengan jujur.
"Iya, Tan, Om. Saya nggak berniat untuk menganggu hubungannya dan istri serta anaknya, saya hanya rekan kerja!" sahut Devina sang wanita yang bersama dengan Felix tadi.
"Kami melihat kalian berpelukan!" ucap Diandra yang kemudian bergegas masuk ke dalam UGD bersama dengan suaminya.
Wanita itu malas berdebat dengan Felix dan Devina yang ia anggap sebagai penyebab menantu dan calon cucunya celaka.
Felix kemudian hendak masuk, namun tangannya dicekal oleh Devina.
"Felix, aku punya sesuatu yang mengganjal di hatiku, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Devina seraya menatap sendu ke arah Felix.
"Baiklah!" jawab Felix yang kemudian duduk di kursi tunggu yang berada di luar UGD dengan diikuti oleh Devina.
"Drey 'kan sudah punya Abian, jadi mengapa dia masih cemburu kamu bersama dengan wanita lain?" tanya Devina.
"Itu artinya dia masih mencintaiku!" jawab Felix.
"Enggak! Dia ingin melenyapkan anakmu demi hubungannya dengan Abian harmonis!" ucap Devina.
"Melenyapkan? Maksudnya?" tanya Felix pada Devina.
"Sudahlah, nggak usah diteruskan! Aku takut di anggap sebagai orang ketiga atau pengganggu suami orang!" jawab Devina.
"Jangan merasa begitu, Dev! Kau adalah sahabatku dan itu sudah hak mu memberi saran atau pendapat!" ucap Felix.
"Jadi gini, aku merasa bahwa Drey nggak menyayangi anakmu, dia ingin mencari cara agar anak itu keguguran, namun ia ingin membuat seolah kaulah penyebabnya. Contohnya ini kau yang dituduh, kan?" Devina mengatakan semua pendapatnya pada Felix, pendapat yang bisa membuat suasana semakin panas.
Felix kini beranjak dari duduknya ketika Devina selesai berbicara dengannya, pria itu tidak mengeluarkan satu kalimat pun sebagai respon atau tanggapannya.
"Aku harap kamu bisa sabar dan jangan emosi ya, Felix!" ucap Devina.
Felix kemudian masuk tanpa menjawab ucapan sahabatnya.
"Apa yang kamu pikirkan bukanlah kebenarannya!" ucap Felix dengan wajah datarnya setelah masuk dan menemui istrinya yang masih terbaring di atas brankar.
"Apa maksudmu, Kak? Jelas-jelas aku melihatmu dan dia sedang berpelukan di tepi jalan tadi?" jawab Audrey.
"Aku tadi hampir jatuh, Drey. Dan dia hanya menolongku saja! Maafkan aku karena sudah membuat kalian salah paham!" jawab Devina seraya menatap semua orang dengan tatapan sendu.
"Kamu memang sengaja, Drey! Kamu sengaja ingin membuat janin ini celaka, kamu bukan ibu yang baik! Kamu lebih mementingkan egomu daripada keselamatan anak yang kamu kandung!" marah Felix.
"Apa? Kalau aku mementingkan egoku maka aku nggak akan menikah dengan Bie karena aku hanya mencintaimu, namun demi anak kita, aku rela menikah untuk kedua kalinya!" jawab Audrey.
"Bilang saja kalau sekarang kamu sudah mencintai Bie! Dan sekarang ini kamu dan Bie sedang berusaha melenyapkan anakku dan peristiwa ini adalah buktinya!" tuduh Felix dengan wajah yang memerah karena marah.
"Enggak Kak! Nggak ada seorang ibu yang ingin melenyapkan anak kandungnya sendiri!" sangkal Audrey dengan mata yang mulai berair.
Ibu mana yang tidak patah hati bila dituduh hendak melenyapkan anaknya sendiri, terlebih yang menuduhnya adalah suaminya sendiri, ayah dari anak yang ia kandung.
"Putraku nggak serendah itu! Ia nggak akan pernah tega melenyapkan siapapun, termasuk anak tirinya!" sahut Satria yang menyangkal tuduhan dari Felix.
"Dan nggak ada seorang ibu yang ingin melenyapkan anaknya sendiri!" Diandra ikut menyahuti.
"Ingat ini, Drey! Jangan apa-apakan anakku dan jaga dia dengan baik! Sebab aku akan berjuang untuk mengambil hak asuhnya setelah ia lepas asi!" ucap Felix yang kemudian pergi dari sana dengan kondisi sedang marah dan emosi.
"Drey, maaf ya? Aku juga harus pergi sebab Felix sudah pergi!" pamit Devina yang kemudian juga pergi dari sana.
"Ma, Pa. Tolong bantu Drey untuk mempertahankan hak asuh anak ini, Drey nggak ingin Kak Felix merebutnya dari Drey!" mohon Audrey pada kedua mertuanya agar mau menolongnya.
"Mama mengerti perasaanmu, Drey. Nggak ada seorang ibu yang mau berpisah dengan anaknya!" jawab Diandra.
Beberapa hari kemudian, setelah operasi pertamanya selesai lebih cepat dari perkiraan, Abian mendapat izin pulang sementara. Penugasan di daerah lain masih berjalan, tetapi ia langsung menemui Audrey, yang kandungannya kini genap empat bulan.
"Drey, aku rindu padamu!" ucap Abian sambil tersenyum.
"Hm!" jawab Audrey dengan singkat.
"Akhirnya kamu pulang dengan selamat lagi, Bie!" ucap Diandra sambil tersenyum bahagia sebab melihat putranya pulang dengan membawa kemenangan dan tanpa kurang sesuatu apapun.
"Putra Papa selalu berhasil dan nggak akan pernah gagal!" sahut Satria.
"Mama!" Teriakan seorang gadis dari depan pintu membuat tiga orang itu melihat ke arah pintu.
"Faya?" ucap semuanya sambil berjalan ke arah Faya yang baru saja pulang dari bimbingan konselingnya dengan seorang psikolog anak.
"Faya mulai bisa membicarakan apa yang dialaminya. Pendampingannya masih perlu dilanjutkan bersama keluarga," kata psikolog yang mengantarnya.
Sejak Faya mendorong Audrey, orang tuanya mengatur pendampingan dengan psikolog. Mereka juga harus memastikan Faya memahami akibat tindakannya. Pengalaman perundungan yang ia alami perlu ditangani tanpa membenarkan kekerasan terhadap Audrey.
"Ini semua berkat Mama dan Papa!" jawab Faya sambil tersenyum dan menyambar ke dalam pelukan mamanya.
"Kemari sayang!" ucap Satria seraya membuka kedua tangannya lebar-lebar.
Faya tersenyum dan langsung beralih memeluk papanya yang sudah sangat ia rindukan.
"Faya rindu Papa!" ucap Faya sambil memeluk pria paruh baya itu dengan sangat erat.
"Papa juga merindukanmu, Faya!" jawab Satria sambil mencium pucuk kepala putrinya.
"Aku senang kamu pulang, Faya. Kita teruskan pendampingannya," kata Abian.
"Faya senang bisa pulang, Pa," jawab Faya. Ia masih gugup membayangkan kembali ke sekolah.
"Kita jalani pelan-pelan. Kalau ada yang terasa berat, bicarakan bersama pendampingmu," kata Diandra.
Faya kemudian segera melepas pelukannya dari Satria sambil menyeka air matanya dengan gusar.
"Faya?" panggil Audrey seraya mengambil tangan kanan adik iparnya dan kemudian berkata, "Kamu nggak perlu takut untuk ke sekolah lagi, sebab orang-orang yang bully kamu, mereka semua sudah dikeluarkan!"
Faya hanya diam dan melepaskan tangannya secara kasar dari Audrey, gadis itu masih ingat peristiwa di mana ia dimarahi dan dibentak oleh keluarganya karena Audrey, jadi kini ia merasa sangat dendam pada kakak iparnya itu.
"Aku ingin tidur Kak Bie!" ucap Faya tanpa melihat Audrey atau Abian.
"Em ... ayo kakak antar!" jawab Abian seraya melirik ke Audrey sejenak dan kemudian ia mengambil tangan kanan adiknya dan mengantarkan adiknya ke kamar.
"Apa dia masih marah kepadaku?" batin Audrey.