Setelah tersadar dari keterkejutannya akan kepulangan sang suami secara tiba-tiba dan tanpa di sangka. Wanita hamil itupun segera lari ke arah pria yang berdiri di depan pintu tersebut.
Audrey yang masih sangat mencintai Felix dan sangat rindu pada Felix pun langsung memeluk Felix dengan sangat erat di depan semua orang. Wanita hamil itu tak memikirkan pendapat orang di sekitarnya.
Abian kini berjalan perlahan-lahan ke arah sahabatnya yang ternyata masih hidup dan kembali pada Audrey.
Sementara tatapan Felix lurus ke arah Abian kala ia merasa telah disakiti dan dikhianati oleh sahabatnya sendiri.
"Felix, semuanya nggak seperti yang kamu lihat!" ucap Abian setelah tiba di hadapan Felix.
Tangan Abian kemudian menyentuh pundak Audrey dan menariknya agar Audrey melepaskan pelukannya pada Felix sebab hal ini sedang ditonton oleh banyak masyarakat dan kerabat TNI AD yang menjadi tamu undangan.
Felix hanya diam, ia ingin mendengarkan penjelasan dari sahabat baiknya terlebih dahulu sebelum mengambil sebuah keputusan.
"Felix, Audrey terpaksa menikah denganku. Kandungannya lemah dan akibat kesalahpahaman dia diusir oleh keluargamu, hidupnya terlantar jadi aku sebagai sahabatmu ingin menolong istri dan calon anakmu!" ucap Abian seraya menatap sahabatnya dengan tatapan sendu.
"Kak, aku menunggumu tapi ucapan polisi dan tim SAR membuatku rapuh, mereka bilang kalau kamu sudah tiada sebab nggak ditemukan sejak tiga hari pencarian. Dan karena terpaksa aku mau menikah dengan Abian karena aku takut kandunganku akan kenapa-napa jika aku tanpa suami dan harus bekerja untuk biaya persalinan dan biaya hidupku, maafkan aku yang sudah nggak setia ini, Kak!" ucap Audrey sambil menangis tersedu-sedu.
Felix menatap Audrey dengan tatapan tajam dan kemudian ia hendak menangkup dagu Audrey, namun dihalangi oleh Abian yang takut Felix akan marah dan menyakiti Audrey yang masih terguncang sesudah ijab tadi.
"Felix, tolong jangan marah dan sakiti Audrey. Jika kamu marah, marahlah kepadaku!" pinta Abian dengan tatapan sendunya, Abian tak ingin melihat wanita yang ia cintai terluka, lebih baik dirinya saja yang terluka.
Felix menarik tangannya yang dicekal oleh Abian dan kemudian menangkup dagu sang istri. Audrey menundukkan kepalanya karena ia takut bila Felix akan memarahinya karena cemburu.
"Jangan menangis! Sudah Kak Felix katakan sejak dulu bahwa kakak benci air mata! Air matamu sangat berharga bagi kakak, Drey!" Ucapan Felix membuat Audrey dan Abian bernafas lega sebab Felix ternyata tidak marah.
"Kalian nggak salah, akulah yang salah sebab sudah terlambat datang! Harusnya aku datang sebelum pernikahan ini terjadi!" lanjut Felix seraya menatap Audrey dan Abian dengan tatapan sendu.
"Bie, aku sangat berterimakasih padamu sebab kamu telah menjaga istri dan calon anakku selama aku hilang, aku juga berterimakasih karena kamu telah rela menikahi istriku yang kamu kira janda. Di dunia ini sudah jarang ada pria yang masih bujang mau menikah dengan wanita yang sudah pernah menikah dan hamil, kamu adalah pria baik dan sahabat sejatiku!" lanjut Felix sambil tersenyum ke arah Abian dan Audrey. Pada saat itu Felix berusaha menghargai pertolongan Abian. Ia belum memahami akibat akad yang dilakukan tergesa itu.
"Pak Ustadz, bagaimana ini? Jadi ini Mbak Audrey ikut siapa dan siapa suaminya sekarang?" tanya seorang tamu undangan yang membuat Audrey dan kedua pria itu berbalik menatap semua orang yang hadir dalam acara pernikahan tersebut.
"Iya, Pak Ustadz. Dalam syariat Islam seorang wanita nggak boleh memiliki dua orang suami, lalu ini bagaimana?" tanya tetangga yang lain.
Mendengar pertanyaan para tamu, Audrey, Abian dan Felix duduk di dalam bersama Satria serta Diandra. Ustadz yang memimpin akad tampak bimbang. Ia sempat mengatakan bahwa ijab yang sudah diucapkan membuat Abian menjadi suami Audrey. Felix segera membantah.
"Saya belum meninggal dan kami belum bercerai. Saya baru hilang beberapa hari. Bagaimana mungkin semuanya selesai hanya karena saya terlambat sampai di sini?"
Audrey menggenggam ujung gaunnya. "Drey juga belum melahirkan. Drey tidak mengerti mengapa akad ini bisa disiapkan begitu cepat."
Satria meminta pembicaraan dihentikan sebelum ada keputusan baru yang merugikan Audrey. "Kita tidak bisa menyelesaikan status mereka hanya dari ucapan di depan tamu. Harus ada pemeriksaan yang benar."
Ustadz itu akhirnya mengakui bahwa penjelasannya tadi tidak dapat dijadikan kepastian status perkawinan. Kabar Felix hilang tidak sama dengan bukti perkawinannya dengan Audrey telah berakhir. Pernyataan para tamu setelah ijab pun tidak menyelesaikan persoalan tersebut.
"Saya tidak boleh mengatakan seorang perempuan boleh memiliki dua suami," katanya. "Saya akan memberikan keterangan mengenai apa yang berlangsung di sini. Bawalah dokumen dan keadaan sebenarnya kepada pihak yang berwenang untuk diperiksa."
Tidak ada orang yang dapat menetapkan dari ruangan itu bahwa Audrey kini bebas menjalani hak pasangan dengan Abian. Mereka sepakat menghentikan acara dan meminta pendampingan untuk memeriksa akad serta status perkawinan Audrey dengan Felix. Urusan anak juga tidak boleh dijadikan alat menekan Audrey agar memilih salah satu pria.
Abian menunduk. "Aku yang terus membujukmu, Drey. Aku tidak boleh menganggap kebaikanku membuatmu harus menerima semua ini."
Audrey masih menatap Felix dengan air mata menggenang. Ia mencintainya, tetapi merasa bingung dan takut. Ia belum sanggup pulang bersama keluarga Felix yang baru mengusir serta menuduhnya. Setelah ditanya keinginannya, ia memilih tetap berada di tempat yang memberinya perlindungan sementara.
"Drey ingin tinggal di sini dulu," katanya. "Tapi Drey tidak mau dipaksa menjadi pasangan siapa pun sebelum urusan ini jelas."
Diandra menyatakan Audrey dapat menempati kamar sendiri. Dukungan tempat tinggal dan perawatan tidak mereka jadikan bayaran untuk pernikahan. Felix tetap dapat membicarakan kebutuhan anak melalui komunikasi yang disetujui Audrey, tanpa memakai status sebagai alasan untuk menyentuh atau membawanya pergi.
Felix menerima bahwa ia tidak dapat memaksa Audrey ikut pulang hari itu. Ia belum menganggap perkawinannya selesai. Ia hanya memilih memberi ruang ketika semua orang masih terkejut, sambil bersedia menghadiri pemeriksaan yang diperlukan.
Setelah berkata, Felix memutuskan untuk pergi dari sana agar ia bisa melampiaskan air matanya di tempat tertutup dan tanpa diketahui oleh banyak orang.
Malam itu Audrey duduk di ranjang kamar yang disiapkan Diandra. Ketika terdengar ketukan, ia mengizinkan Abian masuk membawa selimut.
"Bik Ningsih baru mengangkatnya. Kamu butuh ini?" tanyanya.
Audrey mengangguk. "Terima kasih."
Abian meletakkan selimut di ujung ranjang tanpa duduk di samping Audrey. Ia melihat wajah yang lelah dan tidak menganggap keheningan itu sebagai ajakan mendekat.
"Aku tidur di sofa luar," katanya. "Kalau butuh bantuan, Mama ada di kamar dekat sini. Kamu boleh mengunci pintu."
"Aku belum bisa mencintaimu, Bie."
"Aku mendengar. Kamu tidak perlu menjanjikan apa-apa malam ini."
Audrey menarik selimut ke pangkuan. Ia masih menyimpan cinta kepada Felix, sekaligus takut kehilangan rumah yang baru memberinya tempat. Kedua perasaan itu tidak selesai hanya karena acara akad telah berhenti. Ia ingin dapat tidur tanpa memikirkan tuntutan siapa pun.
Abian berpamitan dan keluar. Untuk malam itu mereka menjaga ruang terpisah. Pemeriksaan status belum selesai; tidak seorang pun boleh mengubah ketidakpastian itu menjadi kewajiban Audrey menyerahkan kedekatan.
Audrey menutup pintu setelah Abian pergi. Ia menata bantalnya sendiri dan mencoba beristirahat.