Malam berikutnya, Abian mendengar rintihan dari kamar Audrey. Ia mengetuk, lalu memanggil Diandra. Audrey menjawab dan mengizinkan mereka masuk. Ia duduk sambil memegangi perutnya.
"Perutku sakit, Bie."
Diandra menanyakan keluhan yang dirasakannya dan menghubungi tenaga kesehatan bila perlu. Abian menawarkan mengambil minyak yang biasa dipakai Audrey, bukan menganggapnya pengganti pemeriksaan. Setelah botol diletakkan di meja, Audrey memilih memakainya sendiri.
"Kalau sakitnya bertambah atau tidak reda, kita minta diperiksa," kata Diandra.
Abian menunggu di dekat pintu. Ia masih berharap Audrey akan membalas perasaannya, tetapi tidak boleh menjadikan harapan itu alasan untuk mendekat ketika Audrey sedang sakit. Setelah keadaan lebih tenang, Diandra menemani Audrey dan Abian kembali ke sofa luar.
Keesokan harinya, Abian sudah rapi dengan seragam lorengnya.
"Bie, ini bekalmu!" ucap Audrey seraya menyerahkan kotak bekal yang telah ia siapkan sebelumnya.
"Terima kasih, Drey!" jawab Abian sambil tersenyum.
Tentara angkatan darat itu merasa bahagia dan senang karena sang istri mau menyiapkan bekal untuknya, makanan ini pasti akan ia habiskan nanti siang.
"Hati-hati ya!" ucap Audrey sambil tersenyum.
"Iya. Terima kasih sudah menyiapkan bekal," jawab Abian. Ia sempat berharap Audrey akan mengulurkan tangan, tetapi tidak meminta hal itu sebagai kewajiban.
Ucapan Abian membuat Audrey terdiam sejenak, ingatannya kembali pada masa rumah tangganya bersama Felix, sebelum Felix berangkat kerja ia pasti akan mencium tangan Felix terlebih dahulu. Bahkan tidak sering ia mencium kening suaminya sebelum suaminya kerja.
Audrey menyadari dirinya belum nyaman menunjukkan kedekatan. Ia tidak harus memaksakan diri karena Abian telah membantunya.
"Aku berangkat dulu. Kalau ada keperluan, sampaikan kepada Mama atau Papa," kata Abian.
Tentara angkatan darat itupun hendak beranjak pergi dari rumahnya, namun Audrey menghentikannya.
"Sini tangannya!" pinta Audrey pada Abian. Abian tersenyum dan kemudian mengulurkan tangan kanannya, Audrey pun segera menerima tangan sang suami dan lantas mencium punggung tangan sang suami dan bertepatan dengan itu Felix tiba-tiba datang.
Betapa hancurnya hati nahkoda kapal itu setelah menyaksikan Audrey bersalaman dengan pria lain.
Audrey yang sadar akan kedatangan pria yang masih sangat amat ia cintai itupun dengan segera melepaskan tangan Abian agar tidak melukai hati pria yang masih berdiri di depan pintu rumahnya itu.
"Harusnya aku yang di sana, bukan dia, Drey!" batin Felix yang seolah tidak rela Audrey bersama dengan pria lain.
"Felix, ada perlu apa kesini?" tanya Abian sambil tersenyum kepada sahabatnya yang datang secara tiba-tiba itu.
"Aku hanya ingin melaksanakan kewajibanku, aku ingin memberi nafkah!" jawab Felix.
"Nafkah?" tanya Abian.
"Nafkah untuk anakku maksudnya! Bukan untuk Audrey, dia kan sudah menjadi milikmu!" jawab Felix sambil mencoba tersenyum meski hatinya sangat rapuh.
"Baiklah, jika begitu aku pergi ya! Aku harus segara tiba untuk mengikuti apel pagi!" Abian berpamitan pada Felix dan Audrey.
"Iya, Bie!" jawab Audrey.
Abian pun segera pergi keluar rumahnya untuk menjalankan tugas negara yang ia emban dipundaknya.
"Silahkan masuk, Kak!" ucap Audrey yang mempersilahkan Felix untuk masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu.
"Drey, apakah kamu bahagia bersama Bie?" tanya Felix setelah duduk di sofa ruang tamu bersama dengan Audrey.
Audrey bungkam ketika Felix menanyakan masalah rumah tangganya dengan Felix sebab sebenarnya hubungan rumah tangganya dengan Abian belum harmonis melainkan masih canggung dan dingin, itu semua karena hatinya yang belum bisa memberi rasa cinta pada Abian.
"Mengapa diam?" tanya Felix pada wanita yang sedang mengandung anaknya itu.
"Bie menunaikan semua tanggung jawabnya sebagai seorang suami, Kak! Dia selalu memberiku uang nafkah, melindungi ku dan merawat. Tapi ...," jawab Audrey sambil menatap Felix dengan tatapan sendu.
"Tapi apa?" tanya Felix pada Audrey yang kini justru menundukkan kepalanya.
"Aku belum bisa menerima kedekatan dengan Bie. Aku masih mencintai Kak Felix," jawab Audrey.
"Drey, jika kamu nggak bahagia dengannya, aku selalu ada untukmu! Kembalilah padaku kapanpun kamu mau!" ucap Felix.
"Tapi aku nggak bisa meninggalkan Bie begitu saja. Aku takut melukai hatinya, Kak!" Audrey sebenarnya sangat ingin kembali pada Felix, namun tidak mungkin ia meninggalkan Abian yang sudah menerimanya apa adanya serta yang selalu ada saat ia membutuhkannya, tanpa Abian mungkin ia akan kehilangan janin yang ia kandung.
"Dia nggak akan sakit hati, Drey. Dia itu nggak mencintaimu dan dia menikah hanya untuk menolongmu saja, tidak lebih!" jawab Felix yang belum tahu bahwa Abian juga mencintai Audrey hingga detik ini.
"Kak Felix belum tahu juga tentang perasaan Bie padaku!" batin Audrey.
"Sebaiknya aku beri tahu dia sekarang saja!" lanjut Audrey di dalam hatinya.
"Ya sudah, ini uang nafkah untuk anakku! Aku pergi ya, aku harus bekerja!" Ucapan Felix membuat Audrey bungkam dan mengurungkan niatnya untuk mengatakan kebenarannya terlebih setelah Felix mengeluarkan kata kerja.
"Ini bukan saat yang tepat! Kak Felix sedang sibuk sekarang dan untuk membicarakan masalah cinta harus butuh ruang dan waktu yang tepat!" batin Audrey seraya menerima uang pemberian dari Felix sang ayah biologis dari anak yang ia kandung.
"Terima kasih, Kak!" jawab Audrey sambil menatap Felix dengan tatapan sendu.
"Sama-sama!" ucap Felix yang kemudian segera pergi dari rumah sahabatnya.
Siang hari kemudian, Audrey ikut ke mall bersama dengan Diandra sang ibu mertuanya. Kini kedua wanita beda usia itu sedang duduk di dalam mobil yang dikendarai oleh sopir Diandra.
"Sebaiknya beli susu dan vitamin serta lain-lain dulu saja, jangan membeli perlengkapan bayi!" ucap Diandra yang duduk di sebelah Audrey.
"Kenapa nggak boleh membeli perlengkapan bayi, Ma?" tanya Audrey pada ibu mertuanya.
"Pamali! Jika bayi masih di dalam kandungan dibelikan barang-barang, Drey. Tunggulah sampai usianya delapan atau sembilan bulan dulu agar aman!" jawab Diandra sambil tersenyum.
"Itu hanya kepercayaan orang zaman dahulu, Ma. Tapi karena ini nasihat dari mama, Drey akan mematuhinya!" ucap Audrey sambil tersenyum. Ia sebenarnya sangat ingin pergi ke toko baju bayi untuk membeli beberapa baju bayi, namun ia merasa tidak enak apabila membantah mertuanya.
Audrey adalah wanita yang baik dan sangat berbakti pada orang tuanya, sejak kecil ia tidak pernah membantah ayahnya meski sang ayah terus ringan tangan dan memakinya.
"Kamu ingin punya anak pertama cewe apa cowo, Drey?" tanya Diandra pada menantunya yang sedang memegang tas selempang.
Pertanyaan sang mama mertua membuat Audrey terdiam sejenak kala pikirannya tertuju pada Abian kala Diandra menyebut anak pertama.
"Anak pertama? Maksudnya aku juga harus punya anak kedua?Lantas bagaimana aku bisa punya anak dari Bie, aku saja nggak mencintainya. Tapi bagaimana masa depanku dengan Bie nanti? Masa Bie selamanya akan membujang dan nggak punya keturunan?" batin Audrey. "Tapi aku sungguh nggak bisa dengannya sebab aku nggak ada rasa sayang yang lebih dari sekedar teman padanya!" lanjut Audrey di dalam hatinya.
"Kok melamun?" tanya Diandra pada menantunya yang hanya diam melamun setelah ia bertanya soal anak.
"Oh, tidak apa-apa, Ma!" jawab Audrey sambil tersenyum.
"Apa kebutuhanmu sudah tercukupi?" tanya Diandra.
"Untuk tempat tinggal dan makan, iya, Ma. Tapi Drey masih belum tahu apa yang harus dilakukan setelah acara itu."
Diandra menatapnya. "Kita sedang meminta penjelasan mengenai statusnya. Mama tidak boleh mendesak kalian menjalani kedekatan hanya karena sudah disebut pasangan. Kamu boleh mengatakan apa yang belum nyaman."
Audrey mengangguk. Ia tidak perlu memakai kehamilan sebagai alasan menolak sentuhan yang memang tidak diinginkannya.
"Hugh, akhirnya sampai juga!" ucap Diandra setelah ia dan menantunya tiba di halaman depan mall.
"Yuk turun, Drey! Nanti kamu belanja keperluanmu saja, seperti susu, vitamin, alat rias mu. Belanja bulanan tugas Mama!" ucap Diandra.
Wanita paruh baya itu tak ingin Audrey mengurus persediaan bulanan sebab Audrey sekarang sedang mengandung dan kandungannya lemah, jadi Audrey tidak boleh kelelahan.
"Baik, Ma. Audrey ingin ke girl hair salon dulu, soalnya ini rambut Audrey sudah lama tidak perawatan!" ucap Audrey. Memang benar jika Audrey sudah jarang ke salon untuk merawat rambutnya, semenjak dua bulan lalu. Entah mengapa setelah mengandung ia jadi malas untuk pergi ke salon.
"Tapi rambutmu indah, Drey? Mama malah nggak menyangka bahwa sudah lama nggak perawatan di salon?" ucap Diandra yang tidak mempercayai keterangan menantunya.
Rambut Audrey sangatlah indah, warnanya hitam pekat, panjang, wangi dan bersinar, rambut Audrey juga selembut kapas sehingga akan melayang-layang bila tertiup angin.
"Sejak kecil Drey selalu rutin merawatnya, Ma. Jujur saja, Audrey lebih suka merawat rambut daripada wajah. Jadi, Audrey ke salon hanya untuk merawat rambut saja bukan untuk spa wajah atau kulit!" jawab Audrey sambil tersenyum.
"Iya karena rambut adalah mahkota wanita!" ucap Diandra.
***
Malam hari kemudian, Felix sedang bersama dengan Devina yang kini menjadi rekan bisnisnya.
Felix memang masih bekerja sebagai seorang nahkoda kapal, namun kini ia juga ingin membangun bisnis.
"Felix, dalam bisnis kamu harus semangat dan jangan bawa-bawa urusan pribadimu!" ucap Devina setelah melihat Felix yang hanya diam, pria itu masih belum bisa melupakanmu Audrey.
"Aku belum bisa melupakannya! Belum bisa dan nggak akan pernah bisa!" jawab Felix.
"Setidaknya lupakan dia ketika kita sedang mengurus bisnis! Kalau diluar bisnis, kamu boleh mengingatnya!" pinta Devina agar Felix mau fokus mengurus bisnis.
"Sulit bagiku, Dev!" jawab Felix. "Sebaiknya kita lanjutkan pekerjaan ini besok pagi saja! Aku mau istirahat!" lanjut Felix yang kemudian pergi ke lantai dua meninggalkan Devina di ruang tamu.
Devina menghela nafasnya, berbisnis dengan orang yang sedang patah hati memang sulit dan harus sabar dalam menghadapinya.
Devina kini membereskan berkas-berkas yang ada di atas meja dan setelah selesai ia hendak pulang, namun Saskia tiba-tiba menghampirinya.
"Dev!" panggilnya pada Devina mantan pacar anaknya itu.
"Iya, Tan?" jawab Devina.
"Kamu mantan pacar putra Tante, kamu dulu pacaran selama tiga tahun dengannya, kan?" tanya Saskia sambil tersenyum.
"Iya, Tan!" jawab Devina secara singkat.
"Em ... apakah kamu sudah nggak mencintai putraku?" tanya Saskia pada Devina.
"Tidak, Tan. Dia juga sudah punya istri!" jawab Devina sambil tersenyum.
"Tapi mereka sedang berjarak dan mungkin hubungan itu tidak bisa kembali seperti dulu, Dev! Apa kamu tidak berniat untuk mengisi kekosongan hatinya itu?" Pertanyaan Saskia membuat Devina terdiam sejenak.
"Aku nggak enak pada istrinya dan sekarang Felix hanyalah rekan bisnisku, tidak lebih!" jawab Devina sambil tersenyum.
"Tante ingin kamu mengobati lukanya dan menikah dengannya!" ucap Saskia sambil menatap Devina dengan tatapan sayu. "Lagipula kamu juga masih sendiri, kan?" lanjut Saskia.
"Enggak, Tan! Saya nggak bisa!" tolak Devina. "Sudah ya, Tan. Dev pulang dulu!" lanjut Devina yang kemudian bergegas keluar dari rumah Felix.