Pagi itu datang tanpa ampun.
Savira terbangun oleh suara bor yang memekakkan telinga dari lantai atas. Cahaya abu-abu menyelinap melalui celah gorden, dan untuk beberapa detik ia lupa di mana dirinya berada. Bau cat basah dan debu kayu segera mengingatkannya. Ia bukan di kontrakan kecilnya. Ia ada di rumah Wiratama, di kamar yang seharusnya tidak ia tempati sendirian atau bersama siapa pun.
Arkan sudah tidak ada di dalam kamar. Sisi ranjang sebelahnya rapi, seolah tidak pernah disentuh. Hanya ada bekas patahan tipis di bantal yang menunjukkan bahwa pria itu sempat berbaring dalam jarak yang sangat dekat dengannya semalam. Savira duduk, merasakan otot lehernya kaku. Ia tidak ingat kapan tepatnya tertidur. Yang ia ingat hanya keheningan panjang dan suara hujan yang akhirnya reda di dini hari.
Ia mandi dengan cepat, memakai kemeja putih dan celana kain abu-abu yang rapi. Rambutnya diikat tinggi. Wajah di cermin memperlihatkan kantung mata yang samar, namun ekspresinya tetap dikontrol. Ia tidak akan memperlihatkan kelemahan di rumah ini.
Ketika keluar dari kamar, koridor belakang masih sepi. Hanya suara pekerja renovasi yang bergema dari jauh. Savira melangkah menuju dapur, berharap bisa membuat kopi tanpa harus berinteraksi dengan siapa pun. Harapan itu pupus begitu ia melihat Ibu Ratnawati sudah duduk di meja makan dengan sikap tegak, sementara Sania menyiapkan sarapan.
“Pagi, Savira,” sapa Ibu Ratnawati tanpa tersenyum. “Tidurmu nyenyak?”
“Cukup, Bu,” jawab Savira singkat. Ia mengambil gelas dan menuang air putih, sengaja menghindari kursi yang menghadap langsung ke wanita itu.
Ibu Ratnawati menatapnya dalam. “Di rumah ini ada beberapa aturan yang tidak pernah ditulis, tapi semua orang mematuhinya. Saya harap kamu mengerti.”
Savira menoleh pelan. “Aturan seperti apa?”
“Kita menjaga nama baik keluarga di atas segalanya,” kata Ibu Ratnawati tenang namun tegas. “Tidak ada skandal. Tidak ada perilaku yang bisa membuat orang luar bergunjing. Apalagi sekarang, saat warisan masih dalam proses. Kamu adalah bagian dari keluarga Wiratama, meskipun statusmu sudah berubah. Bersikaplah sesuai.”
Kalimat itu terasa seperti peringatan yang dibungkus santun. Savira mengangguk tipis. “Saya mengerti.”
“Bagus,” Ibu Ratnawati berdiri. “Arkan sudah berangkat lebih dulu ke kantor. Pak Gumilar ingin kamu hadir di rapat pagi ini. Ada beberapa dokumen yang harus kamu tanda tangani sebagai ahli waris.”
Savira menahan napas. Ia belum siap berhadapan dengan seluruh jajaran keluarga dalam satu ruangan, namun menolak hanya akan membuatnya terlihat lemah. “Baik. Saya akan siap dalam lima belas menit.”
Perjalanan ke kantor pusat perusahaan Wiratama memakan waktu empat puluh menit. Gedung itu berdiri di kawasan bisnis yang agak jauh dari rumah, berkaca gelap dan terkesan dingin persis seperti pemilik mayoritas sahamnya. Savira melangkah masuk dengan langkah mantap, tas kerja tergantung di bahu. Beberapa karyawan menyapanya dengan senyum kaku. Mereka tahu siapa dia. Janda adik direktur utama. Perempuan yang sekarang punya hak atas sebagian aset.
Ruang rapat di lantai tujuh sudah terisi ketika ia tiba. Pak Gumilar Adiwangsa duduk di ujung meja, wajahnya tegang dan berwibawa. Di sebelahnya, Ardana Wicaksana memperhatikan dokumen dengan ekspresi penuh perhitungan. Danendra Prakoso duduk di sisi kiri, memberikan anggukan kecil sebagai sapaan. Dan di kursi utama, Arkan Wiratama sudah menunggu dengan jas hitam yang impeccable, jari-jarinya mengetuk meja pelan.
Matanya bertemu dengan mata Savira sejenak. Tidak ada senyum. Tidak ada kehangatan. Hanya pengakuan singkat bahwa ia sudah hadir.
“Duduk,” perintah Pak Gumilar tanpa basa-basi. “Kita mulai.”
Rapat berjalan tegang. Pembahasan berputar pada nilai aset, status renovasi rumah, dan pembagian saham sementara. Savira mendengarkan dengan saksama, sesekali mengajukan pertanyaan tajam yang membuat beberapa orang di meja saling melirik. Ia tidak akan menandatangani apa pun yang tidak ia pahami.
Arkan hampir tidak berbicara kecuali diminta. Namun setiap kali ada usulan yang berpotensi merugikan posisi keluarga, ia memotong dengan kalimat pendek dan tajam. Sisi protektifnya terhadap aset terlihat jelas—dingin, presisi, tanpa emosi berlebih. Savira memperhatikan cara jarinya menahan pena, cara bahunya tetap tegak meski diskusi memanas. Pria itu terbiasa memegang kendali, dan ia tidak berniat melepaskannya.
Di tengah rapat, Pak Gumilar menoleh ke arah Savira. “Kamu akan kembali bekerja di divisi operasional mulai hari ini. Posisi manajer masih kosong sejak… kejadian itu. Anggap saja ini cara kamu membuktikan bahwa kamu layak mendapatkan bagian warisan.”
Savira menatapnya datar. “Saya tidak perlu membuktikan apa pun, Pak. Tapi saya akan bekerja.”
Sudut bibir Arkan bergerak samar. Bukan senyum. Lebih seperti catatan mental.
Setelah rapat usai, orang-orang keluar satu per satu. Savira sengaja menunggu hingga ruangan hampir kosong sebelum berdiri. Ia belum sempat mencapai pintu ketika suara Arkan menahannya.
“Savira.”
Ia berbalik. Arkan masih duduk, menatap dokumen di depannya.
“Mulai hari ini, kamu akan melapor langsung ke saya untuk proyek-proyek tertentu,” katanya tanpa mengangkat wajah. “Danendra akan menjelaskan detailnya. Jangan buat keputusan besar tanpa konfirmasi.”
“Saya sudah biasa bekerja mandiri,” jawab Savira.
Arkan akhirnya menatapnya. Matanya gelap dan tidak terbaca. “Di perusahaan ini, mandiri punya batas. Sama seperti di rumah.”
Kalimat itu menggantung di udara. Savira merasakan sesuatu yang tidak nyaman di d**a. Ia mengangguk sekali, lalu keluar tanpa menambah kata.
Siang itu dilalui dengan orientasi singkat dan tumpukan dokumen. Sania sempat datang membawakan makan siang, diam-diam meninggalkan catatan kecil berisi jadwal renovasi rumah yang diperbarui. Savira membaca catatan itu di meja kerjanya. Estimasi selesai molor menjadi tiga bulan. Mungkin empat.
Tiga atau empat bulan dalam satu kamar.
Ia meremas kertas itu hingga kusut.
Sore harinya, ketika sebagian besar karyawan sudah pulang, Savira masih berada di ruangannya. Cahaya matahari tinggal sisa oranye di balik jendela. Ia sedang memeriksa laporan lama ketika pintu diketuk dan Arkan masuk tanpa menunggu izin.
“Kamu masih di sini,” katanya.
“Ada yang harus diselesaikan,” jawab Savira tanpa menoleh.
Arkan berjalan mendekat, berhenti di depan mejanya. “Rumah sudah mulai gelap. Ibu Ratnawati menanyakan keberadaanmu.”
“Saya bisa pulang sendiri.”
“Mobil sopir sudah menunggu di basement,” Arkan mengabaikan penolakannya. “Kita pulang bersama. Lebih efisien.”
Savira mengangkat wajah, menatapnya lama. “Apakah ini termasuk aturan yang tak tertulis? Bahwa saya tidak boleh pulang sendirian?”
Arkan tidak langsung menjawab. Ia menatapnya dengan intensitas yang membuat udara di ruangan terasa lebih berat. “Aturan yang tak tertulis di keluarga ini banyak, Savira. Salah satunya: jangan beri kesempatan orang luar untuk berbicara. Kalau kamu pulang sendirian terus-menerus di kondisi seperti ini, gunjing akan datang lebih cepat dari yang kamu kira.”
Ia mencondongkan badan sedikit, cukup dekat hingga Savira bisa mencium aroma parfumnya yang samar dan mahal.
“Dan aturan lainnya,” suaranya menurun, hampir seperti bisikan yang dipaksa tetap datar, “jangan pernah lupa di mana batasanmu berada. Termasuk batasan dengan saya.”
Savira merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang lebih berbahaya. Ia menahan napas, menatap balik tanpa berkedip.
“Saya tidak pernah lupa,” katanya pelan. “Saya hanya berharap orang lain juga mengingatnya.”
Arkan menegakkan tubuhnya kembali. Ekspresinya kembali dingin, seolah detik yang baru saja terjadi tidak pernah ada. “Mobil menunggu. Lima menit.”
Ia keluar meninggalkan ruangan.
Savira tetap duduk beberapa saat, jari-jarinya menekan tepi meja hingga pucat. Kalimat Arkan masih terngiang. Aturan yang tak tertulis. Batasan. Nama baik keluarga.
Ia tahu aturan-aturan itu ada untuk melindungi. Namun semakin ia memikirkan kamar yang menunggu di rumah, semakin ia merasa bahwa aturan paling berbahaya justru belum tertulis sama sekali.
Ketika akhirnya ia berdiri dan mematikan lampu ruangan, ponselnya bergetar. Satu pesan masuk dari nomor yang tidak ia simpan, namun ia langsung tahu siapa pengirimnya.
Chalista Ranindra.
“Dengar-dengar kamu sudah pindah ke rumah besar. Hati-hati, Savira. Rumah itu punya banyak rahasia. Dan Arkan… tidak pernah benar-benar milik siapa pun.”
Savira menatap layar hingga cahaya ponsel padam sendiri.
Di luar jendela, langit sudah benar-benar gelap.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa hujan gerimis kemarin bukan peringatan.
Itu baru permulaan.