Jam dinding di atas lemari menunjukkan pukul sepuluh lewat ketika bunyi papan ketik di meja kecil akhirnya berhenti.
Savira tidak mengangkat wajah dari laporan di pangkuannya. Ia sudah membaca halaman yang sama tiga kali dan tidak satu angka pun tertinggal di kepalanya. Yang tertinggal justru hal lain: bunyi papan kayu menghantam lantai gudang, debu yang beterbangan, dan lengan yang menariknya mundur dengan kekuatan yang tidak memberi waktu untuk berpikir.
Di seberang kamar, Arkan menutup laptop. Gerakannya pelan, seolah ia tidak ingin bunyi engsel itu terdengar terlalu keras. Ia tidak berdiri. Kedua tangannya diletakkan di atas meja, jari-jari saling bertaut, dan untuk beberapa saat ia hanya diam menatap permukaan kayu.
Savira menunggu. Biasanya, setelah menutup laptop, Arkan akan mematikan lampu meja dan berjalan ke sofa tanpa sepatah kata. Malam ini ia tetap duduk.
“Savira.”
Suara itu rendah, lebih pelan dari biasanya.
Savira menurunkan laporan. “Ya?”
“Tentang tadi pagi. Di gudang.”
Kalimat itu jatuh di tengah kamar seperti benda yang sudah lama dipegang lalu akhirnya dilepaskan. Savira merasakan dadanya mengencang. Sepanjang hari mereka berhasil tidak menyebutnya. Di koridor siang tadi, ketika bahu mereka hampir bersentuhan, tidak ada yang bicara. Ia mengira diam itu akan bertahan sampai kejadian itu memudar dengan sendirinya.
Ternyata tidak.
“Saya menarik kamu tanpa bertanya,” lanjut Arkan. Ia akhirnya menoleh, menatap Savira dari jarak dua meter yang selama ini mereka jaga. “Saya memegang pinggangmu, dan saya tidak langsung melepaskannya setelah papan itu jatuh. Itu tidak perlu. Saya minta maaf.”
Savira tidak segera menjawab. Ia tidak menyangka permintaan maaf itu akan datang, apalagi dalam bentuk sejelas itu. Arkan Wiratama bukan pria yang terbiasa menjelaskan diri. Di ruang rapat, ia memotong kalimat orang dengan satu kata. Di meja makan, ia menutup pembicaraan dengan nada final. Sekarang ia duduk di kursi kecil itu dan menyebut kesalahannya satu per satu, seperti membaca daftar yang sudah ia susun sejak pagi.
“Kalau kamu tidak menarik saya,” kata Savira akhirnya, “papan itu jatuh tepat di tempat saya berjongkok. Kamu menolong saya, Arkan.”
“Saya tahu.”
“Jadi tidak ada yang perlu dimaafkan dari bagian itu.”
Arkan mengangguk sekali, tetapi tatapannya tidak berubah. “Bagian sesudahnya yang saya maksud.”
Savira menelan ludah. Bagian sesudahnya. Detik-detik ketika papan itu sudah tergeletak diam dan tangan Arkan masih berada di pinggangnya. Ketika napas mereka bercampur dan tidak ada yang bergerak. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak ingat, tetapi itu bohong. Ia ingat terlalu jelas.
“Lain kali,” katanya, memilih setiap kata dengan hati-hati, “kalau terjadi sesuatu yang berbahaya, lakukan apa yang perlu. Tapi begitu keadaan aman, lepaskan saya. Jangan menunggu.”
“Baik.”
“Dan jangan merasa harus minta maaf karena menyelamatkan orang. Saya tidak mau kamu ragu kalau suatu saat itu terjadi lagi.”
Sesuatu bergerak di sudut bibir Arkan, terlalu samar untuk disebut senyum. “Kamu meminta dua hal yang bertentangan.”
“Tidak bertentangan. Yang satu tentang keselamatan. Yang satu lagi tentang batas.”
Arkan menatapnya lama. Lampu meja menerangi separuh wajahnya, meninggalkan separuh yang lain dalam bayangan. “Niat baik tidak memberi saya hak untuk menyentuh kamu lebih lama dari yang kamu izinkan. Saya mengerti.”
Kalimat itu membuat Savira terdiam. Ia tidak tahu harus berbuat apa dengan pengertian sejelas itu. Selama empat puluh hari terakhir, orang-orang di sekitarnya sibuk memutuskan apa yang baik untuknya: di mana ia tinggal, kapan ia bekerja, dengan siapa ia pulang. Tidak satu pun bertanya apa yang ia izinkan.
“Kita tidak perlu membicarakannya lagi,” katanya pelan. “Anggap saja itu kecelakaan di area renovasi. Papan itu tidak dipasang dengan benar, dan untungnya tidak ada yang terluka.”
“Setuju.”
“Tidak ada yang perlu tahu bagian lainnya.”
“Saya tidak akan menceritakannya kepada siapa pun.”
Savira mengangguk. Ia meletakkan laporan di meja lipat di samping ranjang, lalu menarik selimut sampai ke pinggang. Percakapan itu seharusnya membuatnya lega. Mereka sudah menyebut kejadian itu, mengakui batasnya, dan menutupnya bersama-sama. Seperti menandatangani dokumen yang sudah dibaca dengan teliti.
Namun ketika Arkan berdiri, mematikan lampu meja, dan berjalan ke sofa, Savira justru merasa sesuatu yang lain baru saja terbuka.
Ia mendengar sofa berderit ketika Arkan berbaring. Bunyi kain yang ditarik. Lalu sunyi.
Lampu tidur kecil di sisi ranjang tetap menyala, cahayanya kekuningan dan lemah. Savira berbaring telentang, menatap langit-langit. Di luar, gerimis kembali turun. Terpal di lantai dua berkepak sekali, dua kali, lalu diam.
Ia mencoba memikirkan pekerjaan. Laporan operasional yang harus dikirim besok. Rapat divisi yang dijadwalkan Danendra untuk siang hari. Berkas aset non-inti yang ia bawa pulang dari kantor dan belum sempat ia buka. Namun setiap kali pikirannya mulai tertata, satu kalimat muncul kembali.
Niat baik tidak memberi saya hak.
Pria yang mengucapkannya adalah pria yang sama yang pada hari pertama memberitahunya bahwa keputusan keluarga sudah dibuat, bahwa ia akan tinggal di sayap belakang, bahwa kamarnya hanya satu. Pria yang sama yang berkata di kantor bahwa mandiri punya batas. Savira tidak tahu yang mana yang lebih benar. Mungkin keduanya.
Di sofa, Arkan membalikkan badan. Bunyinya pelan, tetapi di kamar sesunyi ini terdengar jelas. Beberapa menit kemudian ia membalik lagi.
Savira menahan napas tanpa sadar. Arkan juga belum tidur.
Ia hampir bertanya apakah pria itu baik-baik saja. Kata-katanya sudah berada di ujung lidah. Lalu ia teringat kesepakatan yang baru mereka buat sepuluh menit lalu: tidak membicarakannya lagi. Bertanya sekarang berarti membuka pintu yang baru saja mereka tutup bersama.
Ia memejamkan mata.
Satu jam berlalu. Mungkin lebih. Savira mendengar jam dinding berdetak, gerimis mengetuk kaca jendela, dan napas di seberang kamar yang tidak kunjung menjadi dalam dan teratur. Sekali, ia mendengar Arkan duduk, lalu berbaring lagi. Sekali, ia mendengar pria itu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, seperti orang yang sedang menahan sesuatu.
Ia sendiri tidak lebih baik. Ia mengubah posisi berkali-kali, membelakangi sofa, lalu menghadap jendela, lalu kembali telentang. Pinggangnya terasa hangat di tempat tangan itu pernah berada, dan ia membenci kenyataan bahwa tubuhnya masih mengingat.
Menjelang dini hari, gerimis berhenti. Kamar menjadi lebih sunyi lagi.
Dan dalam sunyi itu, Savira menyadari bahwa permintaan maaf malam ini tidak membuat jarak di antara mereka lebih aman.
Permintaan maaf itu hanya membuktikan bahwa mereka berdua sama-sama memikirkan hal yang sama sepanjang hari.