Udara pagi itu di Bochum terasa amat menusuk hingga ke tulang, sebuah rasa dingin yang membuat setiap kali Bima menghembuskan napas maka dengan cepat bertransformasi menjadi kabut putih di udara. Stadion kecil Bochum II memiliki kesan seolah telah membawa Bima ke dunia yang berbeda — hamparan rumput sintetis berkilau di bawah sorotan matahari pagi, tribun yang tetap kosong, ditemani hanya oleh suara peluit dari pelatih yang memandu sesi latihan dan teriakan para pemain Jerman dengan aksen mereka yang kental dan berat. Berdiri di pinggir lapangan, Bima merasakan sepatu cleat barunya menjejak rumput untuk pertama kalinya, dan seragam biru Bochum II yang melekat padanya terasa kaku dan belum sepenuhnya nyaman di badan.
Ini adalah hari kedua dari latihan pramusimnya. Meskipun kontrak sudah ditandatangani tiga minggu sebelumnya di sebuah ruang rapat kecil di kawasan Jakarta Selatan, status Bima di klub ini belum benar-benar aman. Di lembar kedua kontrak itu terdapat satu paragraf yang ia baca berulang-ulang di dalam pesawat hingga hafal urutan katanya: masa percobaan selama tiga bulan, evaluasi medis berkala atas riwayat cedera lutut kirinya, serta hak klub untuk meninjau kembali perjanjian apabila perkembangan pemain dinilai tidak sesuai dengan target. Kalimat-kalimat itu disusun dengan bahasa hukum yang dingin dan sopan, namun maknanya sederhana saja bila diterjemahkan ke dalam bahasa lapangan: kau boleh masuk, tetapi pintu di belakangmu belum dikunci.
“Bima! Komm her!”
Suara itu datang dari arah lingkaran tengah, dilontarkan oleh Andreas Kessler, pelatih tim cadangan yang perawakannya pendek namun bersuara seperti pengeras suara stadion. Bima berlari kecil menghampiri, dan sesampainya di sana ia mendapati sepuluh pasang mata menatapnya dengan rasa ingin tahu yang sama sekali tidak disembunyikan. Ia adalah satu-satunya pemain Asia di ruang ganti itu, dan sejauh ini ia juga satu-satunya orang yang tidak ikut tertawa setiap kali pelatih melemparkan gurauan dalam bahasa Jerman.
“English, bitte,” kata Bima sambil mengangkat tangannya sedikit, campuran antara permintaan dan permintaan maaf.
Kessler mengembuskan napas panjang, lalu menepuk bahunya. “Okay. Two touches. Only two. You take three, you run.” Ia menunjuk garis samping dengan dagunya. “Understand?”
“Understand, Coach.”
Latihan itu bernama rondo, permainan kucing-kucingan di ruang sempit yang di Indonesia biasa mereka sebut “bola tikus”. Bentuknya sederhana: satu lingkaran kecil, dua orang di tengah berusaha merebut, sisanya mengoper secepat mungkin. Namun sederhana bukan berarti mudah. Kecepatan operan para pemain Jerman itu terasa satu tingkat lebih tinggi daripada apa pun yang pernah Bima hadapi di kompetisi kampus maupun di turnamen amal. Bola datang keras, rendah, dan selalu sedikit lebih cepat daripada perkiraannya. Tiga kali ia kehilangan bola dalam sepuluh menit pertama, dan tiga kali pula ia harus berlari mengelilingi lapangan latihan sementara yang lain melanjutkan permainan tanpa menunggunya.
Pada putaran keempat, paru-parunya terasa seperti dibakar dari dalam. Udara Bochum yang dingin itu masuk ke tenggorokannya seperti serpihan kaca. Ia teringat kalimat Pak Darus di ruang ganti Stadion Madya beberapa minggu lalu — santai saja, ini bukan liga Eropa — dan untuk pertama kalinya ia benar-benar mengerti betapa jauh jarak yang terbentang di antara dua kalimat itu.
“Kau terlalu banyak berpikir,” kata seseorang ketika ia kembali ke lingkaran dengan napas yang masih tersengal.
Bima menoleh. Marco berdiri di sampingnya, kedua tangan disembunyikan di dalam lengan jersey latihan, wajahnya merah oleh dingin. Marco Baumann, pemain sayap kelahiran Dortmund yang sudah tiga musim menghuni tim cadangan, dan satu-satunya orang di klub ini yang bahasa Inggrisnya cukup baik untuk diajak bercanda.
“Aku memang selalu berpikir,” jawab Bima.
“Itu masalahnya.” Marco mengetuk pelipisnya sendiri dengan telunjuk. “Di sini bola datang lebih cepat daripada kepalamu. Jadi jangan pakai kepala. Pakai kaki dulu, kepala belakangan.”
Bima tertawa pendek, walau tawanya lebih menyerupai embusan napas. “Di negaraku, pelatih bilang sebaliknya.”
“Di negaramu bolanya sopan,” kata Marco, lalu meninju bahunya pelan. “Di sini bolanya tidak punya sopan santun sama sekali.”
***
Sesi pagi berakhir pukul sebelas lewat. Ketika Bima melepas sepatunya di ruang ganti, ia merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan dan yang paling ia takuti: denyut tumpul di sisi dalam lutut kirinya, tepat di sepanjang garis bekas operasi. Bukan nyeri yang tajam, hanya denyut. Namun denyut itu memiliki ingatannya sendiri, dan ingatan itu membawanya kembali ke ruang fisioterapi di Jakarta, ke bau alkohol, ke suara Clara yang membacakan jadwal latihan pemulihan dengan nada yang dibuat-buat riang supaya ia tidak menyerah di tengah jalan.
Ia menekan lututnya dengan ibu jari, menahan napas, lalu melepaskannya.
“Nggak apa-apa,” bisiknya kepada dirinya sendiri, dalam bahasa Indonesia, di sebuah ruangan yang tidak ada satu pun orang di dalamnya memahami bahasa itu. “Cuma dingin.”
Dokter tim, seorang perempuan bernama Frau Neubauer, sudah memperingatkannya sejak hari pertama: lutut yang pernah dioperasi akan selalu bereaksi terhadap suhu rendah, dan reaksi semacam itu tidak selalu berarti ada kerusakan. Bima mengangguk saat itu, mencatat penjelasan tersebut baik-baik, tetapi pengetahuan dan ketenangan adalah dua barang yang sama sekali berbeda. Ia mengerti secara teori, dan tetap ketakutan secara praktik.
Di dalam lokernya, ponselnya menyala. Empat pesan menumpuk, seluruhnya masuk ketika ia sedang berada di lapangan.
Clara: “Latihan hari kedua gimana? Jangan sok kuat.”
Clara: “Aku baru selesai bongkar lemari. Ternyata dua puluh tujuh tahun hidup muat di dua koper. Menyedihkan sekaligus melegakan.”
Clara: “Bim, aku takut.”
Clara: “Bukan takut soal Belanda. Takut soal hal lain. Nanti aja ya, kalau kamu udah nggak capek.”
Bima menatap layar itu lebih lama daripada yang seharusnya. Di Jakarta sekarang pukul lima sore. Ia membayangkan Clara duduk di lantai kamarnya, dikelilingi tumpukan pakaian dan kardus, dengan rambut diikat asal-asalan seperti yang selalu perempuan itu lakukan setiap kali sedang tidak ingin memikirkan penampilannya.
Bima: “Baru selesai. Lututnya ngambek dikit, tapi masih temenan sama aku.”
Bima: “Dan Clar — kalau kamu bilang ‘nanti aja’, artinya kamu udah mikirin itu seharian. Jangan disimpen. Aku capek, tapi nggak pernah capek buat kamu.”
Balasan datang hanya beberapa detik kemudian, tanda bahwa Clara memang sedang menunggu di depan layar.
Clara: “Aiden nawarin nganter aku ke bandara tanggal 22. Dia udah beli kado perpisahan. Dia bahkan udah bikin playlist buat aku dengerin di pesawat, Bim. Playlist. Empat jam.”
Clara: “Dan aku bilang iya.”
Bima menatap dua baris itu, dan untuk beberapa saat lamanya udara di ruang ganti terasa lebih dingin daripada udara di luar. Ia mengerti persis apa arti kalimat tersebut: itu bukan pengkhianatan, melainkan kelanjutan wajar dari kebohongan yang mereka bangun berdua, dengan susunan batu bata yang mereka pasang sendiri, satu per satu, selama bertahun-tahun.
Bima: “Ya harus iya. Kalau kamu nolak, dia bakal nanya kenapa. Dan kita berdua nggak punya jawaban yang aman.”
Clara: “Kamu nggak marah?”
Bima: “Aku cemburu. Tapi cemburu sama orang yang lagi kita bohongin itu rasanya kayak marah sama korban. Nggak ada tempat buat berdiri.”
Beberapa detik berlalu tanpa balasan. Lalu:
Clara: “Aku benci kita jadi orang seperti ini.”
Bima mengetik, menghapusnya, lalu mengetik lagi. Pada akhirnya ia hanya mengirim satu kalimat.
Bima: “Aku juga. Tapi aku lebih benci kalau harus kehilangan kamu supaya bisa jadi orang baik.”
Ia memasukkan ponsel ke dalam tas, menutup lokernya, dan berjalan keluar tanpa memeriksa apakah pesan itu sudah dibaca atau belum.
***
Apartemen yang disediakan klub terletak dua belas menit berjalan kaki dari kompleks latihan: satu kamar sempit di lantai tiga sebuah bangunan tua, dengan radiator yang mengeluarkan bunyi ketukan setiap kali dinyalakan, dan jendela yang menghadap ke deretan atap genteng berwarna kelabu. Tidak ada penjual nasi padang di ujung jalan, tidak ada suara tukang bakso yang lewat, tidak ada klakson. Kesunyian di tempat itu begitu rapat sampai terasa seperti benda padat yang bisa disentuh.
Bima meletakkan tasnya, membuka koper yang masih separuh terisi, lalu mengeluarkan barang yang selalu ia keluarkan paling awal di mana pun ia menginap: selembar foto lama bertiga di lapangan futsal — dirinya, Clara, dan Aiden — dengan seragam lusuh dan wajah-wajah yang saat itu belum tahu apa-apa. Ia menyandarkan foto itu di meja kecil dekat jendela.
Ia menatapnya cukup lama.
Dulu ia mengira foto tersebut adalah sebuah kenangan. Belakangan ia menyadari bahwa foto itu sebenarnya adalah tagihan — tagihan atas sesuatu yang belum pernah ia bayar, dan bunganya terus berjalan setiap hari selama ia memilih diam.
Ponselnya bergetar. Panggilan video. Nama yang muncul di layar membuat perutnya melilit.
Aiden.
Bima menarik napas dalam-dalam, memeriksa sudut kamera supaya foto bertiga itu tidak ikut masuk ke dalam bingkai — lalu menyadari betapa gilanya tindakan tersebut, betapa jauh ia sudah melangkah sampai harus menyembunyikan foto persahabatan mereka sendiri dari salah satu orang yang ada di dalamnya.
Ia mengangkat panggilan itu.
“Bro!” Wajah Aiden memenuhi layar, dengan latar belakang ruang kerja dan dua monitor yang menyala. “Gila, muka lo pucet banget. Itu efek Eropa apa efek lo nggak makan?”
“Efek minus dua derajat,” jawab Bima, memaksakan tawa. “Di sini matahari cuma pajangan, Den. Nggak ada fungsinya.”
Aiden tertawa lepas. “Gue udah baca profil klub lo. Bochum II, Regionalliga. Gue sampe bikin spreadsheet, serius. Statistik striker di liga itu, rata-rata menit bermain, umur debut. Lo tau apa kesimpulan gue?”
“Apa?”
“Lo bakal butuh sabar. Bukan bakat — bakat lo udah punya. Sabar.” Aiden menunjuk kamera dengan telunjuknya. “Dan sabar itu bagian yang paling lo benci sejak SMA.”
Bima terdiam sejenak, lalu tertawa kecil, dan kali ini tawanya jujur. “Lo emang nggak pernah gagal bikin gue kesel sambil bener.”
“Itu jasa gue buat dunia.” Aiden bersandar ke kursinya. “Serius, Bim. Gue bangga. Gue tau lo abis cedera, gue tau lo dibilang telat mulai. Dan lo tetep berangkat.”
Ada jeda pendek. Aiden menggosok tengkuknya, gerakan yang selalu ia lakukan sebelum mengatakan sesuatu yang penting.
“Gue mau cerita satu hal.”
Jantung Bima naik sampai ke tenggorokan. “Cerita apa?”
“Gue yang nganter Clara ke bandara tanggal 22. Dia udah setuju.” Aiden tersenyum, dan senyum itu adalah senyum orang yang sedang menyimpan harapan dengan hati-hati sekali, seperti orang memegang gelas yang terlalu penuh. “Gue nggak bakal ngomong apa-apa di sana. Gue nggak mau ninggalin dia dengan beban keputusan pas dia mau terbang. Gue cuma pengen dia inget, waktu pesawatnya lepas landas, ada orang yang bener-bener ada buat dia.”
“Itu…” Bima menelan ludah. “Itu bagus, Den.”
“Gue mau nanya satu hal, dan gue mau lo jujur.” Aiden menatap kamera lurus-lurus. “Menurut lo, gue lagi ngelakuin hal yang bener, atau gue lagi nyiksa diri gue sendiri pelan-pelan?”
Pertanyaan itu jatuh tepat di tengah-tengah ruangan sempit di Bochum tersebut, dan Bima merasa dirinya sedang berdiri di atas lapisan es tipis yang bunyi retaknya mulai terdengar.
Ia bisa menjawabnya sekarang. Satu kalimat saja. Den, jangan berangkat ke bandara itu, ada yang harus gue kasih tau.
Ia membuka mulut.
Yang keluar adalah, “Lo lagi ngelakuin hal yang bener, Den.”
Aiden mengembuskan napas lega, seolah ada karung berat yang baru saja diturunkan dari punggungnya. “Oke. Oke. Makasih, Bro. Kadang gue butuh orang lain yang bilang gue nggak gila.”
“Lo nggak gila,” kata Bima pelan. “Lo cuma terlalu baik buat situasi kayak gini.”
“Situasi apa?”
Bima tersenyum, dan senyumnya terasa seperti luka yang dijahit terlalu terburu-buru. “Situasi hidup. Semua orang lagi ngejar sesuatu, Den. Yang baik biasanya dapet giliran paling terakhir.”
Setelah panggilan itu berakhir, Bima duduk di tepi kasur untuk waktu yang sangat lama, dengan ponsel yang masih menyala di tangannya sampai layarnya padam dengan sendirinya.
***
Malam harinya Marco mengetuk pintu apartemennya sambil menenteng dua kotak kebab dan satu botol air mineral besar.
“Pemain baru tidak boleh makan sendirian di minggu pertama,” katanya sambil menerobos masuk tanpa diundang. “Itu bukan aturan klub. Itu aturan aku.”
Mereka duduk di lantai karena di kamar itu hanya ada satu kursi. Marco bercerita tentang musim-musim sebelumnya, tentang dua pemain yang naik ke tim utama dan lima yang menghilang begitu saja, tentang bagaimana Regionalliga adalah liga yang memakan orang tanpa pernah mengumumkan nama-nama yang dimakannya. Bima mendengarkan sambil sesekali mengangguk, dan untuk pertama kalinya sejak mendarat, kepalanya terasa agak ringan.
Sampai kemudian Marco melihat foto di meja dekat jendela.
“Itu siapa?” tanyanya sambil menunjuk dengan dagu.
Bima menoleh, dan sepersekian detik keterlambatannya menjawab sudah cukup untuk menjadi jawaban itu sendiri.
“Teman-teman lama,” katanya akhirnya. “Waktu sekolah.”
“Yang perempuan itu cuma teman?”
“Kenapa kamu nanya begitu?”
Marco mengangkat bahu sambil mengunyah. “Karena kau menaruh foto itu menghadap kasurmu, bukan menghadap pintu. Orang menaruh foto teman di dekat pintu supaya kelihatan tamu. Orang menaruh foto yang penting di tempat yang dia lihat sebelum tidur.”
Bima tertawa, kali ini benar-benar tertawa, walaupun ada rasa dingin yang menjalar di tengkuknya. “Kamu ini pemain sayap atau psikolog?”
“Aku punya tiga saudara perempuan,” jawab Marco datar. “Itu pendidikan yang lebih keras daripada universitas mana pun.”
Setelah Marco pulang, Bima mencuci kedua tangannya lama sekali di wastafel, lalu berdiri menatap foto itu — dan pelan-pelan memutar bingkainya sedikit, sampai wajah Clara tidak lagi menghadap tepat ke arah kasurnya.
Ia sendiri tidak tahu apakah tindakan itu bentuk kehati-hatian, atau bentuk pengecut yang paling kecil dan paling menyedihkan yang pernah ia lakukan.
***
Keesokan paginya, ia datang ke kompleks latihan empat puluh menit lebih awal daripada jadwal.
Tidak ada seorang pun yang menyuruhnya. Ia hanya tidak sanggup lagi berada sendirian di kamar itu bersama foto di atas meja dan percakapan semalam yang terus berputar di kepalanya. Maka ia berganti pakaian, keluar ke lapangan yang masih berselimut embun beku, dan mulai melakukan hal paling tua yang ia tahu: menendang bola ke arah gawang kosong, berulang-ulang, sampai jemarinya mati rasa dan pikirannya berhenti bicara.
Delapan puluh tendangan. Ia menghitungnya dalam hati, persis seperti dulu di lapangan sekolah, persis seperti dulu ketika satu-satunya hal yang ia perebutkan dengan Aiden hanyalah siapa yang pulang paling akhir.
Ketika Kessler tiba pukul delapan lewat seperempat, pelatih itu berhenti di pinggir lapangan dengan gelas kopi di tangannya, memperhatikan tanpa berkata apa pun selama hampir sepuluh menit.
Baru setelah Bima menghentikan bola terakhir dengan telapak kaki, Kessler bersuara.
“Kau datang pagi karena ingin cepat siap,” katanya dalam bahasa Inggris yang berat dan lambat, “atau karena ada sesuatu di kepalamu yang tidak ingin kau ajak bicara?”
Bima menoleh, terkejut. “Coach?”
Kessler mengangkat bahu. “Aku sudah dua puluh dua tahun melatih pemain muda. Yang datang pagi karena ambisi, tendangannya rapi. Yang datang pagi karena melarikan diri, tendangannya keras.” Ia menunjuk gawang dengan gelasnya. “Tendanganmu keras sekali pagi ini.”
Bima tidak menjawab. Uap napasnya mengambang di antara mereka berdua.
“Aku tidak sedang bertanya soal urusan pribadimu,” kata Kessler kemudian, nadanya melunak. “Aku hanya memberitahumu satu hal, karena aku pernah kehilangan pemain bagus gara-gara ini. Lapangan itu tempat yang jujur, Bima. Ia tidak peduli pada apa yang kau sembunyikan di luar sana. Tapi ia selalu, selalu, memperlihatkannya.”
Pelatih itu menepuk punggungnya sekali, lalu berjalan menuju ruang ganti sambil bersiul pelan, meninggalkan Bima berdiri sendirian di tengah rumput yang membeku.
Angin bertiup dari arah utara. Bima menengadah dan melihat langit Bochum berubah warna, dari kelabu terang menjadi kelabu tebal seperti kapas yang basah.
Ponselnya bergetar di saku celana latihannya.
Clara: “Bim, aku udah check-in online. Besok lusa aku terbang.”
Clara: “Utrecht ke Bochum itu cuma dua setengah jam naik kereta. Aku baru cek tadi malam. Dua setengah jam, Bim.”
Clara: “Dan aku nggak tau harus seneng atau harus takut.”
Bima menggenggam ponsel itu erat-erat, merasakan dingin logamnya menembus telapak tangan.
Ia belum sempat mengetik balasan. Sebutir putih jatuh di atas layar, mencair pelan di antara huruf-huruf itu, disusul sebutir lagi, lalu sebutir lagi.
Salju pertama musim itu mulai turun di Bochum.