Kedua orang itu duduk dengan posisi berhadapan, didepan mereka tepatnya sebuah meja makan ada sebuah kue kecil yang lilinya baru saja dinyalakan. Indi tersenyum melihat kue cantik pesanan ayahnya itu, sedangkan abas hanya tersenyum datar melihat indi.
" Ayo kita tiup lilinnya. " ucap abas memajukan kursinya.
" Eh nanti-nanti, ayah sebelum tiup lilinnya kita tuh harus membuat harapan dulu. " ucap indi dengan nada senangnya.
" Memangnya harus? ." ucap abas dengan nada sebalnya, namun wajah kesal itu tidak menutupi wajah raut ke ayahan.
" Harus, dah ah aku mau make a wish dulu. tuhan... hari ini ulang tahun mama, sekali lagi aku cuma minta beberapa hal aja, tolong tempatin mama di sisi terindah mu ya, aku nga mau mama sedih disana. bilang ke mama indi selalu kangen sama mama ya walaupun indi nga pernah liat wajah mama sih, dan tuhan juga bilang dong ke mama harus mampir ke mimpi indi biar indi bisa lihat mama. udah untuk tahun indi permintaan indi masih sama, kabulin ya tuhan. aamin. "
abas hanya diam menatap anak gadisnya itu berdoa, setiap tahun mereka selalu merayakan ulang tahun mamanya indi, dan harapan anak itu tidak berubah sekalipun. padahal abas selalu berusaha untuk melupakan tanggal hari ini, tapi indi akan selalu mengingatnya dan memaksa dia untuk memesan kue.
indi membuka matanya setelah kata amin itu terucap, dia tersenyum melihat wajah ayahnya yang menatap dia dengan wajah seperti sangat memperhatikannya.
" Ayah udah make a wish? "
" Udah. " jawab abas santai. " yaudah ayo tiup lilinnya." sambung dia.
" 1, 2, 3." ucap indi dan mereka pun meniup lilinnya.
[Terkadang, seseorang yang diam tidak peduli bisa saja diam-diam merindukan seseorang, entah itu masih ada atau sudah pergi]
~****~
Beberapa siswi dikantin diam-diam mencuri pandang ke arah meja yang hanya dihuni satu orang pemuda tampan di sekolah ini. pemuda itu sering sekali disebut,
" Gila, mas elegan kalau minum kopi duduknya setegak itu dongs. "
" Dari cara duduknya aja udah buat aku minder untuk mendekat. "
" Beda banget yah sama cara minum kopi ala cowok lainnya, dia mah duduk harus tegak, kaki harus menyilang dan bawa ipad dongs. "
" Kira-kira apa yah yang lagi dia liat di ipad, fokus banget kayanya. "
" Menurut aku sih, kayanya tuh dia lagi baca berita seputar dunia bisnis gitu nga sih? secara kan dia kelihatan kaya anak-anak pembisnis gitu. "
ya itulah mas elegan, semua apa pun yang dilakukan pemuda ini selalu terlihat elegan dan berkelas dibanding cowok lainnya. nama aslinya adalah jaemin atau nama kecilnya jae, dia adalah cowok yang sangat kalem dan diam menurut siswi-siswi sih.
jaemin mengambil cangkir berisi kopi itu dengan perlahan lalu menyerupunya. memang benar menurut info yang dia dapat di internet, bahwa dipagi hari meminum kopi sambil membaca news item benar-benar sangat menenangkan, apa lagi jika dilakukan disekolah.
ya walaupun ditatap beberapa anak lainnya, tapi jaemin tidak peduli, angap saja mereka hanya seorang fans yang hanya berani menatap idolnya dari kejahuan. lagian jaemin sendiri juga binggung kenapa mereka selalu curi-curi pandang ke arahnya, padahal jaemin tidak kenal. ya sekali lagi mereka hanyalah fans.
*PING
Anak TOLOl
Eh jae kamu dimana?, dengan siapa, semalam berbuat apa?
jaemin menatap jijik dengan pesan yang tiba-tba muncul dilayar ipadnya. bisa-bisanya dia membaca pesan dari indi ini sambil ikutan bernyanyi?!
" Haaa... kenapa malah aku ikutan nyanyi?!." ucapnya dengan kesal akan penyakit bodoh hasil tularan dari indi ini. lalu dia tersenyum karena sebuah boklam lampu tiba-tiba muncul dari kepalanya.
*Aku dikantin, lagi sendiri, semalam cuma di rumah.
Anak TOLOL
Ihh aku bacanya sambil nyanyi dong :> kamu ini ngetiknya sambil nyanyi juga nga sih?
*Nga lah!
*Ada apa?
*Jangan mengatakan bahwa kamu memerlukan bantuan ku _-
Anak TOLOL
Ihh jadi kamu selama ini tidak ikhlas dalam offering help to me?
*Jangan pernah menanyakan iklas atau tidaknya bantuan pada seseorang yang sudah atau akan membantu kamu. itu nga sopan.
Anak TOLOL
Iyaaa...tapi aku ngechat bukan buat dapet ceramahan loh. aku cuma mau berbagi kabar baik.
jaemin menyipitkan mataya binggung, kabar baik apanya, malah indi lebih sering memberikan kabar buruk saja. entah itu masalah anak itu atau justru masalah yang akan datang ke jaemin sendiri. jaemin nga yakin kabar yang akan disampaikan benar-benar kabar baik.
*kabar apa?
Anak TOLOL
*mengetik...
Jaemin menunggu dengan sabar, entah kabar apa tapi indi mengetik dengan sangat lama. atau jangan-jangan nanti dia hanya mengirim pesan singkat. sambil menunggu, dia mengambil cangkr kopinya dan menyeruput kopi itu, matanya sesekali melirik ipad.
Kamu tahu lomba mural yang beberapa minggu lalu aku ikut kan? tadi malam aku dapat email dan kamu tahu?! aku bahkan nga nyangka, nga nyangkaaa banget kalau aku. cewek yang sering kamu katain bodoh tapi imut ini bisa menang lomba mural itu jaeeeee! :'> gilaaa aku seneng banget dong.
Akhirnya sekian lama mendambakan inii..sekarang aku dapat beasiswa ke sekolah seni dong :'>.
PRAKKK!
Cangkir ditangan jaemin turun dan jatuh membentur dengan cepat nan kasar dilantai, menimbulkan suara yang megejut beberapa orang dikantin ini. apa barusan kabar baiknya? mata jaemin masih tidak percaya dengan apa yang indi katakan. Lomba?! beasiswa?! SEKOLAH SENI?!, itu berarti indi akan keluar dengan wajah bahagia dari sekolah ini dan itu juga berarti indi akan meninggalkan jaemin di sekolah ini bersama dengan beberapa anak arukan?!. ohh tidakkk!!! jaemin tidak bisaa ditinggal indi, dia!
walaupun indi cewek bodoh yang hanya bisa nyusahin tapi hanya cewek itu teman yang paling dekat dengan jaemin di dunia ini.
Nanti istirahat nga usah jajan dikantin yah, soalnya hari ini aku bawa nasi kuning. untuk merayakan keberuntungan ku :>.
*Sekarang kamu dimana!
Anak TOLOL
Di parkiran, ini mau masuk kelas
*Otw kelas!
indi mengerutkan alisnya, dia binggung dengan sikap si jae ini. kadang cowok itu dingin, kadang juga baik, tapi kadang juga tukang pamer, dan emosinya itu masih susah indi mengerti. indi tidak mau ambil pusing dia memilih menaruh helmnya dan pergi ke kelas. sebentar lagi dia akan pindah sekolah, haa rasanya sangat menyenangkan sekali, sebentar lagi dia akan terlepas dengan uang bulanan sekolah.
karena kelasnya dilantai satu dia tidak perlu repot-repot mengeluarkan tenaga, indi bisa melihat si jaemin berjalan ke koridor sebrang, mata cowok itu bahkan menatap indi dengan tatapan yang nga indi mengerti. tapi indi suka melihat jaemin yang sedang berjalan seperti itu, dia terlihat seperti model yang sedang fashion show, jaemin sangat keren!.
" Indi! " teriak jaemin masih jauh dari indi yang sudah sampai di pintu.
indi diam menunggu cowok itu sampai, tapi sepertinya jaemin memang nga ada niatan buat lari, cowok itu cuma mepercepat langkahnya saja dasar jaemin mau sebagaimana apapun dia tetap harus terlihat tenang walaupun sebenarnya lagi buru-buru.
" ndi, tentang beasiswa kamu serius mau ambil itu? " ucap jaemin penuh harap.
" ho? ya kau ambil beasiswanya, kenapa emang? kamu iri yah. " goda indi.
jaemin melihat wajah indi, sepertinya anak ini bahagia sekali. masa dari raut wajah jaemin saja indi tidak tahu emosinya sekarang.
" hey, mana mungkin anak macam aku iri sama kamu, aku bisa aja dari awal udah sekolah disana." ucap jaemin dengan nada kesal.
indi berdecih, keluar lagi kan kesomongan jaemin ini. hah untung saja indi bukan orang lain jadi dia sudah kebal dengan kesombongan anak kaya ini.
" Ya ya ya, jadi gimana, aku keren kan bisa menang. "
" ya." jawab jaemin menghindari tatapan indi.
" ya apa nih? "
jaemin terbatuk dan memalingkan wajahnya.
" ya keren lah, itu kan yang kamu mau. " ucap jaemin dengan nada dibuat santai, indi tersenyum melihat wajah malu jaemin ini benar-benar langkah sekali. jarang sekali bukan jae memujinya.
" Ogwhh apa bahasa jepangnya? ah yaa kawaii." indi tersenyum sekaligus menoel-noel dagu jaemin.
" Apaan sih, ayo masuk. aku dilihatin dari tadi. "
indi menatap sekita benar saja banyak anak lain yang menatap mereka.
" Yaudah ayo masuk. " ucapnya mengandeng tangan jaemin dengan semangat.
[Bahkan sekali lagi, orang yang peduli terhadap mu bahkan bisa saja diam-diam menyukai mu lebih dari apa yang kamu pikirkan]