Sehabis mengantarkan baju pelangan abas terduduk santai dikursi ruang tamu. tak lupa abas juga memijat kecil tangannya sendiri, maklum saja kerjanya adalah tukang laundry tentu saja tangannya akan sangat lelah. walaupun dia adalah tukang laundry setidaknya abas memiliki ruko sendiri yang menyatu dengan rumahnya dan tidak menjadi pegawai orang lain.
abas tidak mau jadi bawahan, lebih baik seperti ini dia menjadi pemilik dan menjadi pegawai sendiri, tidak ada yang mengatur dan tidak ada yang mengomeli. sejak indi kecil dia sudah merintis bisnis laudnry ini sehingga sudah banyak orang yang tahu dan banyak juga yang menjadi pelangan tetap abas.
walaupun memang lelah tapi sejujurnya abas lebih menikmat ini dan yah lihat saja, indi bisa tumbuh dan masih bisa makan enak dan tentunya sekolah berkat bisnis kecil ini. dia juga tidak ada niat memperbesar bisnis laundrynya ini, memang kenapa abas hanya ingin kerja sesuka hati. bahkan jika dia sedang tidak niat kerja abas akan menutup rukonya dan menonton acara bola kesukaannya saja.
Menurutnya hidup itu harus dinikmati dengan benar, namun jangan begitu santai karena bisa saja apa yang sudah dicapai lepas begitu saja.
namun ada hal yang membuatnya sedikit jengkel, matanya melirik meja disana ada angklop putih yang tidak sengaja abas temukan dipintu rumahnya. dia ambil amplop itu dan membukanya, didalam ternyata ada beberapa lembar uang.
apa maksudnya ini? perasaan dia tidak pernah minta uang pada siapapun sekarang. kenapa uang seperti ini ada lagi, ini benar-benar menjengkelkan, lalu abas merogoh sakunya dan mengambil pematik. yah kalian tahu kan apa itu pematik? lalu abas membakar semua uang itu.
apanya, dia tidak butuh uang ini. orang yang mengirimkannya uang sepertinya masih mengawasi dia, yah bisa dibilang abas memiliki masa lalu yang suram, masa muda yang menjengkelkan kalau di ingat kembali. perlahan uang itu berubah menjadi abu, dan dia menikmati itu.
sebuah suara motor terdengar, indi sudah pulang rupanya.
" Ayah, ayah bakar apa? " tanya indi binggung, baru masuk sudah melihat hal aneh dirumahnya.
" Oh ini undangan dari mantan. "
" Aku nga yakin, ayah punya mantan. " ucap indi dengan malas.
" Sudahlah, mau ayah belikan apa? " tawar abas, dia tahu anak ini harus diberi makan agar tetap hidup.
" Agh..tidak perlu ya, malam ini jaemin janji akan teraktir aku dicafe mahal. " ucanya dengan wajah tersenyum.
" Ya sudah ayah mau ke warung pecel lele. " ucap abas sambil berdiri.
" Kamu puasa saja sampai jaemin menjemput. " ucapnya keluar rumah. dasar anak muda.
indi hanya menatap sinis abas yang mulai pergi dengan motor kesayangannya itu. dasar ayah, indikan sedang ketimpa cobaan masa nga peka sih. sudahlah lebih baik indi sekarang merawat wajahnya karena nanti malam dia harus pergi, dia jadi tidak sabar bertemu jaemin temannya itu.
disebuah ruangan yang cukup luas dan dingin karena AC ada beberapa anak sekolah yang masih sibuk walau kini sudah malam hari. mereka sibuk karena tugas organisasi sekolah yang mereka masuki.
" Bagian itu potong saja, aku kelihatan jelek kalau dari kanan dan juga naikan sedikit cahayanya, narasumber terlalu gelap. kasihan nanti tidak terlihat. " ucap sunoo lalu meminum kopinya.
" Sunoo, bagian artikelnya ada tambahan baru. " ucap cewek berkacamata.
" Apa? "
" Aku dapat berita, kasus kakak kelas yang mati itu, ternyata orang tuanya juga ikut di introgasi. "
" Lalu kamu mewawancarainya? "
" Ya, jawabannya tidak terduga dan bahasanya juga sedikit kurang sopan. " ucap cewek itu dengan wajah muram masih tidak percaya dengan hasil wawancaranya tadi.
" Memangnya kenapa? "
" sepertinya kamu harus lihat sendiri nanti, tapi yang jelas menurut ku, alasan kak tyuzu itu berani mengkahiri hidupnya karena ada tekanan dikeluarganya. sayang sekali bukan aku saja sedih ternyata anak secantik dan seberprestasi seperti dia hidup dibawah naungan keluarga yang seperti itu. " ujarnya dengan raut sedih seakan merasakan bagimana menderitanya kakak kelas itu.
" Ya kadang gitu, permasalahan kadang berawal dari keadaan keluarga. jadi itulah pentingnya keluarga yang harmonis, bukan hanya tentang menikah dan membuat anak. dan juga bukan hanya tentang mencari nafkah dan membesarkan anak. " ucap sunoo dengan pelan.
" Tapi juga harus tentang bagaimana cara orang tua mengasihi anaknya dengan setulus hati dan jiwa mereka, menekan anak untuk melakukan apa yang orang tua inginkan kadang akan berujung dengan hasil yang pahit. " sambungnya.
cewek berkaca mata itu tidak berkedip sama sekali dengan apa yang cowok imut ini katakan, bagaimana yah itu tedengar seperti unek-unek terdalam sunoo tentang mirisnya kelakuan orang tua terhadap anak. ya walaupun sunoo kadang menyebalkan dan suka mengatur anggota lain tapi harus dia akui kadang sunoo bisa berpikir dengan dalam.
rasanya sunoo tidak cocok menjadi wartawan sekolah, cowok ini jutru lebih cocok jadi dokter psikolog.
" Jangan tatap aku seperti itu, kembali ketugas mu sana! " jengkel sunoo sudah berapa lama dia ditatap seperti itu oleh cewek ini.
Jaemin menatap jam tangannya, sudah berapa lama dia menunggu diruang tamu rumah indi ini? cewek itu lama sekali bersiap. padahal mereka hanya perlu ke cafe tapi harus semerepotkan ini.
" Jaemin ayo. "
jaemin menatap indi yang memakai kaos pendek hitam, dan celana kulot berwarna abu-abu. tapi ada sedikit yang berbeda dengan wajah indi, cewek ini sedikit tambah putih, dia pakai apa sih? Jaemin berdiri, dan mencolek pipi indi dengan satu jarinya. apa ini?
" Kamu memakai apa? "
" Apa sih, itu cream tahuu.." jelas indi dengan kesal.
jaemin buru-buru mengelap jarinya dengan tisu yang ada dimeja. indi juga hanya menatap binggung kelakuan cowok ini memangnya wajah indi ada virusnya apa?!
" Itu cream pemutih ya? jangan-jangan cream abal-abal, lagian sejak kapan kamu pake cream gitu sih. " ucap jaemin dengan cepat.
" Sejak hari ini, dan ini tuh bukan cream abal-abal aku beli ini tiga ratusan loh. "
" Tapi itu kamu pakai cream paginya yah? " tanya jaemin dengan wajah tidak tenangnya. indi meringis malu.
" Iya, faoundatinya habis jadi aku pakai cream paginya. "
" Ya sudah ayo berangkat. " ajaknya dengan tidak sabar.
" Ya sudah kamu duluan ke mobil aku mau ambil tas. " ucap indi langsung lari.
jaemin membuang napasnya lelah, dia menurut dan keluar dari rumah indi. lalu masuk kedalam mobil yang terparkir cantik didepan rumah cewek itu. jaemin melihat keluar jendela, indi yang sedang mengunci rumahnya.
melihat indi yang sudah pintar merawat kulitnya membuat jaemin mengelus d**a. sejak kapan dia menemani indi? ah ya sejak kelas sepuluh dan sekarang bocah belagu itu kini sudah tumbuh besar. pantas saja bundanya selalu menyuruh jaemin sedikit menjaga jarak pada indi, mungkin bunda takut jaemin jatuh hati pada indi dan mereka melakukan hal diluar batas.
" Ayo jaemin berangkat. " ucap indi masuk kedalam mobil.
" Apa sih jae memandang ku terus, aku cantik yah malam ini? " goda indi menangkup pipinya dengan telapak tangan. jaemin tersenyum dan mengapai pipi indi, membuat sopir didepannya menatap kepo apa yang akan terjadi.
apa yang akan tuan jaemin lakukan pada teman terdekatnya itu apakah dia akan uhhuuukk uhhukk? kepo si supir, mengawasi dua abg itu dari cermin mobil.
jaemin mengelus pipi indi tak lupa dia memajukan badannya sambil tersenyum, wajahnya pun mendekat. indi menahan napas, dia perlahan memundurkan tubuhnya, tapi percuma saja. semakin indi menjauh semakin jaemin mendekatinya. tangan kanan jaemin mengapai pinggang indi, dia tersenyum menampakan giginya.
indi berusaha meneguk ludahnya walaupun sulit, sedangkan jaemin semakin memajukan wajahnya. ah apakah indi akan melakukan adegan drama romance, apa jaemin menyukainya? ah tidak indi tidak siap bahwa hubungan mereka yang awalnya TTD sekarang akan jadi TTP.
jaemin semakin dekat, semakin dekat. lalu senyumnya pun surut menjadi datar menatap indi.
" Jangan mengada. mana mungkin kentang kaya kau bisa menarik cowok tampan seperti ku. " ucap jaemin kembali posisi duduknya semula.
sudah indi duga, jaemin tetaplah jaemin yang hanya cowok elegan dan sombong.
" Jalan pak. " ucap jaemin menatap ipad kesayangannya.
indi tersenyum memandangi jaemin, yah malam ini akan indi habiskan dengan jaemin. melupakan semua yang terjadi padanya disekolah, semoga saja pergi dengan jaemin membuat indi lupa dengan pembunuh itu.
" Jaga mata mu itu. " ucap jaemin tak memandang indi.
-O0O-
" Woah!. Orang tua kak tyuzu juga di introgasi!. " ucap jeno dengan wajah terkejut.
" Benarkah? apa mereka juga ada sangkut pautnya sama kak tyuzu. " tanya chenle dengan wajah binggungnya.
" Entahlah, yang aku dengar keluarga kak tyuzu itu memang kacau, bahkan semua anak dikelasnya sedang heboh tentang sikap kak tyuzu yang aneh dari dulu. " ucap jisung dengan raut malasnya.
" Pantas saja, saat hari itu kak tyuzu terlihat gelisah. " ucap jeno menyandarkan tubuhnya kek kursi, jisung menatap jeno apa maksud anak itu, apa jeno mengetahui sesuatu.
" Gelisah? " tanya jisung.
" Ya, saat hari kak tyuzu jatuh, sebelum kejadian itu. aku tidak sengaja melihat kak tyuzu duduk ditaman. " jeno mengatakan itu sambil menatap keatas seakan berusaha mengingat sesuatu.
" Wajahnya terlihat sangat gelisah, tapi ada yang aneh. " sambung jeno.
jisung dan chenle memajukan badannya,mereka memasang raut penasaran karena jeno bercerita dengan nada yang amat serius, membuat ceritanya jadi sedikit menarik untuk mereka.
" Aneh? " tanya chenle.
" Iya! saat itu kak tyuzu, kalau tidak salah aku lihat dia memegang sesuatu. seperti flasdisk tapi bisa saja bukan. lalu kemudian dia menelpon seseorang. "
" siapa? " tanya jisung dengan amat sangat penasaran.
" Entahlah, aku hanya hanya melihat, tidak menguping. karena itu perbuatan buruk. "
chenle dan jisung terdiam, kalau seperti itu berarti sebelum kak tyuzu tewas berarti dia telah mengalami sesuatu.
" Sehabis menelpon, dia pergi. mungkin menemui seseorang. " celutuk jeno.
chenle menatap jeno dengan datar, kalau dia merasa aneh kenapa tidak cerita sejak dulu. chenle mendekati jeno lalu kemudian menjtak kepala anak itu.
TAK!
" Kalau kamu tahu sesuatu harusnya sejak dulu cerita!. " kesal chenle.
jeno mengelus kepalanya dengan bibir cemberut.
" Itu bisa saja memberikan titik terang kasus kak tyuzu ini, kenapa kamu tidak bersaksi saja hah?!. " sambung chenle kembali ingin menjitak anak itu.
jisung bergerak dan membawa kepala jeno itu ke jaketnya, melindungi si jeno di ketiaknya agar chenle tidak menjitaki anak ini lagi.
" Berhenti, jangan ketuk kepalanya terus. bagaimana kalau dia mengalami pendarahan otak? " ucap jisung membela jeno.
" iya benar itu jisung. " ucap jeno dibalik ketiak jisung.
" Lagian, kalau pun jeno mengetahui sesuatu lebih baik dia tidak bersaksi. " ucap jisung dengan nada serius.
chenle bingung apa sih maksudnya si jisung ini, bukankah seharusnya ini dapat membantu kak tyuzu. siapa tahu itu benar, bahwa sebenarnya kak tyuzu itu dibunuh.
" Kenapa malah seperti itu? harusnya jeno bersaksi!. " kesal chenle mendorong badan jeno tidak begitu kuat.
jisung membuang napas lelahnya, si chenle ini memangnya tidak mengerti yah. atau jisung yang salah pilih teman?
" Kalau jeno bersaksi, maka reputasnya akan menjadi buruk seperti siswi baru itu. memangnya kamu tidak lihat bagaimana siswi baru itu ditatap semua anak disekolah?! dia itu menjadi saksi tapi justru dipandang seakan menjadi tersangka. " jelas jisung dengan serius.
chenle terdiam, yah kalau di pikir lagi memang benar sih, tapi itu tetap saja salah bukan tapi yah ah! serba salah intinya. lagian mungkin anak seperti jeno pasti tidak kuat ditatap seperti itu. apa yang dikatakan jisung memang ada benarnya, kenapa chenle tidak memikirkan itu.
" Benar juga, yah sudah jeno. maka kamu diam saja pura-pura tidak tahu. aku tidak tega kalau kamu jadi saksi nanti. "
jeno keluar dari jaket jisung dia menatap chenle dengan senyum manisnya, ah beruntungnya dia memiliki teman seperti chenle, yang walaupun jahat tapi tetep saja baik.
" Wah tumben perhatian. " puji jeno dengan senyum manisnya.
" Apanya?! " kesal chenle membuang muka.
jisung menatap kedua anak itu dengan senyumnya, kemudian dia menggambil minum namun pandangannya sedikit jadi terkejut karena meja disebrang ada seseorang yang mungkin dia kenal. chenle juga menatap kearah yang sama seperti jisung, dia juga mengerutkan alisnya.
" Dia Siswi baru itu kan? " binggung chenle, jeno pun ikut menatap meja sana.
" Wah iya itu anak baru itu, namanya siapa? ah ya indi! " ucap jeno dengan semangat.
" Tapi kenapa dia disini? " binggung jeno dengan wajah polosnya.
jisung dan chenle hanya menatap indi dengan wajah serius mereka, sibuk dengan pikiran masing-masing. jeno menggambil minumnya melihat jisung dan chenle jadi aneh membuat jeno jadi binggung, sebenarnya ada apa sih dengan mereka? seperti sedang mengawasi indi saja. padahal cewek itu tidak terlihat cantk-cantik amat.
benar saja apa yang dikatakan jaemin di chat waktu itu, indi kira jaemin memang akan membawanya dicafe mahal tapi ternyata cafe seperti biasa hanya saja namanya memang cafe mahal. indi memotong sebuah daging yang entah apa namanya dia lupa, dia hanya menunjuk-nunjuk gambar menunya tanpa menyebut namanya. karena semua nama menu disini menggunakan bahasa inggris yang sangat belibet, malu kan kalau dia salah mengucap, untung saja malam ini jaemin yang traktir jadi indi tidak perlu syok melibat billnya nanti.
" Jaemin, kamu yakin hanya pesan kopi saja. " tanya indi dengan muka datarnya.
" Ya, Kenapa memang, kita kan ingin bertemu bukan makan malam. " ucap jaemin dengan wajah coolnya. mata indi berubah menyipit menatap jaemin.
" Kalau begitu aku makan dulu. " ucapnya langsung memasukan daging yang sudah indi potong.
jaemin memutar bola matanya malas, tapi tidak apalah indi makan. dia yang mengajak cewek ini kesini maka dia juga yang harus memberi makan, kasihan anak orang nanti gemetaran karena diajak jalan tidak diberi makan. untunglah jaemin adalah anak kaya, coba saja dia hanya cowok miskin yang suka jalan-jalan saja pasti indi hanya akan meminum air putih saja.
" Jaemin bagaimana dengan sekolah mu? " tanya indi sambil mengunyah.
Jaemin menaruh cangkirnya dengan perlahan, lalu menatap indi.
" Harusnya aku yang tanya hal itu pada mu, bagaimana sekolah mu? " tanya jaemin.
indi mengerutkan wajahnya, dia bahkan meletakan pisau dan garpunya. pertanyaan jaemin ini membuat napsu makannya berkurang sekarang.
" Agh itu, aku hanya sedang tidak saja. " ucap indi menunduk.
" Maksud mu? " binggung jaemin.
" Beberapa anak disekolah itu, memandang aku dengan aneh. seakan aku ini yang salah, aku kan jadi tidak enak jika dipandang seperti itu. " ucap indi dengan kesal.
" kalau begitu, jangan kemana-mana sampai gosipnya memudar. " saran jaemin menyruput kopinya lagi.
" Bicaramu seperti yeji. " ucap indi.
" Yeji? " tanya jaemin menggangat salah satu alisnya.
" Ya, dia teman ku dikelas dan hanya kami cewek yang ada dikelas lukis, kalau kamu mau tahu. " ucap indi mengerucutkan bibirnya. jaemin mengedipkan matanya, dia pikir yeji ini cowok tapi ternyata cewek.
" Berteman baiklah, jangan cari masalah lagi. " ucap jaemin datar. indi menatap jaemin, memangnya dia ini terlihat seperti cewek yang suka cari masalah yah.
" kalaupun kematian siswi itu semakin panjang aku harap, kamu tidak ikut terlibat lagi. " jaemin menatap indi dengan serius. indi terdiam apa maksudnya, memangnya kasus tyuzu ini akan sepanjang apa. jaemin membuat indi takut saja.
" Karena kamu kan tidak tahu, dia itu dibunuh orang atau bunuh diri karena tekanan orang tua. "
indi meneguk ludahnya, perkatan jaemin ini benar-benar membuatnya was-was. bagaimana jika jaemin sadar bahwa indi telah membohonginya, jaemin kan anak yang juga susah untuk percaya begitu saja pada hal yang serius.
" Apapun itu, entahlah hanya tuhan saja yang tahu. " ucap jaemin lalu kembali meminum kopinya.
mereka masih tidak sadar saja bahwa ada beberapa anak yang sedang menatap kemeja indi dan jaemin. yah siapa lagi kalau bukan chenle, jisung dan jeno.
-O0O-
Suara hentakan kaki itu memenuhi lorong gedung kelas sebelas, langkahnya semakin cepat sesekali pun melirik kebelakang, takut orang yang mengejarnya mungkin tiba-tiba saja sudah ada tepat dibelakang siswi itu. air matanya pun sudah tak tertahan, dia sangat binggung harus kemana lagi, sedangkan suara kaki yang sedang berlari pun semakin keras dan dekat kearahnya.
lalu dengan asal arah siswi itu berlari menuju lorong sebelah kanan yang tidak cukup banyak penerangan disana.
" Aku harus kemana? harus kemana? " takut siswi itu, dia semakin melangkah kedepan.
apa yang harus dia lakukan sekarang, pasti mau seberapa keras pun dia lari menjauh, mereka juga akan menemukannya. sekarang apa yang harus dia lakukan. siswi itu mengigit bibirnya sambil berpikir dan barlari semakin jauh.
namun tiba-tiba dia berhenti dan menatap kekanan dan kirinya, oh ya dia baru sadar kini sudah ada dilorong loker. kenapa dia tidak sadar sedari tadi disini banyak berjejer loker. siswi itu berlari ke asal loker, menekan tombol loker itu tapi ah! sialnya selalu gagal.
" Ah apa ini? kenapa tidak bisa sih!. " kesalnya.
" Ah ya!, hanya pemilik yang tahu pinnya." sadar siswi itu.
" KEMANA DIA?!!."
" ENTAHLAH TADI BUKANKAH KEARAH SINI. "
" COBA AYO KITA KESANA. "
" TAPI DISANA GELAP. "
" BODOH! TENTU SAJA DIA AKAN LARI KESANA, DIA PIKIR KITA AKAN TAKUT MASUK KERUANG GELAP. "
" NYALAKAN SENTER PONSEL KALIAN. "
siswi itu semakin kelabakan, menatap cahaya yang memantul diruangan sebrang, jangan sampai mereka menemukan dia sekarang. dengan tak patah semangat siswi itu menekan-nekan tombol dengan asal berharap pintu loker terbuka.
" Agh sial! kenapa tidak mau kebuka sih!. " kesalnya mengigit bibir, dia bahkan menangis.
" Sekarang apa? dimana aku harus menyembunyikannya? " binggungnya.
dia berusaha diam untuk menenangkan diri, lalu matanya terbuka lebar. secerca harapan pun datang, kenapa dia tidak berpikir sampai situ. loker ini memiliki lubang ventilasi dia atasnya. kemudian dengan buru-buru dia memasukan sebuah flasdisk kedalam lubang ventilasi loker itu. semoga saja pilihannya diloker ini akan bisa mengamankan flasdisk ini, lalu kemudian siswi itu kembali lari. sebelum mereka melihatnya.
TBC