Indi membuang napasnya lega, untung saja dia langsung pergi. tapi kenapa si lucas itu berlari ke arahnnya dengan wajah menyeramkan seperti itu yah. ah bodo amat dia tidak ingin memikirkan itu lagi, diakan disuruh keluar yah dia pulanglah untuk apa masih disekolah buang-buang waktu saja.
" Mau kemana dia. " ucap lucas menatap intens indi dari belakang, sepertinya anak itu tidak menyadari bahwa mobil yang ada dibelakang adalah mobilnya.
dia mengikuti indi, kemana anak itu akan pergi. kemudian alis lucas terangkat indi berhenti di sebuah toko yang dia tahu adalah toko buku, lucas tahu karena dia pernah kemari sebelumnya. apa yang dilakukan indi disini, apa anak itu menjalani kerja paruh waktu.
lucas memperhatian indi dari dalam mobilnya, untung saja kaca tokoh ini transparan, jadi dia bisa melihat apa yang dilakukan indi. sepertinya cewek itu tidak bekerja disana, justru dia sekarang sedang memilih sesuatu di rak, apa dia mau membeli buku soal latihan. apa iya anak yang sedang membolos itu sebenarnya anak yang rajin.
indi menuju kasir dan membayar belanjaannya, stok novelnya sudah habis dan telah dibaca tuntas karena itu dia membeli novel yang baru. dia sebenarnya anak yang cukup rajin membaca, khusus novel saja sih eh tapi terkadang juga membaca buku sekolah kok. indi memasukan novel itu kedalam tas dan mendegus kesal, kenapa sih mobil itu mengikutinya, apa dia si lucas.
" Terima kasih ya. " ucap indi dan pergi keluar.
dia berjalan mendekati mobil itu, indi menyiapkan nyali siapa tahu dia salah duga. kemudian dia mengetuk jendela mobil itu. kaca mobil perlahan turun, menampakan sosok lucas dengan mata dinginnya. indi meneguk ludah, dugaannya ternyata tepat sekali. ada apa ini kenapa cowok itu terlihat kesal, perasaan indi tidak enak.
kedua orang itu hanya saling menatap tanpa mengatakan sesuatu, sedangkan lucas hanya bisa menatap indi dengan kesal.
" Kamu, kenapa pergi. " tanya lucas dengan nada dinginnya.
" Aku?!. " binggung indi menunnjuk dirinya sendiri.
" Bukankah tadi aku disuruh keluar. " sambungnya.
lucas mendegus, bukan itu maksudnya.
" Keluar bukan berarti pulang, kamu harusnya mengerti itu. " jelas lucas dengan tegas.
keluar bukan berarti pulang, apa maksudnya itu. bagi indi itu justru terdengar seperti, menyuruh dia pergi pulang.
" Masuk, ada kelas yang harus kamu ikuti. " ucap lucas memberi kode dengan matanya.
tunggu, kenapa cowok ini memerintahnya. ayolah itu hanya kelas tambahan kenapa harus sekeras ini, lagian dia juga sudah kesal dan tidak mood lagi untuk ikut kelas tambahan hari ini.
" Maaf kak, tapi saya masih ada urusan. " ucap indi.
" Urusan mu tidak penting, yang penting itu tanggung jawab saya di kelas tambahan. " ucap lucas panjang lebar.
wah sepertinya indi sedang berhadapan dengan cowok yang tidak memiliki belas kasih dan keras kepala. indi terdiam memikirkan alasan berikutnya.
" indi. "
indi memutar badannya, menatap siapa yang memanggil namanya. hyunjin berlari kecil kearah dia, kenapa cowok itu ada disini.
" Hyunjin? kok kamu disini. " binggung indi.
" Kelas ku sudah selesai, baru saja aku membeli buku soal. kamu sedang bicara dengan siapa? " hyunjin melirik kebelakang indi, menatap siapa yang ada didalam mobil.
mata hyunjin sedikit melebar, dan menatap binggung pada indi. apa iya si indi anak biasa sedang menggobrol riang dengan si lucas.
" Sedang apa dia disini. " bisik hyunjin.
lucas menatap tajam pada dua orang didepannya ini, apa yang mereka bicarakan. kenapa suaranya sangat kecil, apa mereka sedang membicarakannya.
" Kamu bisa melakukannya kan. " ucap indi. hyunjin melirik lucas dengan sedikit khawatir sih, tapi mau bagaimana lagi, lagian salah indi juga sih.
" Maaf kak lucas, sepertinya aku dan indi harus pergi. kami ingin menjenguk bunda ku yang sedang sakit dirumah. " jelas hyunjin, dia mengigit lidahnya, karena berbohong dasar indi, dia jadi harus melakukan ini kan.
indi dan hyunjin menahan gugup karena tatapan lucas pada mereka. kemudian lucas mendengus dengan lelah, baiklah sepertinya memang dia harus membiarkan anak ini pergi.
" baiklah. " ucap lucas.
kemudian kaca mobil perlahan menutup, dan lucas pun pergi menuju sekolah kembali. indi tersenyum lega ternyata lucas percaya. hyunjin menatap malas pada indi.
" Lain kali, jangan minta aku untuk berbohong lagi. " ucap hyunjin dengan raut datar.
" Iya iyahh.. tapi makasih sekali loh hyunjin. " balas indi tersenyum dengan manis.
" Hemm.. kalau begitu aku pulang dulu. " ucapnya.
" Iyaa hati-hati hyunjin. " ucap indi melambaikan tangan pada hyunjin yang sudah berjalan pergi menuju mobilnya.
hyunjin masuk kedalam mobil para pengawalnya sudah lama menunggu, lalu mobilnya kemudian melaju pergi. dia tidak percaya hari ini sudah berbohong. diperjalanan menuju sekolah lucas hanya menatap malas jalanan, mereka pikir lucas percaya begitu saja. dia tahu cowok itu berbohong, dari raut wajahnya saja sudah ketara dia bukan orang yang ahli berbohong.
-O0O-
indi mengerucutkan bibirnya, menatap abas yang sedang sibuk menyetrika baju pelanggan. dari tadi dia menawarkan bantuan pada ayahnya namun abas kekeh tidak mau dibantu. padahal kan niat indi baik, tidak mau sang ayah kelelahan, sudah mencuci, menjemur dan sekarang menyetrika, sendirian dalam jumlah baju yang sangat banyak apa nga lelah. sebenarnya ayahnya ini manusia atau apa sih kenapa tidak kelelahan sama sekali atau setidaknya mengeluh.
" Ayah yakin tidak mau dibantu. " tanya indi pelan.
" Ya, lagian kalau kamu yang nyetrika. lipatannya akan salah dan ayah yang akan disalahkan nanti. " balas abas.
indi memegang dadanya, akh tidak perkataan abas menyayatnya tapi memang benar sih. beberapa pelangan sering mengeluh akan lipatan bajunya yang aneh karena itu hasil setrika indi. menggingat itu kadang suka membuat indi merenung sendiri, sebenarnya kemampuannya apa lagi selain melukis dan menghambur-hamburkan uang.
" Benar juga, yaudah mulai sekarang indi nga akan bantu ayah lagi deh. " ucap indi dengan nada senang.
abas mendengus, baguslah lagian dia juga tidak mau pekerjaannya direcoki oleh indi. kemudian indi melanjutkan membaca novel yang tadi sore dia beli.
" Bagaimana dengan sekolah mu. " tanya abas tiba-tiba.
indi terdiam, tidak ada hal yang menarik hari ini disekolah, malah dia jutru kesal mengingat kelas tambahan itu.
" Biasa saja. " balas indi masih menatap novelnya.
" kamu sudah punya teman. " tanya abas lagi.
indi mmenyipitkan matanya curiga, lalu dia letakan kakinya kebawah, tumben sekali ayahnya jadi sangat ingin tahu tentang sekolah barunya.
" Tumben ayah tanya tentang teman. " ucap indi.
abas mendengus kemudian menatap putrinya dengan wajah beler.
" Memangnya tidak boleh? " tannyanya malas.
" Ya boleh sih, aku punya temen kok disana. namanya yeji dan hyunjin, mereka juga baik apalagi si yeji. " jelas indi.
oh begitu syukurlah jika indi memiliki teman yang baik padanya. karena tadi siang abas melihat FTV yang menceritakan kisah anak remaja, dia khawatir kalau indi tidak memiliki teman seperti pemeran utama FTV itu. apalagi alurnya hampir sama seperti indi, mendapatkan beasiswa disekolah orang kaya.
" Ayah, ada apa? " tanya indi dengan wajah binggung.
abas membuang wajah, mana mungkin dia bilang khawatir pada putrinya hanya karena sebuah cerita FTV. bisa-bisa indi menertawakannya karena abas memiliki hobi baru seperti ibu-ibu.
" Tidak ada, sana masuk kekamar. sudah malam, jadi tidur. " perintah abas.
indi mendengus, baiklah dia pergi lagian dia juga sudah mengantuk. abas melirik indi yang sudah pergi, baguslah malam ini dia bisa lembur dengan tenang.
TOK TOK TOK!
abas mendengus, dia berdiri dan berjalan menuju pintu. siapa lagi malam-malam datang kemari menggangu saja. kemudian abas membuka pintu dan perlahan munculah wajah jaemin dengan tampang kedinginan. abas menatap keluar, owh rupanya diluar sedang hujan yah, kenapa dia tidak dengar suara rintikan hujan sama sekali.
" Om, maaf menggangu waktunya. indi sudah tidur kan? " ucap jaemin dengan gigi bergetar efek kedinginan.
" Ada apa, kenapa dengan baju mu itu. " tanya abas dengan malas, dia hafal betul dengan teman indi yang satu ini.
" Saya baru pulang les, dan bawa mobil sendiri. " jelas jaemin.
" Lalu? " tanya abas.
" mobil yang saya bawa bannya meletus, dan saya juga tidak bawa ban serep. " jelas jaemin lagi.
" Lalu kenapa kamu kemari. " ucap abas dengan wajah tenangnya.
jaemin menatap sedih kepada abas, ada apa dengan pertanyaan dari ayah indi ini. apa dia tidak mengerti bannya meletus! dan dia tidak bawa ban serep. kenapa malah ayahnya indi tanya kenapa dia kemari. apa jaemin harus menjelaskannya dengan terang-terangan kalau dia meminta bantuan.
abas memandang penampilan jaemin yang jauh dari biasanya, wajah pucat, gigi bergetar mengigil, baju basah. jaemin tidak terlihat elegan seperti biasa jutru anak itu terlihat seperti gembel yang memakai pakaian mahal.
" Ayo masuk, sepertinya kamu kedinginan. " ucap abas mempersilahkan jaemin masuk. jaemin membuang napas lega, anak kecil juga tahu, sekali lihat jaemin dia memang sedang kedinginan.
" Jangan duduk disofa!. " pinta abas tiba-tiba, membuat b****g jaemin yang hampir menyentuh sofa terhenti.
" Nanti sofanya basah, kamu duduk dilantai saja. " sambung abas.
jaemin meneguk ludahnya dan menurut duduk dilantai. mau bagaimana lagi pria tua didepannya adalah ayah indi teman terdekatnya, dia harus menghormatinya. bisa-bisa indi mengamuk kalau jaemin berprilaku tidak baik. jaemin melirik abas yang pergi entah mau kemana dia, jaemin memeluk dirinya sendiri karena kedinginan.
jaemin mendengus mengginngat pertanyaan om abas tadi, dulu waktu pertama kali jaemin main kerumah indi, om abas hanya menatap binggung padanya dengan tatapan polos. om abas terkesan sangat digin saat itu, jaemin bahkan baru pertama kali merasakan takut dengan orang tua. tapi, semakin kesini jaemin dan om abas tidak begitu kaku, ya walaupun harus jaemin akui terkadang sikap om abas memang menjengkelkan.
" Ini pakai baju itu. " ucap abas melempar beberapa baju ke jaemin. membuat cowok itu terkejut dan spontan langsung menangkapnya.
jaemin menatap baju yang diberikan om abas, apaa ini. celana trening panjang berwarna pink, kaos hitam dan kemeja yang warnanya sudah pudar. tunggu jaemin sepertinya tidak asing dengan celana ini.
" Om, bukankah ini celana milik indi? " tebak jaemin menatap abas yang terduduk disofa menatapnya dengan datar.
dibalik wajah datar abas, dia tersenyum tidak menyangka dengan ingatan jaemin yang tajam. benarkah dia menggingatnya padahal celana itu abas belikan untuk indi saat kelas sepuluh.
" Iya, cepat pakai sebelum lantainnya jadi banjir karena baju kamu yang basah itu. " ucap abas.
" Ta-tapi om ini pink. " jelas jaemin.
" Sudah sana pakai!. " pinta abas tegas, membuat jaemin menurut dan langsung pergi ke belakang.
dan inilah sekarang jaemin duduk disofa, memakai celana milik indi. dia tidak menyangka celana yang kebesaran dipakai indi saat itu ternyata malah pas dipakai olehnya. kemudian jaemin meminum kopi yang dibuat oleh om abas, sudah jaemin bilang kadang sifat om abas memang menjengkelkan namun jaemin sadar juga kalau om abas juga manusia pasti memiliki sifat baik, contohnya ya membuatkan kopi, seperti sekarang.
mereka terdiam diruang tamu, dan jaemin pun tidak bisa pulang karena ponselnya mati dan om abas pun tidak memiliki pulsa ataupun kuota. wah hari ini benar-benar apas untuknya.
" Jaemin. " panggil abas dengan suara tenang.
" Iya om." jawab jaemin, dia menatap om abas dengan binggung tidak biasanya om abas memanggilnya seperti itu. apa ada sesuatu, om abas terlihat seperti kelelahan.
" Saya ingin meminta tolong pada kamu. " ucap abas menatap jaemin dengan serius.
" Apa om? " tanya jaemin juga serius.
" Apa kamu benar-benar bisa menolong saya. " tanya abas dengan serius.
jaemin terdiam, apa masalah om abas ini sangat serius sampai dia ditatap seperti itu.
" Iya, akan saya usahakan. " balas jaemin.
abas menggambil cangkir dan menyruput kopi, membuat pemuda disampingnya semakin binggung.
" Bisakah kamu. " ucap om abas menyilangkan kakinya dan jaemin semakin terlihat serius.
" menyetrika baju-baju itu. " tunjuk abas ke ruko dimana banyak tumbukan baju yang harus dia selesaikan malam ini.
wajah jaemin berubah datar melihat baju yang dimaksud om abas, yang benar saja. sepertinya dia salah datang kerumah indi.
-O0O-
Lucas menggambil napas dengan dalam, dia sangat kelelahan hari ini. pukul berapa sekarang? matanya melirik jam yang ada dikomputer yang sudah menunjukan pukul 00.09, sudah malam sekali rupanya.
sehabis mengajar dikelas bahasa, dia masih harus mengerjakan tugas lainnya seperti les dan berlatih biola lagi, dan juga beberapa soal yang kini bertumpuk rapih di meja belajarnya. harus lucas akui memang dia terkadang lelah dan jenuh selalu melakukan itu berulang kali, namun bagaimana lagi hanya kegiatan itu yang dia minati. oh ya dia mengginngat sesuatu.
lucas berdiri dan mengambil sesuatu didalam tasnya, lalu kembali menuju komputer, dia menatap kertas yang sudah lecek itu karena dia sudah meremasnya. rupanya cewek itu ada dikelas sebelas lukis satu, satu kelas dengan seseorang yang dia kenal. kemudian lucas menggambil ponselnya mengetik sesuatu di keyboardnya.
-kamu tahu yang namanya indi?
BOCAH
Iya, dia sekelas dengan ku. apa dia buat masalah lagi.
-Ya, dia membolos kelas ku. kamu punya nomer ketua kelas?
BOCAH
[Number phone..]
Namanya hyunjin kalau ingin tahu.
lucas mengerutkan alisnya, hyunjin? bukankah anak yang bernama indi memanggil cowok yang ditoko dengan sebutan hyunjin. oh rupanya dia adalah seorang ketua, tapi ketua macam apa yang membiarkan warga kelasnya membolos.
BOCAH
Terima kasihnya mana?
-Terima kasih ku tidak berlaku untuk mu.
BOCAH
-_-
lucas kembali mengetik sesuatu di keyboardnya, kali ini dia akan mengirim pesan kepada ketua kelas bernama hyunjin itu.
-Saya lucas, besok indi harus menghadap ke saya diruang kedisiplinan.
HYUNJIN
Owh, baik kak.
lucas melempar ponselnya ke meja, dia merilekskan tubuhnya dengan bersandar kekursi yang paling nyaman diruangan rumah ini. matanya menatap sebuah bingkai foto kecil di samping komputernya, kemudian sudut bibirnya sedikit terangkat, melihat seseorang difoto itu. membuat rasa lelahnya sedikit memudar.
" Selamat malam kak. " ucapnya dengan halus lalu perlahan mata lucas terpejam, dan sekarang dia sudah masuk kedalam pulau kapuknya.
-O0O-
indi yang sudah berseragam rapih menatap binggung dengan kehadiran orang yang sangat dia kenal. kenapa jaemin tertidur disini? ah bahkan kenapa harusnya anak itu kesini, apa jaemin datang ketika malam.
" Dia tadi malam kemari. " ucap abas, menaruh masakkan yang sudah dia buat di meja tamu. maklum baginya meja tamu sama saja seperti meja makan.
" Kok ayah tidak bangunin aku sih, eh tapi wajahnya kelihatan pucat yah. " khawatir indi, abas dari belakang tubuh indi melirik kepo dan khawatir, ah apa iya anak macam jaemin bisa sakit.
abas lalu menetrelkan wajahnya ketika indi berbalik menatapnya.
" Sepertinya jaemin sakit, yah. " ucap khawatir indi dia menempelkan telapak tangannya ke jidat indah milik jaemin, indi menarik tangannya tiba-tiba membuat abas menatapnya dengan khawatir.
" Agh! panasnya bagaikan larva gunung merapi, yah. " ucap indi. abas menatapnya dengan datar, ada-ada saja anaknya ini.
abas berjalan mendekat, lalu dia juga menempelkan telapak tangannya kejidat jaemin. benar saja anak ini sakit, apa yang harus abas lakukan. sebenarnya dia bisa saja membeli obat peredam panas diwarung, tapi apa anak macam jaemin bisa dicekoki dengan obat keras dan murahan. kalau dia celaka bisa-bisa abas yang akan kena masalah.
" Ayah sepertinya harus ke apotek, jaemin mana bisa minum obat warung. " jelas indi yang masih khawatir namun membuat abas kesal, tentu saja dia tahu.
kemudian abas menyeret tubuh jaemin dan membuatnya tertidur disofa. indi hanya menatap polos apa yang dilakukan ayahnya itu.
" Ayah harusnya, jaemin tidur dikasur saja. bukan malah disofa. " jelas indi kasihan melihat jaemin yang sudah pucat malah terbaring disofa yang tidak begitu empuk.
" Sudahlah, kamu makan sarapan mu. ayah harus ke apotek dan membeli pulsa. " ucap abas menggambil helm dan keluar.
indi mendengus, melihat ayahnya yang sudah pergi, lalu dia menatap jaemin. wajahnya pucat sekali, tadi dia juga tertidur dimeja untuk setrika. apa tadi malam jaemin membantu ayah menyetrika baju, akh dia memang baik sekali, indi jadi kasihan melihat jaemin yang sedang sakit.
" indi. " gumam jaemin, membuat indi binggung.
tunggu-tunggu kenapa anak ini menyebut namanya. apa jaemin sedang bermimpi aneh tentang dirinya.
" Indi, aku malu. " ucap jaemin lagi masih menutup matanya.
tuh kan jaemin pasti sedang bermimpi aneh yah jorok-jorok, wah indi tidak menyangka jaemin seperti itu.
" Aku malu, karena pakai celana mu ini. " ucap jaemin lagi.
" celana mu, warnanya pink aku tidak like. " sambungnya.
mata indi melirik celana yang dipakai jaemin, dia menutup mulutnya tidak menyangka, bukankah itu celana yang sudah lama dia tidak pakai lagi karena kebesaran untuknya. eh tapi jaemin terlihat imut memakainya, ya ampun ini pasti ulah ayah, dia mana rela meminjamkan barangnya pada orang lain.
indi memajukan badannya dan mengelus lembut surai rambut lebat milik jaemin. kalau jaemin sakit kaya gini indi jadi mau tertawa. kemudian indi memijat pelipis anak itu, membuat jaemin yang tidak nyaman kini tenang.
" Tidak apa, jaemin masih kelihatan ganteng kok. " bisik indi.
kemudian suara motor abas terdengar sepertinya ayahnya itu terlihat khawatir. abas menatap datar pada indi yang sedang memijat jaemin, sejujurnya abas kasihan telah membuat anak itu sakit tanpa sengaja, apa lagi tadi malam dia kehujanan dan harus menyetrika. ya tetap saja abas tidak merasa bersalah sih.
" Indi, kamu berangkat saja. biar ayah yang urus dia. " ucap abas, menatap jam.
" Benar ya yah? awas saja kalau jaemin semakin parah. " ancam indi menyipitkan matanya. abas hanya berdehem dan indi pun memakan nasih gorengnya dan pergi berangkat eh tak lupa dia juga menyalimi ayah abas tercintah.
-O0O-
matanya menatap khawatir pada loker didepannya, jiso menggigit bibirnya, gelisah apakah flashdisk waktu itu masih ada didalam loker ini atau pemilik loker sudah mengambilnya.
dia menarik jaketnya untuk menutupi seragamnya, badannya sangat sakit dan ada beberapa luka lebam karena kekerasan yang dilakukan mereka. dia menundukan kepala dan perlahan air mata itu turun dengan kurang ajarnya. harus dia akui, bahwa dia lelah namun bagaimana lagi sisi pedulinya mungkin terlalu besar, tapi itu juga yang justru melukai dirinya.
jiso benci pada dirinya, yang peduli dengan orang lain, namun dia sendiri juga hanyalah seorang pengecut. dia ingin membantu namun tidak bisa berbuat apa-apa.
beberapa anak yang menuju lorong loker sesekali melirik jiso yang sedang menangis. dia harus mengetahui siapa pemilik loker ini agar dia bisa mengetahui apakah flashdisk itu masih ada atau tidak. kemudian jiso perlahan melangkah pergi. walaupun dia tidak bisa membantu tapi setidaknya flashdisk itu tidak jatuh ditangan orang salah.
" Pergilah, aku tidak mau kena masalah. " pinta hyunjin dengan tegas sebagai ketua.
indi mengerucutkan bibirnya, agar cowok ini berbelas kasih. dia pasti akan mendapatkan masalah karena hari itu.
" aku hanya melakukan tugas ku. " balas hyunjin lagi, argg sepertinya hyunjin serius. baiklah indi lagian tidak boleh lari dari tanggung jawabkan? ya walaupun dia tidak salah kan.
" Baiklah. " ucap indi dengan malas, dia perlahan mulai melangkah pergi.
" indi! " panggil hyunjin, indi tersenyum dengan manis.
" Ini. " indi menatap apa yang diberikan hyunjin padanya, sebuah angklop.
" Itu pin loker mu, jangan sampai ada yang tahu selain kamu. itu masih tersegel. " sambung hyunjin fokus keponselnya. oh sekolah ini memiliki loker rupanya, indi kira tidak ada. indi tersenyum senang karena ini pertama kalinya indi merasakan memiliki loker sekolah kemudian perlahan dia pergi, yang awalnya dengan perasaan kesal dan sedih jutru sekarang malah senang.
indi masuk kedalam ruangan yang disebut ruangan kedisiplinan itu, indi melangkah dengan perlahan. dia menatap cowok yang mengejarnya itu, lucas sedang bersender dikursi, wajahnya menghadap keatas dan matanya terpejam. apa dia sedang tertidur? indi maju kedepan dengan pelan menatap lucas dengan wajah polosnya.
" Kenapa malah tidur. " gumam indi kemudian duduk berhadapan dengan lucas.
memang yah kalau cowok tampan mau sedang tidur pun masih saja kelihatan tampannya. perlahan indi memajukan jarinya dan menyentuh pipi lucas.
PIP
mata lucas terbuka perlahan, indi terdiam apa dia baru saja melihat sesuatu yang indah. tatapan teduh itu berubah menjadi tajam apa lagi tangin indi yang dengan sembarangan menyentuh kulit seseorang.
" Uhuuk! " batuk indi menarik jarinya kembali, apa barusan kenapa dia malah gugup seperti ini.
Ya tuhan aku ini kenapa?-batin indi.
" Karena kamu sudah berani membolos dari kelas saya, ditambah dengan sekongkol dengan hyunjin untuk membohongi saya. " ucap lucas menarik sesuatu didalam lemari meja.
" Maka kamu harus menyalin huruf hiragana, sebanyak lemaran kertas ini. " sambungnya meletakan kertas HVS yang mungkin itu adalah satu paket.
indi meneguk ludahnya, yang benar saja dia harus menyalin sebanyak itu.
" Itu sangat banyak, butuh waktu tiga hari untuk menyelesaikannya. " ucap indi masih syok.
lucas mendengus, dia menyilangkan kaki dan tangannya, siapa suruh membolos.
" Kamu tahu kenapa waktu itu kamu disuruh keluar. " tanya lucas dingin.
" Bukankah karena mood kakak sedang tidak bagus. " balas indi apa adanya. lucas membuang napasnya lelah ternyata anak ini masih belum sadar rupanya.
" Datang terlambat dan masuk tanpa mengetuk, apa kamu tidak tahu sopan santun. " ucap lucas dengan tatapan tajam, wah indi sekarang justru merasa takut.
" Baru saja kamu masuk tanpa mengetuk, kamu tahukan caranya mengetuk pintu. " ucap lucas lagi.
indi menundukan kepala, rasanya seperti kembali di kelas tujuh smp. indi terdiam diam berpikir lagi, yah memang benar sih kata kak lucas ini. ahh indi kenapa kamu tidak sadar letak kesalahan mu, sekarang malu lah kamu.
" Maafkan saya kak, saya tidak menyadari kesalahan saya. " ucap indi pelan.
sudah begitu saja, mudah sekali membuat anak ini menyesali perbuatan salahnya. mereka hanya terdiam dan saling menatap.
" Kalau begitu kerjakan sekarang, besok saya berikan pada saya. " ucap lucas berdiri dari kursinya.
" Bukankah, kamu bilang dua hari? kenapa harus besok. " indi dengan terkejut.
lucas memegang knop pintu, dia menatap malas pada anak itu.
" Dua hari, hari pertama saya hitung dari sekarang. " ucapnya dan melangkah pergi meninggalkan indi dengan wajah pasrahnya.
ya mau bagaimana lagi dia harus melakukan ini, indi menegambil lemaran hvs itu lalu dia mulai menulis huruf hiragana.
TBC