PART 97
“HEI, KAU TAHU kan tidak ada gunanya terus bersikap seperti itu?” Angelo menegur aku yang sedang memandang keluar jendela di ruang tamu atas, menatap langit yang kelam dan kumpulan kapas kolosal yang berubah menjadi hitam dan suram.
Aku menengadah ke atas, melihat antariksa yang ikut merasakan suasana hati aku yang gundah. Rasanya seperti kepala mengalami turbulensi yang keras.
Seperti ada sel serebrum yang menyerang bagian pusat kepala agar aku tidak bisa lagi berpikir jernih. Rasanya seperti ada jari – jari tak kasat mata yang menekan buah hati agar aku tidak bisa tenang.
Detak jantung terus tidak berirama, kadang cepat, kadang lambat, membuat aku yakin kalau jantung aku sudah mengalami fluktuasi ringan. Aku rasanya seperti sedang ditahan dari depan. Ada tangan masif dan b