"Menikahlah," ujar sang ayah santai. Matanya tak beralih sedikit saja dari layar monitor pun dengan jemarinya menari lincah di atas keyboard.
Oh, Jian jelas ingin mengikat dirinya dengan seseorang atas nama pernikahan. Masalahnya adalah, Sejin tak merestuinya dengan lelaki pilihan Jian saat ini.
"Ahn Hyunki yang terbaik sejauh ini."
Lagi. Untuk yang ketiga kalinya Sejin menyebut nama itu. Sungguh, di jaman modern begini ternyata perjodohan tak pernah usang dari bumi. Seolah melegenda dan tak pernah dilupa. Tak peduli siapa dirimu, kedudukan dirimu, atau setinggi apa posisinya, perjodohan akan selalu kamu temui di mana pun.
"Aku pikir Ayah tidak sekuno ini untuk menyaksikan pernikajan salah satu anaknya."
Sejin menarik pandang dari layar dan memakunya di netra bulat milik Jian. "Kalau begitu cari lelaki lain selain Choi Woobin. Siapa saja selama tidak dalam ranah entertainment."
Jian terkikik geli, masih berdiri di depan meja ayahnya dengan tatapan setengah malas. "Ahn Hyunki bukannya seorang produser? Apa bedanya dengan Woobin?"
"Dia akan meninggalkan entertainment bila kamu setuju untuk menikah dengannya." Alisnya tegas, tiada canda atau sekadarr pura-pura di sana.
"Seorang Ahn Hyunki? Mana mungkin?" Jian skeptis, mana mungkin seorang Ahn Hyunki mau meninggalkan pekerjaannta demi menikah dengannya? Well, yang Jian tahu nama Ahn Hyunku sering muncul di artikel trending tentant masa lalu dan citanya. Jian yakin sekali lelaki itu tak akan mudah meninggalkan profesinya sekarang, terlebih Ahn Hyunki adalah seorang presdir di Blue Entertainment, yang mana salah satu boy group-nya sedang naik daun dan kabarnya juga akan ada grup yang bakal diperdanakan tahun ini.
"Kamu tahu posisinya sepenting apa, kan? Setidaknya kabar ini bisa kau jadikan perbandingan antara Ahn Hyunki dan Choi Woobin." Sejin kembali pada monitor. "Perjuangan sebesar ini tak akan kamu dapatkan dari lelaki mana pun. Tak terkecuali dari seorang singer bernama Choi Woobin."
Jian geram bila percintaannya akan terusik begini. Hyunki bukan orang biasa, dia orang yang luar biasa dengan perjuangan yang tak main-main. "Jika Ayah ingin aku menikah, terima Choi Woobin menjadi menantu Ayah."
Sejin tertawa seolah mencemooh. "Lelaki itu mau tidak meninggalkan profesinya? Kalau dia bersedia, silakan saja." Menantang balik, maka Jian kalah telak. "Tidak, kan? Apa lagi dia sedang naik daun. Mana mungkin mau meninggalkan profesinya demi menikahimu. Ji, apa kamu pikir Woobin tidak pernah tertarik dengan beberapa penggemarnya sampai jatuh hati? Banyak wanita yang rela memberinya apa saja demi berkencan dengan Woobin, kenapa juga dia harus merelakan prosefinya demi dirimu?"
"Ayah—"
"Kamu sudah tahu betapa sulitnya berkencan dengan dia, tetapi keras kepala ingin memperjuangkannya. Kabarnya salah satu aktor multitalenta juga menyukai Woobin, ya? Mereka terlibat beberapa kali proyek kerja sama. Apa kamu pikir Woobin benar-benar mencintaimu, Jian?"
"Kalau Ayah tidak menyukainya, cukup sampai di sana. Tak perlu membuat keadaan menjadi panas. Semakin Ayah memaksaku dan menjelekkan Woobin, semakin aku tak ingin melepaskannya karena apa yang Ayah katakan tak sesuai dengan realitanya."
Sejin menghela napas pasrah. "Bahkan kalau disuruh memilik Ayah atau Woobin, kamu akan memilihnya." Mengendikkan bahu dan memutar kursi membelakangi putrinya. "Sudahlah, setidaknya Ayah sudah mengatakan beberapa hal yang perlu kamu pikirkan dengan serius. Ambil cuti besok dan temui Ahn Hyunki untuk kencan pertama."
Jian pergi dari sana dengan seluruh tubuh yang nyaris terbakar sempurna. Peluh seolah menetes dari pori-pori mana saja. Maka ia pergi ke toilet untuk menenangkan diri dan mencuci wajahnya.
Menatap dirinya di pantulan kaca dengan kesedihan yang terpendam. Memandang dalam matanya sendiri dan temui ombak yang akan segera naik ke permukaan. Mata Jian memanas, jemarinya meremat wastafel. Ombak nyaris menghantam karang, untung saja ia buru-buru mengendalikan diri dan kembali mencuci wajahnya saat seseorang datang berdiri di sampingnya. Wanita itu adalah Song Iren, pacar kakaknya.
"Jian sedang tidak baik-baik saja, ya?" Tiba-tiba saja. Jian menatap Iren yang tengah memoles lipstick tipis-tipis tanpa menatap yang dituju. "Tolong jangan menyangkal, tetapi memang terlihat meski tak begitu jelas."
Jian menarik tisu dan mengeringkan wajahnya. "Aku baru saja mendekat perapian, jadi wajahku memerah karena tubuhku terasa sangat panas. Tak ada hal lain. Hanya itu."
Alibinya cuma ditertawakan. Iren menaruh kembali lipstick-nya dan mencuci tangan. Sementara di sana, Jian masih berdiri menunggu sahutan darinya.
"Kamu tahu, aku tidak datang ke toilet cuma untuk memoles bibir yang masih berwarna." Iren berjalan mendekat dan berhadapan dengan Jian. "Aku datang untukmu, untuk menambahkan sedikit keterangan ayahmu perihal Woobin."
Jian terenyak. "Kau—"
"Ya, aku mendengarkan. Aku dengar karena telingaku masih berfungsi dengan baik. Jadi tak masalah, aku di sini bukan untuk mendukung ayahmu atau bagaimana, tetapi terkadang aku setuju dengannya."
"Setuju kalau aku dengan Ahn Hyunki?"
"Berkencan dengan seorang idola memang menyulitkan, tetapi tidak bila mereka dalam satu agensi." Iren tersenyum, wanita itu memiliki paras yang nyaris sempurna. Senyum menawan dan cara bicaranya yang tak berlebihan. Ia terbilang netral dalam hal apapun dan tak memihak yang ia suka. "Kawanku satu agensi dengan Woobin, Hera namanya. Semua orang pasti mengenalnya karena mereka berkolaborasi dalam album terbaru milik Woobin tiga tahun lalu, sebelum kamu terlibat dalam hubungan dengan Woobin tentunya."
"Lantas?" Jian menunggu.
"Aku kira kamu akan menebak. Woobin dan Hera adalah kedua idol paling perfeksionis di agensinya. Perlu waktu berbulan-bulan untuk membuat musik dan beberapa minggu untuk pembuatan video musiknya. Mereka bekerja sama lebih lama dari yang terlihat. Aku pikir kamu juga tahu bahwa Woobin memang dekat dengan Hera. Dan mungkin kamu tak seharusnya terkejut kalau ku katakan mereka pernah beberapa kali bermalam di sela lelahnya pekerjaan."