Sepeninggalan Hyunki, Jian segera mengecek ponselnya dan membaca berita terbaru. Sebuah skandal yang akhirnya terjadi juga. Choi Woobin yang datang ke sebuah bar dan mabuk berat bersama seorang wanita yang diduga adalah rekan satu agensinya, Heera.
Ia mendadak teringat perkataan Iren. Barangkali memang benar jika Woobin dan Heera memiliki hubungan lebih dari sekadar teman. Dan sejujurnya perkataan Hyunki tadi cukup membuat jantung Jian dilanda gelisah setengah mati setelah ia menapat pesan dari Woobin.
Woobin : Jian
Jian : Ya?
Woobin : Kamu mengingat hari kemarin? kemarin adalah hari di mana kedua orang tuaku telah pergi untuk selamanya. Kemarin, hari pernikahanmu adalah hari yang membuatku merasa bahwa aku memang pantas ditinggalkan oleh orang-orang yang menyayangiku. Jian, apa kamu mengingat hari itu?
Rasanya jantung Jian baru saja di peras habis-habisan. Kemarin adalah tanggal 10 Desember, tanggal kematian kedua orang tua Woobin serta tanggal pernikahannya. Bagaimana mungkin Jian bisa membiarkan hari kemarin menjadi hari pernikahannya? Jian mengulum bibirnya. Matanya memerah panas.
Bel rumah berdering. Jian segera turun dan melihat siapa yang datang. Namun tak seorang pun berdiri di depan gerbang rumahnya. Jadi Jian keluar dan menemukan kotak dengan tulisan, “Kenangan masa kecilmu."
Jian segera membawa masuk kotak tersebut dan membukanya. Kotak tersebut tampak besar, namun enteng. Di dalam kotak tersebut juga ada kotak lain. Kotak beludru biru yang membuat Jian penasaran dan akhirnya membukanya. Mata Jian sempat terbelalak dan jemarinya bergetar. Itu adalah sebuah kalung dengan bandul bintang laut dengan bahan metal dan permata berwarna putih yang mengelilinginya, yang pernah Jian miliki semasa kecil ketika ia pergi bermain di pantai. Jian mengingatnya lagi. Memori yang dulu pernah hilang.
Kepala Jian mendadak terasa pening dan berputar. Jian tidak ingat kapan, namun saat itu Jian masih berusia sepuluh tahun. Jian pergi bersama Vian ke pantai dengan kedua orang tuanya. Saat itu ketika Vian sedang bermain bola tangkap dengan ayahnya, Jian masih terbenam di antara pasir yang menguburnya. Di bawah terik matahari, seorang lelaki berdiri di hadapannya dan menaruh bintang laut di atas tubuh Jian. “Kamu akan kepanasan di sini, jika bintang datang, kamu tidak akan kepanasan lagi."
Jian yang saat itu tidak mengerti perkataan lelaki kecil itu, cuma menanggapinya seperti ini, "Aku tidak perlu menunggu bintang yang cuma datang ketika malam, setidaknya hujan akan mengguyurku."
lelaki itu berkacak pinggang dan mendengus, "Ya, kamu benar, karena hujan lah bintang tidak jadi datang! Ah, menyebalkan, betapa aku sangat membenci hujan!” lalu lelaki kecil itu pergi entah kemana. Namun tak lama dia kembali dengan membawa ember berisika air yang ia tumpahkan di atas tubuh Jian. “Itu, aku mendatangkan hujan untukmu! Menyebalkan! aku sangat membenci hujan! Di masa depan aku tidak berharap bertemu dengan gadis sepertimu!"
Jian kecil yang merasa kesal bersumpah tidak akan pernah menikahi lelaki seperti dia. Namun saat itu, Jian sempat mengatakan sesuatu yang membuat lelaki itu terdiam dan pergi dengan ekspresi yang sangat dingin.
Mengingat hal itu cukup membuat Jian tersenyum geli. Lelaki kecil itu datang entah dari mana asalnya dan memarah-marahi Jian karena menyukai hujan. Padahal, hujan dan bintang adalah pemberian Tuhan. Mereka sama-sama berasal dari langit. Bedanya, bintang tidak selalu jatuh, bintang hanya meredup.
Namun terlepas dari memori kecil yang Jian ingat, ada memori pahit yang bersemayam di hari itu juga. Ketika Jian pulang, Jian bergabung dengan ayahnya menonton televisi. Sebuah pesawat yang jatuh hari itu ternyata beberapa puingnya ditemukan di pesisir pantai. Sekarang pantai itu penuh dengan reporter dan Jian menemukan seorang lelaki yang duduk di pantai sedang bermain dengan bintang laut dan dihampiri oleh salah satu reporter yang bertanya, “Kau sedang apa di sini, Nak?"
"Aku sedang menunggu ke dua orang tuaku. Kemarin nenek bilang hari ini mereka akan pulang. Kami akan menjemputnya di bandara, tetapi Nenek malah datang ke sini dan menangis." Lelaki kecil itu mendongak dan menatap ke reporter yang kameranya bergetar. "Mereka bilang jika mencapi langit, mereka akan mengambil bintang untukku." Lalu ia tersenyum dan menunjukkan bintang laut itu ke reporter. “Kata Nenek, ini bintang yang mereka jatuhkan. Tetapi di mana Mama dan Papaku? Apa kau juga ke sini mencari mereka, Pak?" Tepat ketika itu, salah satu reporter menjatuhkan kameranya dan memeluk lelaki kecil itu.
Jian yang menonton siaran langsung tersebut merasakan hatinya teriris perih. Sementara ibunya juga ikut menangis. Lalu Jian dengar, ayah Jian menghubungi kenalannya untuk mendonasikan sejumlah uang untuk anak yang kehilangan kedua orang tuanya. Ayah Jian bilang, “Ayah sudah mendonasikan uang untuk anak itu. Sudah, ya, kalian jangan bersedih. Terkadang kita mendapatkan sesuatu untuk kehilangan sesuatu juga."
Kendati Jian telah lama mengenal Woobin, Jian tidak pernah mengetahui masa lalu lelaki itu. Woobin cuma bilang jika kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat. Lagi-lagi hati Jian teriris perih.
"Apa Woobin adalah lelaki yang menaruh bintang laut di atas tubuhku saat itu?" Jian bergegas menelepon Vian dan menanyakan tentang tanggal saat mereka berlibur ke pantai saat itu.
“Tanggal 10 Desember, Jian. Ada apa? Eh, ngomong-ngomong kok tanggalnya sama dengan tanggal pernikahanmu, ya? Apa kamu dan Kak Hyunki akan berbulan madu di pantai itu?"
Jian terpaku. Ia mematikan teleponnya secara sepihak. "Jadi lelaki yang memberikan bintang laut di atas tubuhku itu adalah Woobin?"