Dua minggu berlalu..
Alexia William Charles itulah nama lengkap pangeran ini, penyakit ini sebenarnya ada lah Kutukan oleh penyihir dari faksi anti kekaisaran, organisasi yang sangat membenci kekaisaran ini.
Kutukan yang menggerogoti jiwa, makanya itu sulit untuk di obati dokter, karena kutukan ini mengrogoti jiwa yang masih lemah dan tidak akan menghilang sampai jiwa itu menghilang, walaupun kutukan menghilang tetap aja tubuh tanpa jiwa sama saja mati.
Namun organisasi ini sangat sulit untuk di temukan apa lagi di basmi, bisa aja mereka memasukan orang dalam dalam istana.
Karena aku hidup saja sudah merusak alur yang ada.
Pendiri organisasi itu mungkin saja akan melakukan kudeta kapan saja, saat dia mau. Karena itu istana kaisar pun masih belum dibilang Aman. Aku sih menjamin ini akan terjadi dalam waktu yang lama, walaupun aku ini pangeran yang tubuhnya masih sangat kecil.
Sekarang pun aku masih melakukan pembelajaran yang di ajar langsung oleh guru pendidikan terbaik di kekaisan. Nona Adelia Strom, ia bangsawan dari keluarga Strom, keluarga yang lumayan memengaruhi Kekaisaran ini.
Dia disebut Jendela dunia karena kepintaran yang ia miliki, walaupun ia wanita, ia sangat di akui oleh kekaisaran ini. Walaupun niatnya memang belajar tapi yang aku pelajari hanya buku buku bergambar.
Nona itu menunjukan jari nya ke buku yang sedang ku lihat "Jadi Pangeran, 2 buah sapi ini di tambah dua buah Kambing ini jadi berapa?" Tanya nya dengan wajah tersenyum.
Aku merasa sedikit malu pada diriku karena harus mempelajari hal hal seperti ini lagi. Aku menatap nona itu "Semua jadi Empat!" Jawab ku dengan datar dan tak semangat karena muak dengan gambar gambar ini.
Nona itu sedikit terkejut lalu nona itu mengambil selembar kertas di dekat meja dan menulis kan sesuatu di situ setelah itu menyerahkan ke aku "Coba Pangeran isi jawaban dengan benar!" Seru nya dengan bersemangat.
Aku melihat soal yang ada di lembar itu semua itu tambah tambahan bernomina puluhan soal terakhir bernomina ratusan "Kalau aku jawab aku dapat apa?" Tanya ku, aku bisa saja menjawab ini dengan mudah tapi kalau di teruskan aku bisa mati di tempat ini.
Aku merasa sedikit malu pada diriku karena harus mempelajari hal hal seperti ini lagi. Aku menatap nona itu "Semua jadi Empat!" Jawab ku dengan datar dan tak semangat karena muak dengan gambar gambar ini.
Nona itu sedikit terkejut lalu nona itu mengambil selembar kertas di dekat meja dan menulis kan sesuatu di situ setelah itu menyerahkan ke aku "Coba Pangeran isi jawaban dengan benar!" Seru nya dengan bersemangat.
Aku melihat soal yang ada di lembar itu semua itu tambah tambahan bernomina puluhan soal terakhir bernomina ratusan "Kalau aku jawab aku dapat apa?" Tanya ku, aku bisa saja menjawab ini dengan mudah tapi kalau di teruskan aku bisa mati di tempat ini.
Nona Adel sedikit kebingungan "Setelah Pangeran menjawab dengan benar, saya akan mengakhiri kelas hari ini!" ia mengangkat bahunya namun Jawabnya membuatku tersenyum tipis.
Setelah itu aku mengerjakan semuanya, ini pertanyaan yang sangat mudah bagiku. Dewa untungnya kamu meninggalkan kemampuan dan ingatan lamaku, hal hal seperti ini menjadi mudah karena itu, dan aku cukup bersyukur karena itu.
"Nih!" Aku menyerahkan kertas yang sudah ku kerjakan.
Nona Adel mengambil kertas itu lalu melihat hasil yang aku kerjakan ia sangat terkejut "Kalau begitu saya keluar dulu!" Seru ku langsung meninggalkan tempat itu.
"I-ini menabjukan!!"teriaknya yang terdengar sampai lorong saat ku berjalan
***
Setelah sedikit pembelajaran hari ini, tapi sepertinya tidak sedikit hari ini matahari sudah meredup, hari ini aku mengerjakan banyak hal. Mungkin karena terbiasa dengan kehidupanku yang sebelumnya bekerja sampai tengah malam aku jadi lupa, tubuh ini juga masih kecil nanti bisa sakit.
Dua hari sudah terlewatkan ibuku, Permaisuri kekaisaran ini selalu mengajak ku untuk makan malam bersama, tentu saja aku senang, bahkan di kehidupan sebelumnya aku tak ingat kedua orang tua ku.
Aku bergegas ke ruangan Kaisar untuk makan bersama dengannya, karena Kaisar saat ini sedang sibuk, ia terus berada di ruang kerjanya sejak aku bangun.
"Ibu!!" Panggil ku lalu berlari memeluk dirinya, sungguh untuk ini aku sangat berterima kasih karena di lahirkan kembali. Dimana aku bisa merasakan kasih sayang seorang ibu yang sesungguhnya, tak perlu bekerja keras untuk diriku sendiri lagi, aku sangat berterima kasih untuk ini.
Ibuku mengangkat ku "Lex kenapa kamu menangis?, Nanti tampannya hilang, cup cup!". mengingat bagaiman sekarang aku mendapatkahn hal yang sangat ku impikan ketikaa hidupku dulu, itu sedikit menggoncangkan isi hatiku. Permaisuri berusaha menenangkan ku, kemudian dia menempelkan keningnya ke kening ku.
Sungguh keadaan saat ini agak memalukan menyadari berap jumlah umurku sampai saat ini. Sangat rapuh saat seperti ini, aku sangat ingin menangis di pelukannya "Ibu.." lirihku lalu memeluknya dengan erat.
Saat ini tekad ku membara, tekad untuk tidak akan mati, tekat untuk melindungi mereka yang aku miliki sekarang, mapun tekad untuk melindungi Kekaisaran ini agar tidak hancur, dan tekad untuk tidak mati dalam kesendirian.
Aku kembali melepas pelukan, aku tersenyum saat menatap wajah Permaisuri yang terlihat mirip dengan ku, warna rambut yang sangat mirip, aku tertawa kecil, saat ini aku merasa seperti kembali menjadi anak kecil.
Ibu ku memegang wajah ku "Udah selesai kangennya, gimana kelasnya?" Tanya ibuku lagi dengan tersenyum.
"Kelasnya bagus, karena mudah aku jadi cepat kesini untuk bertemu kalian." Aku tersenyum padanya, lalu Permaisuri menaruh ku duduk dikuris yang berada disampinya. "Kamu juga mewarisi kepintaran ayahmu juga ya, ibu kira cukup Alex yang hidupnya dengan buku buku." lalu dia tertawa dengan cantik.
"Lalu apa yang aku warisi dari ibu?"
Dia sedikit berfikir. "Rupa mungkin juga kasih sayang."
"Tentu saja."
"Soal rupa, itu juga warisan dariku." Aku dan Permaisuri refleks melihat kebelakang ketika mendengar suara berat yang dikenal oleh kami. Terpapar Kaisar dan Evan sedang berdiri dipintu masuk. "Dan soal kepintaraan, aku lebih unggul." timpal Evan dengan riang.
Aku tersenyum, saat melihat berdiri sejajar seperti itu, terlihat sangat mirip hingga seperti kembaran. "Tapi kalian telat, padahal waktu waktu seperti ini jarang dilakukan, tapi kalian malah telat." Permaisuri menjawab mereka dengar sedikit merajuk.
Tapi lucunya cara merajuk Permaisuri bisa membuat sosok Kaisar tertunduk diam, dan Putra Mahkota yang kebingungan atas situasi tersebut, itu membuatku tertawa, dan akhirnya semuanya tertawa dan suasana kembali meriah.
Setelah itu kami makan sambil membicarakan hal hal kecil tentang kegiatan kita masing masing, aku juga menceritakan tentang mulainya kegiatan belajar pedangku. Kaisar tidak melarangku, ia hanya memberitahu agar aku lebih hati hati dan tidak memaksakan diri. Sedangkan Ibuku terlihat khawatir namun sedikit bujukan dariku, dia memperbolehkanku.
“Tidak, tidak boleh..” tegas Putra Mahkota.