Udara pagi di Yogyakarta selalu membawa ketenangan. Kicauan burung berpadu dengan suara kendaraan yang masih jarang, menciptakan simfoni alam yang entah mengapa, selalu terasa puitis. Bagi Rina, suasana ini adalah perisai. Perlindungan sempurna dari kekacauan yang disembunyikannya di balik senyum paling manis.
Di sebuah kafe dengan konsep greenhouse di sudut kota, Rina dan Danu duduk di antara deretan pot tanaman hias. Cahaya matahari pagi menembus celah-celah dedaunan, menciptakan pola bayangan yang menari di atas meja kayu mereka. Di hadapan Rina ada segelas kopi dingin dengan seni latte berbentuk hati, sedangkan di depan Danu ada secangkir kopi hitam tanpa gula.
"Coba, senyum dulu dong," pinta Danu sambil mengangkat ponselnya.
Rina mengangguk, lalu menarik sudut bibirnya hingga membentuk lengkungan yang sempurna. Ia menatap kamera dengan mata yang bersinar, seolah-olah seluruh dunia miliknya. Klik. Danu memotretnya. Lalu giliran Danu yang memposisikan diri, Rina mengambil fotonya. Setelah itu, mereka berfoto bersama, menempelkan pipi, lalu menyatukan jemari.
"Udah, kan?" tanya Rina dengan nada datar begitu ponsel Danu diletakkan di meja. Senyumnya luntur, tergantikan oleh ekspresi lelah yang tak bisa disembunyikan.
Danu mengangguk, matanya kembali ke layar ponsel. "Aku mau kasih caption: Start my day with my favorite person in the world."
Rina hanya tersenyum tipis. Kalimat itu terasa kosong di telinganya. Ia tahu, di antara ribuan followers mereka yang membanjiri kolom komentar dengan pujian "pasangan serasi", tak ada satu pun yang tahu bahwa kalimat itu adalah kebohongan paling manis yang mereka miliki. Itu hanyalah salah satu wajah dari hubungan mereka.
Di bawah meja, Rina merasakan ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi dari aplikasi chat.
Adi: Morning, Kurator Cantik. Kopi pagi ini gimana?
Rina tersenyum, bukan senyum untuk kamera, tapi senyum yang tulus. Tangan kirinya dengan cepat mengetik balasan, sementara tangan kanannya tetap menggenggam tangan Danu.
Rina: Kopinya manis. Kamu yang bikin?
Ia tahu ini adalah permainan. Rina tahu persis, bahwa di balik wajah Danu yang sedang sibuk memilih filter di i********:, Danu juga sedang bermain permainan yang sama.
Rina meletakkan ponselnya, senyum yang tadi ia ukir untuk Adi perlahan memudar. Ia menatap Danu, yang masih asyik mengunggah foto kencan mereka. "Aku harus pergi, Danu. Ada pertemuan dengan kurator lain di galeri."
Danu mengangkat wajahnya dari layar. Senyumnya, yang terlihat begitu tulus di foto, kini terasa seperti topeng yang dipasang dengan cepat. "Oh, oke. Aku juga ada meeting dadakan sama tim, kita pisah di sini aja, ya?"
Tidak ada keraguan dalam nada bicaranya. Keduanya tahu bahwa "pertemuan" dan "meeting dadakan" itu adalah kode untuk janji rahasia. Mereka saling melontarkan kebohongan yang sama persis setiap kali hendak bertemu selingkuhan masing-masing, dan berpura-pura tidak menyadarinya.
Di jalanan yang mulai ramai, mereka berpisah. Rina naik taksi daring, sementara Danu berjalan menuju area parkir. Begitu taksi melaju, Rina mengembuskan napas panjang. Rasa sesak yang menempel di dadanya sejak pagi perlahan menghilang, digantikan oleh gelombang kegembiraan. Nama Adi muncul di layar ponselnya lagi.
Adi: Dah di jalan? Aku dah di kafe sebelah, pesan kopi kamu kayak biasa.
Rina tersenyum. Adi adalah pelariannya. Seorang seniman yang hidup dari lukisan dan pameran kecil. Perkenalan mereka terjadi di sebuah pameran seni di Jogja, di mana Adi dengan santainya mengkritik lukisan Rina, bukan dengan amarah, melainkan dengan perspektif yang membuat Rina merasa dipahami. Bersama Adi, Rina tidak perlu menjadi Rina yang sempurna, kurator berwawasan yang memposting konten filosofis. Ia bisa menjadi Rina yang hanya ingin berbicara tentang warna, tentang arti kesunyian, dan tentang apa yang hilang dari hidupnya.
Taksi berhenti di depan sebuah kafe yang berbeda. Kafe ini tidak instagramable, tidak ada dekorasi mewah, hanya deretan buku tua, kursi-kursi usang, dan aroma kopi yang kental.
Di sudut ruangan, Adi duduk sambil membaca buku tebal. Rambutnya gondrong sebatas bahu, pakaiannya kaos hitam lusuh yang tampak nyaman. Saat Rina datang, Adi langsung tersenyum. Senyumnya begitu hangat, membuat Rina merasa seperti pulang.
"Gimana tadi, lancar?" tanya Adi sambil menyodorkan kopi. Rina mengangguk. "Topengnya pas banget." Adi tertawa pelan. "Aku yakin 'Topeng' kita semua punya ukuran yang sama."
Mereka menghabiskan waktu berjam-jam berbicara tentang seni, impian yang belum tercapai, dan ketakutan akan kegagalan. Rina merasa Adi adalah satu-satunya orang yang benar-benar mendengarkan. Ia menyadari bahwa yang ia cari dari Adi bukanlah gairah fisik, melainkan validasi emosional. Sebuah perasaan yang tak pernah ia dapatkan dari Danu.
Di saat yang sama, di sudut kota lain, Danu tertawa terbahak-bahak.
Tujuan Danu adalah sebuah kafe dengan konsep co-working space yang selalu ramai. Kehidupannya dengan Rina, yang penuh dengan diskusi seni dan puisi, membuatnya merasa terkekang. Ia haus akan gairah, tantangan, dan adrenalin. Semua itu ia temukan pada Dinda. Seorang desainer grafis ambisius yang bekerja untuk agensi besar.
"Gila, aku harus bilang 'tiba-tiba ada meeting dadakan sama investor' cuma buat ketemu kamu," bisik Danu sambil tertawa, suaranya tenggelam di antara musik indie yang mengalun kencang.
Dinda, dengan blazer berwarna cerah dan mata yang berbinar penuh ambisi, membalas tawa Danu. "Kalau aku, bilangnya 'ada deadline dari klien cerewet.' Klasik."
Danu merasa Dinda adalah cermin dirinya yang lebih jujur. Mereka berbicara tentang proyek-proyek besar, strategi marketing, dan bagaimana mereka akan mendominasi dunia. Dinda memberikan Danu tantangan dan semangat yang tidak ia temukan pada Rina, yang cenderung pasif dan melankolis.
Namun, di tengah semua tawa dan ambisi itu, ada satu momen aneh. Ponsel Danu bergetar. Sebuah notifikasi dari aplikasi chat.
Dinda: Aku dah di kafe, pesan kopi kamu kayak biasa.
Danu terdiam. Ia baru menyadari bahwa notifikasi itu tidak datang dari Dinda. Sesaat ia melihat nama yang asing di layar, lalu dengan cepat ia mengabaikannya. Tawa Dinda mengembalikan fokusnya. Ia tidak memikirkan lagi notifikasi itu, menganggapnya sebagai kesalahan teknis.
Rina menghembuskan napas lega. Kursi taksi yang empuk terasa seperti singgasana kebebasan. Senyum di wajahnya bukan lagi senyum yang dibuat-buat untuk kamera atau untuk menyenangkan Danu, melainkan senyum yang jujur, yang muncul dari dalam. Ia menatap ke luar jendela, melihat jalanan Yogyakarta yang mulai ramai dengan aktivitas siang hari. Toko-toko kecil membuka pintu mereka, dan aroma gudeg mulai menyebar di udara.
Ponselnya bergetar lagi. Nama Adi terpampang di layar.
Adi: Sudah di jalan? Aku dah di kafe sebelah, pesan kopi kamu kayak biasa.
Rina membalas dengan senyuman. Rina: Di jalan, Di. Jangan dihabisin kuenya ya.
Taksi berhenti di depan sebuah kafe. Kafe ini tidak seperti kafe yang baru saja ia tinggali. Tidak ada greenhouse atau dekorasi minimalis yang instagramable. Dindingnya dipenuhi lukisan-lukisan abstrak dan tumpukan buku yang tidak rapi. Aroma kopi yang kental dan tembakau menyambutnya. Di sudut ruangan, Adi duduk sambil membaca buku tebal, rambutnya gondrong sebatas bahu, dan memakai kaos hitam lusuh yang tampak begitu nyaman.
Saat Adi melihat Rina, senyumnya langsung merekah. Senyum itu berbeda dari senyum Danu. Senyum Adi terasa hangat, tulus, dan membuat Rina merasa seperti pulang ke rumah yang sudah lama hilang.
"Lancar?" tanya Adi, menyodorkan cangkir kopi yang masih mengepul. Rina mengangguk, menyeruput kopinya. "Topengnya pas banget." Adi tertawa pelan. "Aku yakin 'Topeng' kita semua punya ukuran yang sama. Kalau pasangannya ngga ngeliat, rasanya lebih nyaman."
Mereka menghabiskan waktu berjam-jam berbicara. Bukan tentang rencana weekend atau tujuan liburan, melainkan tentang arti sebuah lukisan, ironi hidup, dan ketakutan akan kegagalan. Adi bercerita tentang lukisan yang baru saja ia jual, tentang perjuangannya mencari galeri yang mau memamerkan karyanya. Sementara Rina, ia bercerita tentang bagaimana ia merasa bosan dengan pameran-pameran yang monoton, tentang bagaimana ia merasa hidupnya kosong meskipun diisi dengan hal-hal yang "sempurna."
"Danu kan sibuk sama startup-nya," kata Adi, tangannya memegang cangkir kopi. "Kayaknya kalian beda banget, ya?" Rina tidak menjawab. "Kalau kamu sama pacarmu gimana?" tanyanya, sengaja mengalihkan pembicaraan. "Dia ambisius banget. Mau sukses, mau ini, mau itu. Dia nggak pernah puas dengan apa yang sudah dia punya," jawab Adi dengan nada datar. "Bosan juga lama-lama."
Rina mengangguk, memahami. Ia melihat Danu pada diri kekasih Adi. Mereka berdua mencari hal yang sama dari orang yang salah. Adi mencari ketenangan dari Rina, sementara kekasihnya mencari ambisi dari Danu. Rina mencari koneksi emosional dari Adi, sementara Danu mencari gairah dari kekasih Adi. Hidup ini memang ironis.
"Hidup ini memang ironis," gumam Rina.
"Kenapa?"
"Nggak tahu. Terkadang aku merasa kita semua ini hanya kumpulan kebohongan yang berjalan. Senyum, tawa, bahkan cinta, semuanya cuma akting."
Di tengah obrolan mereka, Rina melihat notifikasi masuk di ponselnya. Foto dari Danu. Danu sedang tersenyum lebar di depan sebuah laptop, dan caption-nya berbunyi: Meeting is fun with the right team! Di bawah foto itu, ada komentar dari seorang perempuan: "Kopi kamu sudah aku belikan, semangat!" Rina tidak mengenal nama itu. Tapi ia tahu, itu adalah kekasih gelap Danu.
Sementara itu, di sudut kota lain yang lebih modern, di sebuah kafe dengan lampu-lampu neon dan musik elektronik yang menghentak, Danu tertawa.
Kafe ini adalah habitat aslinya. Ia tidak perlu berpura-pura suka seni atau obrolan puitis. Di sini, ia bisa menjadi dirinya yang ambisius, yang haus akan tantangan, dan yang tidak pernah takut mengambil risiko. Semuanya ia temukan pada Dinda.
Dinda, seorang desainer grafis dengan rambut pendek dan tawa lepas, sedang menjelaskan idenya untuk sebuah proyek baru.
"Jadi, kita buat campaign yang super gila. Nggak cuma iklan biasa, tapi guerilla marketing yang bikin orang-orang mikir," jelas Dinda, matanya berbinar-binar. "Aku suka. Gila," balas Danu, tertawa. "Kamu itu nggak pernah kehabisan ide, ya?"
Dinda tersenyum. "Hidup itu terlalu singkat buat jadi membosankan. Aku ngga ngerti sama pasanganku, dia itu terlalu santai. Dia bisa seharian cuma baca buku atau dengerin musik. Ngga ada gairahnya sama sekali."
Danu mengangguk setuju. "Sama. Pacarku juga terlalu... damai. Kayak Danau Toba. Tenang, tapi ngga ada ombaknya."
Danu dan Dinda saling bertukar cerita tentang hubungan mereka, tanpa tahu bahwa mereka sedang mengeluhkan pasangan satu sama lain. Danu merasa Dinda adalah cermin dirinya yang lebih jujur. Dinda, sebaliknya, merasa Danu adalah sosok yang ambisius dan bersemangat, yang ia idamkan dari pasangannya.