Rina menatap pantulan dirinya di cermin, senyum dingin tersungging di bibirnya. Gaun hitam elegannya terasa seperti seragam perang. Di sebelahnya, Danu tampak gembira, tidak tahu bahwa ia sedang menuju medan ranah yang diciptakan oleh Rina.
Perjalanan ke kafe musik live itu adalah hening yang menyesakkan. Danu sibuk dengan ponselnya, sesekali tertawa kecil pada layar. Rina tidak butuh melihat. Ia sudah tahu siapa yang membuat Danu tertawa.
"Tadi kamu bilang, ada meeting dadakan hari ini?" Rina membuka suara, nadanya santai, tetapi setiap kata terasa setajam pecahan kaca.
Danu terbatuk, refleks pertamanya. "Iya, meeting sama klien baru. Penting banget."
"Oh, klien yang sama yang sering kirim kamu kopi itu?" Rina bertanya, wajahnya polos.
Danu langsung terdiam. Tangan yang tadi memegang ponsel kini mengepal di pangkuannya. "Kopi? Maksud kamu apa?" Suaranya sedikit meninggi.
Rina menoleh, matanya menatap Danu lekat-lekat. "Aku lihat notifikasinya. Di ponselmu. Jangan khawatir, aku nggak buka. Aku cuma ingat kalau klienmu sangat perhatian soal asupan kafeinmu."
Danu menarik napas lega, lalu tertawa tegang. "Oh, itu! Iya, tim marketingku yang pesankan. Mereka tahu aku kalau kerja harus pakai kopi hitam, haha." Danu tertawa lagi, tawa yang terdengar palsu di telinga Rina.
Rina hanya tersenyum tipis. Gajah itu sudah mulai bergerak.
Setibanya di kafe, suasana langsung berubah. Rina memilih meja di tengah, dekat panggung kecil. "Di sini aja, biar asyik musiknya," katanya.
Tak lama, Adi naik ke panggung. Dia tampak santai, memegang gitarnya, dan menyapa kerumunan. Musik yang dia bawakan adalah musik akustik yang melankolis, penuh lirik tentang pencarian dan kegelisahan.
"Wah, ini band baru ya?" tanya Danu, sedikit meremehkan. "Kayak lagunya nggak laku kalau buat marketing."
"Dia bukan band. Dia Adi. Dia seniman yang bagus," kata Rina, nadanya tegas. "Dan liriknya jujur. Kamu harus dengarkan."
Saat lagu selesai, Rina bertepuk tangan paling keras. Danu terpaksa ikut bertepuk tangan. Rina kemudian mengambil ponselnya.
"Aku harus story ini, musiknya bagus," katanya sambil mengarahkan kamera ke panggung, merekam Adi yang sedang mengatur gitarnya.
Sambil merekam, Rina membuka fitur tag lokasi dan tag orang. Rina sengaja men-tag Adi di video itu. Kemudian, ia menambahkan caption yang menggigit: "Seniman yang mengerti arti kebohongan. Bikin merinding." Lalu ia mengunggahnya.
Danu, yang sedang melihat ponselnya, tiba-tiba membelalak. "Rina! Apa yang kamu lakukan? Hapus!"
"Kenapa?" Rina bertanya dengan mata lebar, seolah tak bersalah. "Apa salahnya mempromosikan seniman bagus?"
"Nggak, maksudku... itu kan, aku nggak suka kamu nge-tag-nge-tag orang asing. Nanti dia pikir kita ini fans fanatik!" Danu tergagap, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Danu tahu, Dinda pasti akan melihat story itu.
Rina mengambil ponselnya lagi, dan berpura-pura menghapus. "Oke, oke, maaf. Aku cuma iseng." Padahal, story itu sudah terlanjur terunggah. Rina sudah menanam bom pertama.
Rina melihat ke arah bar. Dan di sana, ia melihatnya. Dinda.
Dinda duduk sendirian di bar, sesekali melihat ke arah panggung, tempat Adi berada. Lalu, Rina melihat Dinda mengeluarkan ponselnya, ekspresinya langsung berubah. Dinda pasti baru saja melihat story Rina.
"Aku ke toilet sebentar," kata Rina, beranjak dari kursi.
"Aku temani," Danu langsung menawarkan.
"Nggak usah," potong Rina cepat. "Aku nggak butuh pengawal."
Rina berjalan ke arah bar. Ia sengaja berjalan melewati Dinda, lalu "tersandung" sedikit di belakang kursi Dinda.
"Oh, maaf, permisi," kata Rina, berhenti persis di belakang Dinda.
Dinda berbalik. Wajahnya cantik, dengan riasan mata yang tajam. Begitu mata mereka bertemu, Rina menyadari Dinda tidak mengenalnya. Namun, Rina tahu siapa Dinda.
"Nggak apa-apa," jawab Dinda, suaranya terdengar tegang.
Rina tersenyum. "Kamu pasti Dinda, kan?"
Dinda membeku. "Iya. Kenapa ya?"
Rina mengulurkan tangan. "Aku Rina. Pacar Danu." Rina sengaja menekankan nama itu. "Danu ada di meja sana. Dia sering cerita tentang desainer grafis yang keren di kantor kliennya."
Dinda membalas jabat tangan Rina, tetapi tangannya sedingin es. Rina bisa melihat kepanikan di mata Dinda.
"Oh, iya, Danu... Danu orang yang baik," Dinda terbata-bata.
"Iya, dia memang sangat baik," balas Rina, suaranya manis sekali. "Ngomong-ngomong, pacarmu itu yang lagi nyanyi di panggung, kan? Dia bagus banget. Aku harap kalian bahagia."
Rina melepaskan tangan Dinda, memberikan senyum terakhir yang penuh arti. Dua Rahasia itu kini mulai retak. Rina kembali ke meja, meninggalkan Dinda dalam kekacauan emosional. Ia telah menanam bom kedua.
Rina tahu, pertemuan yang sesungguhnya sudah di depan mata.
Rina duduk kembali di kursi, wajahnya memancarkan ketenangan yang mengerikan. Di depannya, Danu terlihat seperti sedang berjuang melawan badai internal. Pria itu menyentuh ponselnya, melihat notifikasi yang terus masuk, tetapi tidak berani membuka. Rina tahu, Danu sedang menunggu Story yang ia unggah lenyap, dan pesan dari Dinda yang pasti sudah berapi-api.
"Ada apa, Danu?" tanya Rina, suaranya sangat lembut, tetapi terdengar seperti denting bel kematian. "Kenapa kamu gelisah? Apa ada masalah di startup?"
Danu mendongak, matanya mencari-cari kebohongan yang meyakinkan. "Nggak, nggak ada. Cuma... aku kepikiran tentang omonganmu tadi."
"Omonganku yang mana?"
"Tentang... kejujuran dalam seni," kata Danu, mencoba mengalihkan pembicaraan ke Adi. "Seniman di panggung itu. Jujur itu sulit, ya?"
Rina tersenyum. "Jujur itu mudah, Danu. Yang sulit adalah menerima kebenaran."
Danu terdiam. Ia tahu Rina tidak bicara tentang seni. Gajah itu kini sudah menempati seluruh ruangan.
Mereka menghabiskan sisa malam itu dalam siksaan psikologis. Rina memesan menu yang paling mahal, menikmati tontonan kepanikan Danu. Setiap Rina memandangi Adi yang sedang bernyanyi, Danu akan meneguk minumannya dengan cepat. Setiap Rina melihat ke arah Dinda yang masih duduk tegang di bar, Danu akan berpura-pura memeriksa email.
Di dalam taksi dalam perjalanan pulang, ketegangan itu semakin memburuk. Keheningan itu begitu tebal sehingga Rina hampir bisa mendengarnya berderak.
"Aku lupa sesuatu di kafe," kata Rina tiba-tiba, suaranya berbisik.
Danu langsung panik. "Apa? Ponsel? Dompet?"
"Bukan. Sebuah notes kecil. Aku menuliskan inspirasi untuk pameran selanjutnya. Ada di kantong jaketmu," kata Rina. Ia berbohong. Rina tidak pernah memberikan Danu notes.
"Di jaketku? Nggak ada, Rina. Tadi aku nggak bawa apa-apa selain ponsel," jawab Danu, suaranya dipenuhi kecurigaan.
"Coba cek, Danu. Aku ingat betul aku menyelipkannya saat kita masih di meja," desak Rina. "Tulisannya penting banget."
Danu terpaksa merogoh saku jaketnya. Tentu saja, ia tidak menemukan notes dari Rina. Tapi di sana, ia menemukan sesuatu yang lain. Sebuah lembaran kecil, dilipat rapi, yang berisi tulisan tangan Dinda: Besok jam 15.00, dekat Galeri F. Kita perlu bahas proyek Rahasia.
Wajah Danu pucat pasi. Ia lupa membuangnya. Ia meremas kertas itu di dalam sakunya.
"Gimana, ada?" tanya Rina, menoleh.
"Nggak ada. Kamu salah ingat," jawab Danu, suaranya datar.
Rina mengangguk, tetapi ia memastikan pandangannya terpaku pada tangan Danu yang mengepal. Ia tidak perlu melihat kertas itu. Reaksi Danu sudah cukup menjadi pengakuan.
Sesampainya di apartemen, ketenangan Rina pecah menjadi tawa yang sangat pendek dan pahit.
"Aku capek. Aku tidur di kamar tamu malam ini," kata Rina.
Danu tidak membantah. Ia tahu dirinya dalam masalah. "Rina, kita perlu bicara..."
"Tentang apa?" Rina berbalik, senyumnya menghilang. "Tentang notes yang kamu remas di saku jaketmu? Atau tentang seberapa bagus kekasih Adi bernyanyi malam ini?"
Seketika, Danu terdiam. Nama Dinda tidak ia sebut, tetapi Rina menyebutkan Adi. Ini adalah serangan cerdas dari Rina.
Danu berjalan mendekat, tatapan matanya mengeras. "Apa maksudmu, Rina? Jangan mengada-ada. Siapa Adi? Siapa kekasihnya? Apa yang kamu tahu?"
"Aku tahu apa yang aku lihat, Danu," balas Rina, suaranya meninggi. "Aku tahu bahwa gajah ini sudah terlalu besar untuk kita abaikan. Dan aku lelah pura-pura melihat Danau Toba di matamu."
Rina tahu ia harus mundur. Ia sudah mendapatkan semua bukti dan reaksi yang ia butuhkan. Ia hanya perlu melangkah keluar dari ruangan itu untuk merencanakan langkah selanjutnya.
"Kita bicara besok. Setelah kamu memutuskan, apakah kamu akan bicara jujur tentang Dinda dan notes itu, atau kamu akan membiarkan aku bicara jujur tentang Adi," kata Rina, nadanya kini dipenuhi ancaman.
Ia masuk ke kamar tamu, membanting pintu dengan keras. Di balik pintu yang tertutup itu, Rina bersandar, air matanya menetes bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa lega yang aneh. Ia telah memenangkan ronde ini.
Di kamar utama, Danu mencabut kertas dari sakunya, membacanya berulang kali. Ia panik. Ia harus menghubungi Dinda, tapi ia takut Rina mendengar.
Ia mengirim pesan singkat yang sangat mendesak ke Dinda: Hapus semua chat kita. Ganti nama kontakku. Rina tahu sesuatu.
Danu tidak tahu, Rina sudah mengantisipasi ini. Sebelum Rina meninggalkan Danu, Rina telah mengaktifkan fitur location sharing di ponsel Danu dengan ponselnya sendiri, hanya untuk satu jam.
Rina berbaring di kamar tamu, berpura-pura tidur. Tapi matanya terpaku pada ponselnya. Ia menunggu.
Tepat pukul 02.00 dini hari, Rina melihat notifikasi. Danu meninggalkan apartemen.
Rina tersenyum. Danu tidak tahan. Ia panik. Danu tidak pergi untuk bekerja atau bertemu teman. Ia pergi untuk membersihkan kekacauan yang Rina ciptakan. Dan Rina tahu persis ke mana ia pergi.
Rina membuka aplikasi perpesanan mereka. Rina mengirim pesan ke Danu.
Rina: Tidur nyenyak, sayang. Aku tahu kamu pergi ke mana.
Rina mematikan ponselnya dan membiarkan Danu hidup dalam ketakutan.