“Mamaa!” Satrio kecil berlari-lari menyambut kedatanganku dan eyangnya di teras depan. Ya, nama putraku adalah Satrio Wibisono. Kami memanggilnya Aryo. Dulu jika sedang bertengkar, Barli suka menyindir karena aku ngotot memberi nama putra sulung kami Satrio.
“Cinta pertamamu, ya?” Seringnya dia mengira begitu.
“Bukan, Barli. Kamu tahu persis itu nama sahabat kecilku, tak ada hubungannya dengan cinta pertama!” Begitu biasanya jawabanku.
Tidak seperti Satrio sahabat kecilku, Satrio-ku adalah bocah kecil yang periang. Dia tumbuh menjadi anak yang cerdas, sehat, dan kuat. Rambutnya yang ikal berwarna hitam seperti rambutku. Matanya yang bulat besar seperti mata seorang pemimpi, berwarna hitam seperti mataku dan Barli.
Tapi memang, tatapan mata besar itulah, saat pertama kali dia diantarkan kepadaku untuk disusui, yang membuatku ingin menamainya Satrio. Semoga Tuhan memberkatimu Satrio, di mana pun kau berada sekarang.
Aku langsung sibuk dengan berbagai pertanyaan Satrio kecilku. Rupanya dia sedang bermain di teras bersama eyang kakung sambil disuapi makan sore oleh Mbak Uci, pengasuhnya.
Aryo sibuk menunjuk-nunjuk sepeda barunya, bercerita tentang kesibukannya berkeliling naik sepeda sepanjang hari. Sepeda baru itulah yang membuatnya mau ditinggal di rumah bersama pengasuh dan eyang kakung ketika aku dan Mama pergi mengurus sidang pengadilan terakhirku pagi tadi.
Dulu aku juga mendapat sepeda baru sebagai hadiah naik kelas enam dengan nilai rapor yang bagus. Sepeda berwarna putih dengan rem cakram yang bagus, roda-roda yang kokoh, dan klakson yang berdering-dering. Sengaja kubunyikan keras-keras setiap kali melewati rumah Satrio dan membuatnya mengangkat wajah dari apa pun yang sedang dikerjakan, dengan pandangan jengkel.
Suatu sore aku meminta izin Tante Ratri untuk mengajak Satrio jalan-jalan naik sepeda. Mulanya bundanya Satrio kelihatan ragu-ragu. Tapi tatapan mata Satrio yang memohon membuatnya luluh.
Ada segambreng pesan yang diberikan Tante Ratri ketika akhirnya kami diizinkan pergi. Hanya di taman dekat rumah, satu jam sudah harus kembali, Satrio tidak boleh mengayuh sepeda, jika aku kelelahan telepon tante saja, biar nanti tante jemput, jangan lupa pakai jaket, syal, dan topi, apakah perlu bawa jas hujan buat jaga jaga, dan seterusnya.
Meskipun dengan segambreng pesan yang mengharuskan aku mengendarai sepeda ekstra pelan dan hati-hati, hal itu sama sekali tidak mengurangi kegembiraan kami. Kami bernyanyi dan tertawa selama 10 menit perjalanan menuju taman (jika aku sendirian, aku bisa ngebut dalam waktu empat menit dengan sepeda).
Aku menggelar selimut Satrio di salah satu bangku semen yang ada di taman dan menyilakan tuan besar duduk. Kemudian aku duduk di sampingnya, memandangi sahabatku yang untuk pertama kali menghirup udara sore di taman. Pertama kali dibonceng sepeda, pertama kali melihat keramaian di taman yang dipenuhi anak-anak dari kompleks perumahan kami.
Ada yang bermain skateboard, berputar-putar naik sepeda, bermain futsal. Anak-anak yang lebih kecil ribut berebut ayunan, berseluncur dan bermain jungkat-jungkit sambil disuapi oleh para ibu atau pengasuh mereka.
Taman kompleks kami tidak besar, tapi sangat bersih dan teduh. Pohon akasia besar-besar tumbuh di sekelilingnya. Ada pula pot bunga di sekeliling tempat permainan dan bangku-bangku taman yang tersebar di setiap sudut.
Satrio tidak mengatakan apa-apa. Hanya duduk, memperhatikan setiap detail kejadian yang ada di sekeliling. Sudut bibirnya membentuk sesuatu yang hampir kukira sebagai senyuman. Pertama kali, aku melihatnya seperti sedang tersenyum.
Sejak itu, hampir setiap sore, jika Sentul tidak mendung atau hujan, jika Satrio sehat dan jika aku tidak sedang latihan karate atau belajar kelompok untuk menghadapi ujian kelulusan SD, aku akan memboncengkan Satrio ke taman, duduk di bangku taman yang sama, beralaskan selimut tebal yang kami bawa dari rumah, dan duduk diam selama satu jam, menungguinya melukis.
Satrio selalu bersedia menunjukkan hasil sketsanya. Dia menggambar banyak hal. Bangku taman, jungkat jungkit, anak kecil yang memegang bola, bunga-bunga. Kala itu juga, seingatku pertama kalinya Satrio melukis kupu-kupu.
Karena hanya berupa sketsa, tentu saja semua gambarnya masih hitam putih. Nanti di rumah, dalam suasana hati yang cerah, Satrio akan memindahkan hasil sketsanya ke atas kanvas dengan memakai cat air. Lukisan bunga dengan kupu-kupu hinggap di atasnya adalah favoritku. Beberapa kali dia melukis bunga dan kupu-kupu dalam warna yang berbeda.