"Aduh!" Aku berteriak kesakitan saat tiba-tiba kepalaku terhantam suatu benda.
"Dasar b**o, ngapain lewat sini?" Kudengar suara teriakan cewek yang sepertinya sedang marah.
"Lo nggak apa-apa kan, Kar?" tanya Raisa yang ada di sampingku. Aku masih memegangi kepala.
"Sakit," jawabku sambil meringis. "Kaca mataku mana ya, Sa?" Aku mencari-cari kaca mata yang rupanya terlempar saat bola basket itu mengenai kepalaku. Entah siapa yang melempar yang pasti kencang sekali saat bertumbukan dengan kepalaku.
"Sana cepetan minggir woy, dari pada kelempar bola lagi. Udah tau ini lapangan basket buat latihan ngapain lewat sini juga. Dasar manusia-manusia aneh." Cewek yang tadi marah-marah sudah ada di depanku dan Raisa. Tangan kirinya berada di pinggangnya yang ramping dan tangan kanannya memegang bola.
"Sori, Yas. Tadi kami buru-buru. Nyari jalan pintas makanya lewat sini. Sekali lagi sori ya." Raisa menjawab perkataan Yasmin, satu-satunya cewek di sekolah ini yang menurutku tidak punya kekurangan sama sekali. Wajah cantik, tubuh tinggi, langsing, dan putih. Jago banyak hal lagi. Raisa menarik tanganku untuk segera pergi. Setelah memungut kaca mataku kami berlalu dari hadapan Yasmin.
Kami duduk di pojok kantin sekolah. Dari sini kami bisa mengamati segerombolan murid yang sedang berlatih basket.
"Nih, minum dulu Kar." Raisa menyodorkan air jeruk dalam kemasan botol padaku.
"Makasih, Sa," jawabku.
"Sori ya, Kar. Gara-gara gue ngajakin lo lewat lapangan basket, lo jadi terluka kayak gini. Kaca mata lo juga patah lagi." Raisa terlihat sangat menyesal.
"Nggak apa-apa kali, Sa. Ini juga masih bisa dipakai kok. Cuma ujungnya doang yang patah. Gue juga masih ada kaca mata kok di rumah."
"Gue sebenarnya cuma pengen lihat Brian dari deket aja, Kar. Ternyata memang secakep itu. Pantesan semua cewek-cewek pada ngomongin dia." Pandangan Raisa tak lepas dari cowok yang memakai hand band merah. Aku mengikuti arah pandangnya. Jadi itu yang namanya Brian murid pindahan dari luar negeri yang beberapa hari ini jadi topik obrolan Raisa. Yang menurut Raisa, cakep, cool, keren, tapi ramah sama siapa saja. Dia terlihat sedang mengajari Yasmin mendribel bola.
"Tuh, lo lihat deh, Kar. Brian dan Revan dijejerin kayak gitu, surga banget nggak sih. Vitamin A dosis tinggi Kar."
"Udah deh, Sa. Jangan halu, please." Mereka semua yang sedang berlatih basket adalah murid-murid populer di sekolahku. Minggu depan kami akan mulai class meeting untuk mengisi waktu setelah ujian dan sebelum kenaikan kelas. Semua berlomba untuk menunjukkan kemampuan terbaik.
"Kalau Yasmin and the gangs dilatihnya sama Revan dan Brian udah pasti bakal menang deh, Kar." Wajah cemberut Raisa membuatku gemas.
"Sa, tanpa berlatih pun mereka juga pasti bakal juara kok. Emang mereka udah jago aja."
"Kok lo ngomong gitu sih, Kar. Jangan insecure dong. Lo juga jago masalah pelajaran. Tinggal lo gali lagi deh bakat terpendam lo yang lain."
"Tanah kali, digali," jawabku sambil tertawa. Bukannya sombong, aku memang jago kalau urusan pelajaran. Tapi kalau soal bakat, sepertinya Tuhan lupa kasih aku bagian. Aku sangat tidak suka olahraga. Tidak ada satupun olahraga yang aku bisa. Bahkan lari pun aku selalu paling belakang. Sebenarnya aku bisa menyanyi, tapi aku terlalu malu untuk melakukannya di depan orang. Jadi hanya tembok kamar mandi yang setia mendengarkan suaraku.
Tiba-tiba aku merasakan tangan mengelus kepalaku sebelah kiri. Sedikit berdenyut nyeri saat tangan tersebut menekan benjolan di kepalaku.
"Wah, benjol nih. Pasti sakit. Sori banget nih, perasaan gue ngelemparnya nggak terlalu keras deh," kata cowok yang tiba-tiba sudah duduk di sampingku.
Sepersekian detik aku hanya melongo menatap cowok di depanku. Kami memang satu angkatan, tapi kami beda kelas. Aku sama sekali tidak pernah berinteraksi dengannya. Berpapasan pun jarang. Tapi aku tahu dia. Salah satu bahan obrolan cewek-cewek di sekolah ini.
"Kar," panggilan Raisa menyadarkanku.
"Eh, sakit sih, tapi nggak apa-apa kok," jawabku sambil menunduk.
"Berarti udah dimaafin nih gue, salaman dulu dong," ajaknya sambil mengulurkan tangan.
Aku menjabat tangannya dengan ragu. Sekilas aku melihat wajahnya yang tersenyum. Hanya sesaat, kutarik tanganku. Aku pura-pura memainkan botol minum di depanku. Tiba-tiba dia berdiri mengambil botol minum kosong dari tangan kiriku dan menggantinya dengan botol minum baru yang sudah dibuka tutupnya. "Buat tanda permintaan maaf gue."
Sampai cowok itu pamit dan berlalu, aku hanya bisa diam, tidak tahu harus menanggapi bagaimana.
"Gila, Kar. Musibah membawa berkah ini mah. Nggak apa-apa deh lo terluka dikit. Tapi kita bisa dikenal sama Revan, Kar." Raisa terlihat excited yang over dosis.
"Dikenal? Sa, dia tadi itu cuma minta maaf loh, karena ngerasa salah. Dan kita tadi juga nggak kenalan."
"Nggak apa-apa, Kar. Itu tadi udah prestasi banget loh. Semakin membuka jalanku buat lebih dekat sama ayang Brian ini, Kar," kata Raisa sambil mengedipkan mata.
Aku hanya bisa menatapnya prihatin. Sudah kronis sekali sepertinya tingkat halu sahabatku ini.
"Eh, gimana tadi rasanya dielus gitu sama Revan. Pasti deg-degan banget, kan?"
"Deg-degan apanya, sakit tau ditekan gitu bagian benjolnya," jawabku sambil minum teh dalam botol pemberian Revan. Padahal tadi aku kaget bukan main. Campur aduk antara bingung, malu, dan takut.
"Nanti kita bisa double date deh, Kar. Lo sama Revan, gue sama ayang Brian. Seru kali ya," Raisa cekikikan sendiri dengan imajinasinya.
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. "Udah yuk bangun yuk, lo udah tidur terlalu lama, Sa," kataku sambil bangkit meninggalkan Raisa yang masih cekikikan sendiri.