Author Pov
"kak Sel!"
Selda tersenyum hangat kearah adik lelakinya tersebut "lama nunggu?"Ucap Selda sambil berjongkok didepan Alex.
Alex mengerucutkan bibirnya "lama bangetttttttttt, padahal baru aja Alex mau pulang sendiri, eh malah ketemu kakak" Selda menyentil hidung Alex.
"kak, dia siapa?" ucap Alex pelan sambil menunjuk Alan yang berada disamping Selda.
"ini teman kakak, yuk pulang" Selda memegang tangan Alex.
"mau langsung pulang atau jalan-jalan Sel?" tawar Alan.
"pu-"
"jalan, Alex mau jalan kak" ucap Alex dengan semangat.
Alan mengusap pelan rambut Alex "tanya dulu kakak Seldanya gih".
"kak Sel Alex mau jalan ya, boleh ya kak" rayu Alex sambil memeluk Selda.
"lain kali aja ya Lex, kakak ada tugas" Alex mengerucutkan bibirnya "yaudah" jawabnya lemas.
Sepanjang perjalanan pulang Selda dan Alan hanya diam-diaman, sedangkan Alex, sedari tadi ia tak henti-hentinya mengoceh saat melihat toko-toko dipinggir jalan.
"kak Sel, itu toko apa?"
Selda membaca sekilas toko yang bertulisan 'CANDY SHOP' itu "toko permen".
Alex membulatkan matanya "Alex mauu! Kak sel! Alex mau kak! Kak! Kak! Kak mauuuuuu!!!".
"nan-"
"kita putar balik" ucap Alan diiringi senyumnya.
"kak kita beli permen?" tanya Alex kepada Alan, dan dijawab oleh anggukan Alan.
"yeyyy!!"
"BUNDA" teriak Alex menggema dirumahnya.
Elsa yang melihat putra dan putrinya datang pun langsung menghampirinya "Sel? Kok udah pulang? Pulang cepet?".
Selda menggeleng perlahan "Selda tadi-"
"jangan keceplosan!" Batin Selda.
"Selda tadi sakit perut, mungkin mau halangan, jadi Selda pulang" jawab Selda pelan.
"oh, ya udah sana kamu istirahat" Selda tersenyum kearah Ersa lalu beranjak menuju kamarnya.
"bun"
Ersa menatap Alex "kenapa?"
"jeng...jeng...jeng..." ucapnya sambil menunjukkan lolipop yang tadi dibelinya.
"beli dimana kamu dek? Siapa yang beliin? Duit jajan kamu cukup buat beli ini?"
Alex memutar bola matanya "bunda nanyanya satu-satu dong" Ersa hanya tersenyum kearah putranya itu.
"Alex dibeliin sama kak Alan" Ersa mengerutkan keningnya "Alan? Siapa dia? Kan bunda udah bilang, kamu gak boleh terima barang apapun dari orang yang gak dikenal".
"tapi Alex kenal kak Alan bunda"
"kamu kenal? Siapa?"
"temannya kak Selda"
Lagi-lagi Ersa bingung dibuatnya, sejak kapan putrinya itu akrab dengan lelaki?
"teman?" Alex mengangguk.
"bunda tinggal dulu ya, kalau mau makan bunda udah siapin diatas meja makan"
"siap bun" setelah mendapat jawaban dari Alex, Ersa beranjak menuju kamar Selda.
Dilihatnya Selda sibuk dengan tugas-tugasnya, Ersa pun menghampirinya "belajar apa Sel?"
Selda yang sadar bahwa ada Ersa pun menaruh balpointnya "eh bunda, ini tugas sejarah".
"kamu tadi pulang sama siapa?"
Selda gelagapan mendengar pertanyaan bundanya barusan "hah? Emm, Sel-"
"pulang sama teman?" Ersa tersenyum hangat "Alex udah cerita tadi, katanya namanya Alan?" Selda mengangguk ragu.
"bunda gak larang kamu dekat sama siapapun sekalipun itu laki-laki, asal kamu ingat batasan" lagi-lagi Selda mengangguk.
"oh iya, dia anak mana?"
"Alan Lyndon Seabert, anak dari pemilik sekolah aku bun"
Ersa membulatkan matanya "pemilik sekolah? Astaga nak, kenapa harus sama dia? Kamu lupa kita ini dari keluarga-"
"sederhana? Iya bunda Selda tau, lagi pula Selda gak lebih dari sekedar teman kok sama Alan"
Ersa mengembuskan nafasnya "keluarga kita berbeda jauh dengan keluarganya Sel, jangan sampe karena kamu dekat dengannya keluarga kita tertindas".
"bunda, Selda sudah besar, Selda tau mana yang baik mana yang buruk, Selda kan udah bilang Selda sama Alan cuman temen bun gak lebih, kalaupun Selda dan Alan berjodoh gak akan ada yang bisa ngubah takdir bun" Ersa bungkam dibuatnya.
"bunda percaya sama kamu" Ersa pun keluar dari kamar Selda.
Selda merebahkan tubuhnya ke kasur, ia mengehmbuskan nafasnya berat "bunda kenapa sih? Lagian kan gue sama Alan gak ada apa-apa" pikirnya.
Hari ini, hari minggu, itu tandanya ini adalah hari libur. Mungkin banyak sekali orang yang berlibur hari ini, mulai dari anak remaja sampai orang dewasa. Namun tidak dengan Selda, Selda sibuk membantu bundanya membuat kue untuk dijual di komplek perumahan.
"udah Sel, biar bunda yang lanjutin, kamu siap-siap gih sana buat nanti jualan" Selda mengangguk dan beranjak menuju kamarnya.
Jualan? Ya, biasanya setiap hari minggu Selda membantu bundanya berjualan kue. Selda akan berkeliling di komplek-komplek perumahan mewah, biasanya kalau hari minggu tidak akan dilarang untuk berjualan disana.
"Selda pergi dulu bun, assalamualaikum"
"walaikumsallam" Selda pun pergi meninggalkan rumahnya.
Pertama-tama, Selda akan mengelilingi taman terlebih dahulu, biasanya kalau wekkend begini ramai sekali orang yang pergi ke taman.
"dek" panggil seorang wanita yang sedang duduk di pinggir kolam taman.
Dengan senang hati Selda menuju kearah wanita tersebut "iya bu?"
"coba saya liat jualan kamu"
Senyuman mengembang di bibir tipis Selda, dengan senang hati Selda memperlihatkan dagangannya.
"wah keliatannya enak semua ini" puji wanita itu "saya ambil semua deh, berapa?"
Mata Selda berbinar-binar mendengarnya "serius bu? Ibu mau ambil semua?"
Wanita itu mengangguk.
"80 ribu aja bu" wanita itupun mengeluarkan duit berwarna merah dari dompetnya "kembaliannya ambil aja".
Lagi-lagi Selda tersenyum mendengarnya, sungguh wanita dihadapannya ini adalah wanita yang sangat baik "mau saya antarkan bu?"
Wanita itu tampak terdiam sejenak "boleh deh, yuk langusung ke rumah saya aja" Selda mengangguk dan membawakan kue ibu itu.
Rumah mewah bernuansa putih abu-abu, ukurannya sangatlah besar bagi Selda, didepan rumahnya terdapat halaman yang cukup luas, disana juga terdapat taman dan kolam ikan. Selda pun kagum dibuatnya.
"nak? Ayok masuk" ucap wanita itu membuyarkan lamunan Selda.
"eh iya bu" ucapnya sambil tersenyum manis.
Baru selangkah Selda menginjakkan kakinya dirumah ibu itu, lagi-lagi Selda kagum dibuatnya. Rumahnya sangatlah elegan dan natural, pandangan Selda menyapu seluruh sudut ruangan itu.
Dan, sekarang Selda berada didapur rumah itu, dan dapurnya sangat-sangat mewah, membuat Selda membelalakkan matanya tak percaya.
"taruh disini aja nak" ucapnya sambil menunjuk meja makan.
"eh iya bu"
"makasih ya su--"
"MAH" teriak seseorang, sepertinya suara seorang lelaki, ah mungkin anaknya ibu itu, beruntung sekali anak itu mempunyai rumah semewah ini, pikir Selda.
"iya Mama disini"
Selda berbalik untuk melihat anak ibu itu. Dan!
"Alan?"
"Selda?"
"loh kalian saling kenal?"
"emm iya bu dia teman saya"
"gak usah canggung gitu sama saya, panggil saja saya Tante atau Mama juga boleh" godanya membuat pipi Selda merah.
"lo ngapain Sel?"
"nganterin--"
"eh ini tadi Mama beli kue sama dia, dan dia nganterin Mama, baik banget kan dia bang? Udah baik cakep lagi, tipe-tipe menantu idaman Mama banget"
Alan terkekeh "apaan sih Ma, Alan sama Selda cuman--"
"ABANG!!!" teriak seorang anak kecil sambil berlari kearah dapur dan menghampiri Alan.
"bang" Alan menaikkan satu alisnya.
"dia siapa" ucapnya dengan nada imutnya.
"teman abang"
"hai kakak cantik, nama aku Caca, kalau nama kakak cantik siapa?"
Selda tersenyum dan berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan anak itu "nama kakak Selda, panggil aja kak Selda" setelah itu ia pun bangkit dari jongkoknya.
"Tan, Selda pamit pulang dulu ya" pamitnya sambil menicum punggung tangan wanita itu.
"Lan gue balik dulu"
Lalu ia berjongkok lagi "kak Selda pulang dulu ya, see you" ucapnya sambil mengusap pelan rambut Caca.
Caca cemberut dibuatnya "huft, see you too"