Bukan undangan Selir Wei yang membangunkan Mei Lin malam itu.
Itu adalah suara langkah di lorong luar kamarnya. Pelan, tetapi disengaja — langkah yang ingin terdengar, yang mengetuk pintu hatinya sebelum mengetuk pintu kayu.
Mei Lin membuka mata. Lilin di dalam kamar masih menyala — ia memang sengaja membiarkannya menyala sepanjang malam, sejak pernikahan tiga hari yang lalu. Lilin yang menyala adalah cara seorang istri menunggu suami yang tidak datang. Itu juga, Mei Lin tahu, adalah cara Bu Niang menyampaikan pesan ke seluruh istana: *Tuan Putri masih menunggu*.
Dan setiap pagi, ketika pelayan datang dan melihat lilin yang masih menyala, mereka semua tahu apa yang tidak terjadi malam itu.
"Selir Mei Lin." Suara perempuan menyapa dari balik tirai. Bukan suara Bu Niang. Bukan suara dayang muda yang biasa.
Mei Lin duduk. Ia menarik selimut sutera lebih tinggi.
"Siapa di sana?"
"Saya Yu Lan, dayang dari Sayap Barat. Saya datang dengan pesan dari Yang Mulia Pangeran. Beliau memerintahkan Anda menemuinya di Taman Teratai. Sekarang."
Sayap Barat. Tempat tinggal Pangeran. Mei Lin menelan ludah.
"Berapa orang yang tahu tentang ini?"
Pertanyaan itu keluar sebelum Mei Lin sadar betapa berbahaya pertanyaan itu — ia menanyakan kepada dayang asing tentang siapa yang dipercaya dan siapa yang tidak.
Yu Lan terdiam sebentar, kemudian menjawab dengan suara yang sangat hati-hati: "Hanya Yang Mulia, Tuan Putri. Dan saya. Pengawal Yang Mulia menunggu di luar lorong sayap timur — tetapi mereka tidak akan ikut ke taman."
Mei Lin tahu setiap kata Yu Lan harus dibaca dua kali. Tetapi sesuatu di nada perempuan itu — sedikit gemetaran di akhir kalimat — membuat Mei Lin sadar: Yu Lan juga takut.
"Tunggu sebentar. Saya berpakaian dulu."
Para dayang Mei Lin yang tidur di luar kamar — Bu Niang dan dua dayang muda — pasti terbangun karena pintu yang dibuka. Tetapi tidak ada yang berani bertanya. Pesan dari Pangeran adalah hukum.
Mei Lin mengenakan jubah perak yang sudah disiapkan Bu Niang sejak pagi — jubah resmi yang dipakai ketika menemui suami di tempat di luar kamar tidur. Tangannya gemetar saat mengikat ikat pinggang sutera. Bu Niang masuk diam-diam dan membantunya — tanpa pertanyaan, tanpa komentar — hanya menyentuh bahu Mei Lin sekilas, seperti berkata: *kau akan baik-baik saja*.
***
Bulan purnama menggantung tepat di atas kolam teratai, sempurna seperti lukisan.
Taman Teratai adalah salah satu taman dalam istana Tan — bukan yang terbesar, tetapi yang paling tua. Kata legenda, taman ini dibangun oleh permaisuri pertama Kerajaan Tan, lima ratus tahun lalu, untuk merenung setelah suaminya — sang Kaisar pertama — meninggal di medan perang. Bunga teratai di kolamnya tidak pernah mati, kata orang. Bunga teratai itu mekar setiap purnama, terbenam setiap bulan baru, dan tidak ada tukang kebun yang pernah menanam ulang.
Mei Lin melangkah hati-hati di atas batu pijakan yang dingin. Yu Lan berhenti di tepi taman — protokol mengharuskan dayang tidak ikut masuk ketika Pangeran ingin bicara empat mata.
Pangeran Liang sudah berdiri di sana, di tengah jembatan kayu yang melintasi kolam. Punggungnya menghadap Mei Lin. Jubah hitam dengan motif naga perak — bukan jubah pagi yang ia pakai di Aula Dewan, melainkan jubah pribadi — tertiup angin malam yang lembut.
Mei Lin berhenti di ujung jembatan. Ia tidak tahu protokol untuk situasi ini. Sang istri yang dipanggil sang suami di taman, di tengah malam, di hari ketiga setelah pernikahan yang belum dikonsumsi.
"Mendekat, Tuan Putri."
Suaranya datar. Dingin seperti batu di musim dingin, sebagaimana yang Mei Lin ingat dari upacara pernikahan. Tetapi sekarang ada nuansa lain — sesuatu yang seperti kelelahan.
Mei Lin melangkah ke jembatan. Empat langkah, lima langkah, enam. Sampai ia berhenti dua tombak di belakang Liang. Cukup dekat untuk berbicara, cukup jauh untuk protokol.
Liang tidak menoleh. Ia masih menatap kolam, di mana bunga teratai putih raksasa mekar di bawah cahaya bulan, kelopaknya bergetar pelan oleh angin.
"Kau bukan Lan Yi," kata Liang akhirnya. Suara itu jatuh seperti pisau ke meja kayu. Tegas, tetapi tidak agresif. "Kakakmu yang harusnya berdiri di sini."
Mei Lin merasa tubuhnya membeku. Tiga hari ia menunggu kalimat ini. Tiga hari ia berlatih jawaban di kepalanya — alibi, kebohongan, cerita-cerita yang Permaisuri Ibu Suri ajarkan. Tetapi sekarang, ketika Liang akhirnya mengucapkannya, Mei Lin tidak bisa mengucapkan apa pun.
"Kakak saya..." suaranya pecah. Mei Lin berdeham, mencoba lagi. "Kakak saya sakit, Yang Mulia."
Liang berbalik perlahan.
Untuk pertama kalinya, Mei Lin melihat wajah Liang dari jarak dekat di malam. Cahaya bulan jatuh di pipinya, menyoroti rahang yang tegas, mata yang gelap, dan satu hal yang Mei Lin tidak bayangkan: Liang tampak lelah. Lelah dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan kurang tidur. Lelah seperti orang yang sudah membaca terlalu banyak kebohongan dalam hidupnya.
"Aku tahu kebenarannya, Mei Lin."
Bukan Mei Yan. Mei Lin.
Mei Lin merasa tanahnya runtuh.
"Yang Mulia—"
"Kakakmu, Lan Yi," Liang melangkah lebih dekat. Setiap langkah adalah dua tombak yang berkurang. "Mencintai Jenderal muda Bai Heng. Sudah satu tahun terakhir mereka surat-menyurat. Tiga hari yang lalu — pas hari aku berangkat ke Lembah Yang untuk menjemputmu — kakakmu kabur dengan Bai Heng melewati Perbatasan Utara. Sekarang mereka di Khanate Beyu, dilindungi oleh Khan yang berhutang nyawa pada Bai Heng."
Liang berhenti satu tombak di hadapan Mei Lin. Ia tidak menyentuhnya. Tetapi ia cukup dekat untuk Mei Lin mencium aroma melati dan baja dari tubuhnya — campuran yang aneh, tetapi sangat khas. Aroma seseorang yang menggunakan minyak rambut melati tetapi juga membawa pedang setiap hari.
"Ayahmu tidak ingin kehilangan koneksi dengan istana. Maka kau dikorbankan. Dia mengirim adik kakakmu — adik yang bahkan belum berumur delapan belas tahun — sebagai pengganti."
"Yang Mulia..." Mei Lin menarik napas. Air matanya sudah menggenang di kelopak, tetapi ia menolak membiarkannya jatuh. Tidak di hadapan pria ini. "Saya... saya tahu. Saya sudah tahu sejak hari pertama. Kalau Yang Mulia ingin menghukum keluarga saya..."
"Aku tidak akan menghukum keluarga apa pun."
Mei Lin mengangkat wajahnya.
Liang menatapnya. Mata gelap yang Mei Lin kira tidak punya apa pun di dalamnya — sekarang, untuk pertama kalinya, menunjukkan sesuatu. Bukan kemarahan. Bukan iba. Sesuatu yang lebih sulit dipahami.
"Aku tidak akan menyentuhmu," lanjut Liang. Kata-kata itu, yang seharusnya melegakan, jatuh ke dada Mei Lin dengan rasa sakit yang aneh. "Aku tidak menikahimu karena aku menginginkan istri. Aku menikahimu karena protokol kerajaan. Untuk politik. Untuk koneksi dengan keluarga Ho yang masih punya pengaruh di tiga provinsi selatan."
"Saya mengerti, Yang Mulia."
"Tetapi kau juga tidak boleh kembali ke rumahmu. Pernikahan ini harus terlihat sah di depan Kaisar — ayahku — yang hanya berkunjung dua kali setahun ke istana ini. Kau akan tinggal di Sayap Timur sebagai Selir Mei Yan. Selamanya."
"Saya... mengerti, Yang Mulia."
"Dan satu hal lagi." Liang melangkah lebih dekat. Sekarang Mei Lin bisa merasakan udara hangat dari napasnya menyentuh keningnya — Liang lebih tinggi dua kepala. "Jangan percaya siapa pun di istana ini. Tidak Permaisuri Ibu Suri, tidak Selir Wei, tidak pejabat-pejabat yang akan membungkukkan kepala kepadamu. Tidak bahkan dayang yang membangunkanmu malam ini."
"Yu Lan?"
"Yu Lan adalah dayang Selir Wei. Aku meminjamnya untuk malam ini, supaya Selir Wei tahu — diam-diam — bahwa aku menemuimu di taman ini. Itu pesan untuknya, bukan untukmu."
Mei Lin merasa kepalanya berputar. Politik istana sudah begitu rumit, bahkan dalam tiga hari pertamanya.
"Yang Mulia... mengapa Anda memberi tahu saya semua ini?"
Liang menatapnya lama. Sangat lama. Mei Lin mulai merasa Liang tidak akan menjawab.
Tetapi akhirnya, ia menjawab.
"Karena kau, Mei Lin, datang ke istana ini sebagai pengganti yang dipaksa. Bukan karena keinginanmu. Bukan karena ambisi. Bukan karena cinta. Itu — di dunia di mana semua orang menggunakan satu sama lain — adalah hal yang langka."
Liang berhenti, lalu menambahkan dengan suara yang lebih rendah:
"Aku menghormati hal yang langka."
Lalu ia berbalik. Mulai berjalan menuruni jembatan. Mei Lin masih berdiri di tempatnya, tidak bisa bergerak.
"Yang Mulia."
Liang berhenti, tetapi tidak berbalik.
"Iya, Mei Lin."
"Kalau Anda... menghormati saya... berarti Anda akan melindungi saya?"
Beberapa detik berlalu. Bunga teratai bergetar di kolam. Bulan purnama berkilau.
"Iya," kata Liang akhirnya. "Sebisa aku."
Lalu ia pergi. Meninggalkan Mei Lin sendirian di atas jembatan, di bawah bulan, dengan jantung yang berdegup terlalu cepat untuk alasan yang ia mulai — hanya mulai — pahami.