Flashback
Hari ini hujan mengguyur kota Jakarta tanpa henti, seakan menemani seorang gadis kecil yang menangis memeluk lututnya sendiri dengan miris.
"Aku benci papa, aku kangen mama hiks"
gadis kecil itu terus saja terisak, sampai ia tak sadar ada anak laki-laki seusianya yang berdiri disebelahnya dan menepuk bahunya pelan membuat gadis kecil itu mendongak dengan mata sembabnya.
"ka-kamu siapa?" ucap gadis kecil itu tergagap karena terlalu lama menangis.
"Kamu bisa panggil aku Ata, nama kamu siapa ?" Tanya anak laki-laki itu pada sang gadis kecil
"Nama aku Aya" Jawab gadis kecil sambil menunduk
"Kamu cantik" ucap Ata spontan karena menatap mata coklat dan bulu mata lentik Aya
Ata tersenyum malu setelah mengatakannya, membuat Aya yang tadinya menangis sekarang mengukir senyum kecil.
"Aya kenapa nangis? ini tangan kamu kok banyak luka?"
Aya hanya menunduk tanpa berani menjawab.
Melihat respon Aya yang sepertinya tidak nyaman atas pertanyaannya, membuat Ata langsung mengalihkan pembicaraan.
"Hm, Aya jangan nangis lagi setelah ini ya? Ata janji bakal temenin Aya buat main di taman ini setiap hari, kita bakal jadi teman, dan Ata pasti jagain Aya"
Ata mengusap kepala Aya, dan gadis kecil itu mengukir senyum tulus di bibirnya.
"Ata janji?" Aya bertanya ragu sambil mengangkat jari kelingkingnya, seakan banyak harapan di matanya agar anak laki-laki di depannya menepati janji atas perkataannya.
Gadis kecil itu seakan takut karena ditinggal lagi oleh orang-orang yang disayanginya.
"Iya, Atanya Aya janji" Ucap Ata tersenyum sambil mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Aya yang kecil.
"Yaudah yuk main hujan!" Ajak Ata semangat
Aya hanya mengangguk, lalu ikut berlari mengikuti Ata yang sedang menikmati hujan dan bermain air.
Aya sejenak melupakan kesedihannya karena kehadiran Ata.
"Aya!" Anak laki-laki itu memanggil Aya dengan sedikit berteriak karena hujan meredam suara kecilnya.
Aya mendekat disebelah Ata mengikuti tingkah Ata yang memejamkan mata di tengah hujan.
"Aya? kamu tau nggak kenapa aku ajak kamu main hujan?"
Aya menggelengkan kepalanya
"Coba deh rasain, gimana damainya kamu waktu hirup bau tanah yang kena hujan, kamu akan ngerasa tenang saat rintiknya jatuh ditubuh kamu, dan hujan itu tempat paling tepat buat mencipta atau bahkan mengingat kenangan sama orang yang kamu sayang"
Aya tersenyum dan mengangguk membenarkan perkataan Ata.
"Dan ditengah hujan juga, aku ingin menciptakan kenangan sama kamu Aya, sampai nanti."
Aya menatap dalam Ata, tanpa aba-aba memeluk erat Ata dalam dekapannya.
Ata membalas pelukannya dan tersenyum.
"Terimakasih Ata, telah menjadi satu-satunya sumber bahagia yang Aya punya"
Keduanya bertatapan dan saling melempar senyum bahagia di tengah hujan.
Ata, laki-laki kecil itu seakan mengerti bahwa Aya punya banyak luka dan ia berjanji akan melindungi gadisnya, Aya.
***
Waktu berlalu dengan cepat menemani kedua anak kecil yang terus saja menikmati detik demi detik dengan tawa riangnya.
Aya, gadis kecil itu tiap sekolah selalu mengunjungi taman favoritnya untuk menunggu Ata dan setelah itu mereka bermain bersama.
Dan hujan, adalah saat favorit keduanya untuk bermain dan menari berdua.
"Aya!"
Suara Ata mulai memecah keheningan di antara keduanya, melawan suara gaduh hujan yang membasahi bumi dengan derasnya.
Aya menatap Ata yang sorot matanya terlihat sayu, ia berjalan tepat di depan Ata untuk mendengarkan apa yang akan Ata katakan, jujur saja kali ini perasaannya sedikit takut.
"Aya, aku janji bakal terus jagain kamu, kalau misalnya suatu saat nanti aku pergi, aku akan tetap berusaha jagain kamu dari jauh, jangan nangis lagi oke, Ata bakal tetap ada buat jagain Aya terus" Ata megulas senyum tipis dan Aya hanya mengangguk ragu
"Ata kok ngomong gitu? Emangnya Ata mau kemana?" Aya menatap Ata dengan genggaman tangan yang kian mengerat seakan tak membiarkan Ata pergi meninggalkannya, Aya hanya takut bahwa nanti Ata tidak kembali.
Ata hanya menggelengkan kepalanya, dan menjawab pertanyaan Aya dengan sebuah pelukan.
Setetes air mata menetes di pipi Ata, dia seakan merasa bersalah.
Jika dia pergi, lantas siapa yang akan menjaga gadisnya?
Kedua anak itu saling berpelukan di tengah hujan, seperti saat semesta pertamakali mempertemukan mereka berdua.
Bedanya, kali ini Aya justru merasa takut.
"Udah ya, Ata pulang dulu udah sore, Aya juga pasti udah dijemput sama tantenya Aya" ucap Ata sembari melepaskan pelukan, langkah kakinya perlahan menjauh dari Aya.
"Ata besok tetap main sama Aya lagi kan?" teriak Aya
Ata menolehkan kepalanya ke belakang, kemudian mengangguk samar.
Dan nyatanya Ata tak pernah lagi datang dan mungkin ia mengingkari janjinya.
***
Hari mulai berganti menyisakan seorang gadis kecil yang sejak dua jam lalu duduk dibangku taman sendirian, setelah pulang dari sekolah ia selalu bersemangat untuk bermain hujan bersama sahabat laki-lakinya Ata, namun sahabatnya itu tak kunjung datang.
Menit berikutnya, langkah kaki seorang wanita menghampiri sang gadis kecil.
"Aya sayang, pulang yuk udah sore"
Tante Aya, Natha berusaha membujuk keponakannya agar mau pulang
"Tante Nath, Aya nggak mau pulang dulu, Aya mau ketemu Ata, Aya takut kalau nanti mimpi buruk itu datang lagi kalau Aya nggak main hujan sama Ata" Ucap Aya memohon
Tante Natha mengerti, keponakannya ini sudah jarang mimpi buruk lagi sejak bertemu dengan Ata, mimpi buruk yang dialami gadis sekecil Aya karena mengalami trauma dimasa lalu, demi kesembuhan keponakan kesayangannya juga ia bersedia mengantarkan dan menjemput gadis kecil itu untuk bermain hujan tiap pulang dari sekolah, padahal jarak sekolah dan rumah mereka cukup jauh dari taman ini.
Tante Natha mengusap bahu Aya pelan, ia mengerti sekali bagaimana keadaan Aya, tapi mau bagaimana lagi? hari suda sore dan seseorang yang ditunggu-tunggu oleh Aya belum juga datang.
"Aya, kayaknya hari ini Ata sakit jadinya nggak bisa temenin Aya main hujan, kalau nanti dia kesini terus main hujan sama Aya pasti besok demamnya naik. Aya emangnya mau Ata besok juga nggak kesini karena masih sakit? jadi biarkan Ata istirahat dulu dirumah, dan besok kita kesini lagi buat ketemu Ata"
Tante Natha terpaksa membohongi Aya, Ia juga tidak tega dengan Aya karena siang tadi ia terlalu bersemangat bertemu Ata dan telah melewatkan makan siangnya.
"Gitu ya tante? Aya nggak mau kalau besok Ata masih sakit, Aya bakal pulang dan do'ain Ata biar cepat sembuh terus bisa temenin Aya main hujan lagi" ucap Aya tulus
Tante Natha tersenyum lega, ia menghembuskan napasnya pelan lalu menggandeng Aya dan melangkahkan kaki menjauhi taman.
***
"Ata kemana? kenapa Ata ngingkarin janji? katanya Ata nggak pergi? Ata pembohong!" Aya menangis tergugu di bangku taman yang sama saat gadis itu pertamakali bertemu dengan Ata.
Ata ternyata tidak menepati janjinya pada Aya untuk tidak pergi.
Aya, gadis itu bahkan selalu menyempatkan waktu mampir ke taman dan berharap Atanya datang, nyatanya Ata benar-benar tidak kembali untuk menemui Aya setelah pertemuan terakhir mereka tiga tahun yang lalu.
Seiring waktu kepergian Ata, gadis itu menjadi lebih murung dari biasanya, Aya sering mendapat lagi mimpi buruk atas traumanya di masa lalu.
Aya selalu pergi ke taman dan bermain hujan sendirian membayangkan Ata memeluk tubuhnya dan mereka tertawa bersama.
Seringnya ia bermain hujan tanpa ingat waktu, membuat tubuhnya selalu tumbang setelah bermain hujan, kebiasaan ini terus dilakukannya sampai remaja, sebagai bentuk kerinduannya kepada Ata, meskipun itu menyiksa tubuhnya sendiri.
"Ata ayo kembali, jangan buat aku benci kamu!"