Surat dari ibu Albert tiba pada pagi yang cerah, dibawa oleh burung elang utusan yang hinggap di menara surat kastil perbatasan. Albert membacanya di meja sarapan dengan ekspresi yang berubah-ubah, dan Syahquita yang duduk di sebelahnya bisa menebak bahwa isi surat itu bukan sekadar ucapan selamat biasa.
“Apa katanya?” tanya Syahquita akhirnya, setelah suaminya membaca surat yang sama untuk ketiga kalinya.
Albert menurunkan surat itu. “Dia bahagia. Sangat bahagia.” Ia berhenti sejenak. “Dan dia akan datang. Minggu depan.”
Syahquita menelan ludah. Hubungannya dengan ibu mertuanya tidak pernah buruk, tapi juga tidak pernah benar-benar hangat. Wanita itu—Nyonya Agatha—adalah bangsawan vampir tulen yang memandang segala sesuatu dari ketinggian garis keturunan dan tradisi. Syahquita, manusia biasa tanpa darah bangsawan, tidak pernah sepenuhnya lolos dari penilaian mata tajamnya.
“Itu bagus,” ucap Syahquita, mencoba terdengar yakin. “Dia berhak bertemu cucunya yang sedang dalam perjalanan.”
Albert membaca keraguan di wajah istrinya. “Kau tidak harus memaksakan diri. Kalau kau tidak ingin dia datang sekarang, aku bisa mengatur penundaan.”
“Albert, dia nenek anak ini. Dia akan datang cepat atau lambat. Lebih baik kita hadapi sekarang daripada membiarkannya menjadi masalah yang dipendam.” Syahquita meneguk teh jahe yang sudah menjadi minuman wajibnya setiap pagi. “Lagi pula, aku sudah pernah menghadapi musuh yang jauh lebih buruk daripada ibu mertua yang galak.”
Albert nyaris tersedak mendengar itu. “Ibuku bukan musuhmu.”
“Tidak. Tapi dia juga bukan penggemarku,” jawab Syahquita datar, dan Albert tidak bisa membantah kalimat itu.
Setelah sarapan, Syahquita kembali ke kamar dan menulis surat untuk ibunya sendiri. Surat itu sudah ia siapkan sejak dua hari lalu, sebenarnya—ia hanya belum menemukan keberanian untuk menandatanganinya. Menulis kabar kehamilan ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Bukan karena ia tidak bahagia, melainkan karena kabar sebesar ini terasa terlalu penting untuk ditulis dengan tinta dan kertas biasa.
Pada akhirnya ia menulis sederhana saja: bahwa ia sehat, bahwa Oliver tumbuh dengan baik, dan bahwa dalam beberapa bulan ke depan, ibunya akan memiliki satu cucu lagi. Ia menandatangani surat itu, melipatnya, dan memanggil penjaga yang bertugas mengantar surat ke kota tempat ibunya tinggal.
“Kirim dengan kurir tercepat,” pesannya. “Dan pastikan sampai ke tangannya langsung.”
Setelah penjaga itu pergi, Syahquita duduk di tepi jendela dan menatap keluar. Ia memikirkan ibunya—wanita sederhana yang bekerja keras seumur hidupnya, yang dulu menangis bahagia saat mendengar Syahquita menikah, yang menulis surat setiap bulan tanpa pernah putus. Ibunya tidak akan percaya kabar ini. Ibunya akan membaca surat itu berulang-ulang, lalu memeluknya saat mereka bertemu nanti, lalu menangis, lalu tertawa, lalu menangis lagi.
Dan untuk pertama kalinya, Syahquita sangat ingin pelukan ibunya.
Ia juga memikirkan Oliver—anak yang bukan berasal dari rahimnya, tapi sudah menjadi milik hatinya seutuhnya. Anak ini tidak akan pernah dibedakan dari adik kandungnya kelak. Syahquita sudah memutuskan itu sejak lama, bahkan sebelum kehamilannya diketahui. Dua anak, dua kisah, satu keluarga. Itu janjinya pada dirinya sendiri.
Hari-hari berikutnya diisi dengan persiapan menyambut kedatangan Nyonya Agatha. Arla sibuk menyiapkan kamar tamu terbaik, para pelayan dapur merencanakan menu yang layak untuk bangsawan tua, dan Albert—tentu saja—mengawasi semuanya dengan mata elangnya. Syahquita sendiri lebih banyak beristirahat, mengikuti anjuran Alger yang semakin ketat setelah mengetahui kehamilannya masih di trimester pertama.
Keenan, seperti biasa, menemukan cara untuk membuat persiapan itu menjadi bahan candaan. Ia berjalan-jalan di koridor dengan suara keras, “Nyonya Agatha datang! Semua rapikan bulu kalian!” sampai Dawin melemparinya dengan bantal sofa. Robert hanya menggelengkan kepala, tapi Syahquita melihat sudut bibir pria pendiam itu terangkat sedikit. Bahkan Robert pun tahu bahwa kedatangan Nyonya Agatha adalah peristiwa yang layak ditanggapi dengan campuran hormat dan geli.
Dua hari sebelum kedatangan sang nyonya, Syahquita memeriksa sendiri kamar tamu yang disiapkan Arla. Kamar itu sudah bersih dan megah, tapi Syahquita menambahkan satu sentuhan kecil: sejambak bunga liar segar dari taman kastil, diletakkan di vas kristal di meja samping tempat tidur. Nyonya Agatha tidak akan pernah memujinya, tentu saja. Tapi Syahquita melakukannya bukan untuk pujian—ia melakukannya karena wanita itu adalah ibu dari suaminya, dan itu cukup menjadi alasan.
“Tuan Putri terlalu baik,” komentar Arla yang melihatnya.
“Tidak, Arla. Aku hanya belajar bahwa perang tidak selalu dimenangkan dengan pedang. Kadang dengan vas bunga,” jawab Syahquita sambil tersenyum kecil.
Namun di tengah kesibukan itu, kabar dari pos utara datang lagi. Kali ini bukan jejak kaki, melainkan sesuatu yang lebih aneh: seekor rusa ditemukan mati di tepi hutan pinus, tubuhnya utuh tanpa luka, tapi darahnya habis sampai kering.
“Darahnya habis tapi tidak ada luka,” ulang Albert saat membaca laporan itu bersama Syahquita malam harinya. “Itu bukan serigala. Serigala mencabik. Ini… rapi. Terlalu rapi.”
“Vampir?” tebak Syahquita, meski kata itu terasa pahit di lidahnya. Albert sendiri berdarah vampir.
“Vampir tidak menghisap rusa sampai kering lalu membiarkan bangkainya utuh di tempat terbuka. Itu seperti meninggalkan tanda. Seperti… pesan.” Albert meremas tepi laporan itu. “Seseorang ingin kita tahu bahwa mereka ada di sana.”
Syahquita merasakan bulu kuduknya meremang. “Atau seseorang ingin kita sibuk melihat ke utara, sementara mereka datang dari arah lain.”
Albert menatap istrinya dengan tatapan baru—setengah khawatir, setengah kagum. “Kau benar. Itu kemungkinan yang tidak kupikirkan.” Ia segera menuliskan perintah tambahan: perkuat semua sisi, bukan hanya utara. Jangan terpaku pada satu titik.
Malam itu, sebelum tidur, Syahquita berdiri di depan jendela kamar mereka, menatap kegelapan di luar tembok kastil. Bulan setengah terang menggantung di langit, dan hutan pinus di utara terlihat seperti dinding hitam yang diam dan menunggu.
Dari kamarnya yang hangat, ia bisa mendengar suara Keenan tertawa di lantai bawah, dan suara Dawin yang berusaha menenangkannya. Suara-suara itu biasa saja, tapi malam ini terdengar berharga—bukti bahwa di dalam tembok ini, kehidupan masih berjalan dengan normal, dengan tawa, dengan persahabatan yang sudah diperjuangkan bertahun-tahun.
Albert keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan langsung menyadari istrinya masih berdiri di jendela. “Kau belum tidur.”
“Belum mengantuk,” jawab Syahquita tanpa berbalik.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Albert dari belakang, melingkarkan lengannya di bahu Syahquita dengan hati-hati.
“Aku memikirkan rusa itu,” jawab Syahquita jujur. “Dan aku memikirkan betapa damainya hidup kita beberapa minggu terakhir. Terlalu damai. Seolah-olah takdir sedang menarik napas dalam-dalam sebelum meniupkan badai.”
Albert menarik istrinya lebih dekat. “Kalau badai itu datang, kita hadapi bersama. Seperti biasa.”
“Seperti biasa,” ulang Syahquita, menyandarkan punggungnya ke dada suaminya. Tapi jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa badai kali ini berbeda. Karena kali ini, ada nyawa ketiga yang harus mereka lindungi—nyawa yang bahkan belum sempat melihat dunia.