Kertas itu mengubah segalanya. Bukan karena ancamannya—ancaman sudah lama menjadi bagian dari hidup mereka—melainkan karena isinya. Kamar bayi Oliver tidak tercantum di peta mana pun. Tidak ada cara bagi pengintai luar untuk tahu di kamar mana Oliver tidur, kecuali mereka mendapatkan informasi itu dari orang yang tinggal di dalam tembok.
“Ada orang di dalam,” ucap Syahquita pagi itu, di ruang kerja tertutup bersama Albert, Dawin, Keenan, dan Robert. “Kita semua sudah memikirkannya sejak simbol di kebun. Sekarang kita punya buktinya.”
Albert berjalan mondar-mandir seperti hewan yang dikurung. “Semua orang di dalam tembok kedua adalah orang lama. Orang-orang yang sudah bertahun-tahun—”
“Bertahun-tahun bukan jaminan, Albert,” potong Syahquita pelan tapi tegas. “Drake dulu bergerak lewat orang-orang yang dipercaya keluarganya bertahun-tahun. Yashita adalah keluarga. Devian adalah keluarga. Pengkhianatan tidak pernah datang dari orang asing. Ia datang dari orang yang sudah punya kunci.”
Ruangan itu hening. Kebenaran kalimat itu tidak nyaman bagi semua orang yang mendengarnya.
“Bagaimana cara kita menemukannya?” tanya Robert. “Kita tidak bisa menginterogasi semua orang. Itu akan menghancurkan kepercayaan yang sudah kita bangun, dan itu justru yang diinginkan musuh—kita saling curiga di dalam tembok sendiri.”
Syahquita duduk diam sejenak, memikirkan. Lalu ia berkata, “Kita tidak mencari pengkhianat. Kita mencari kebiasaan yang berubah. Seseorang yang tiba-tiba lebih sering ke dapur. Seseorang yang tiba-tiba tahu jadwal yang bukan urusannya. Seseorang yang tiba-tiba punya barang baru.” Ia menatap mereka satu per satu. “Pengkhianat selalu dibayar. Pembayaran selalu meninggalkan jejak.”
Albert menghentikan langkahnya. “Arla.”
“Bukan Arla,” jawab Syahquita cepat, terlalu cepat.
“Aku tidak menuduhnya,” ucap Albert. “Aku mengatakan kita mulai dari orang yang paling jelas tidak mungkin, dan kita memeriksanya dengan teliti—karena kalau Arla bersih, dan semua orang tahu dia bersih, maka dia bisa membantu kita mengamati yang lain. Dia yang paling banyak bergerak di antara semua area kastil.”
Syahquita memikirkan itu, lalu mengangguk. “Baik. Tapi kau yang bicara dengannya, dan kau bicara dengan hormat. Gadis itu sudah menyelamatkan nyawaku sekali.”
Sebelum Arla dipanggil, Syahquita menemui Nyonya Agatha di teras. Wanita tua itu sedang minum tehnya seperti biasa, tapi matanya langsung mengangkat ketika melihat wajah Syahquita. “Katakan.”
“Ada kemungkinan orang di dalam yang bekerja untuk mereka,” ucap Syahquita, duduk di sampingnya. “Kami akan memeriksa tanpa membuat kegemparan. Tapi aku ingin mata Anda ikut mengawasi. Anda sudah membaca orang lebih lama dari siapa pun di kastil ini.”
Nyonya Agatha meletakkan cangkirnya dengan perlahan. “Aku sudah mengawasi sejak hari pertama aku datang, anakku. Aku selalu mengawasi.” Ia mengetuk-ngetukkan jarinya ke lengan kursi. “Pelayan yang paling membahayakan bukan yang paling sibuk atau yang paling diam. Yang paling membahayakan adalah yang paling mudah dilupakan. Ingat itu.”
Syahquita menyimpan kalimat itu baik-baik. Ketika kemudian Arla menyebut nama Martha, kalimat Nyonya Agatha itu kembali ke kepalanya—Martha, juru masak bantu yang tidak pernah menjadi pusat perhatian siapa pun, yang datang dan pergi dari dapur tanpa ada yang benar-benar memperhatikannya.
Arla dipanggil siang itu, dan percakapan itu berjalan jauh lebih baik dari yang Syahquita takutkan. Arla tidak tersinggung sedikit pun—gadis itu justru berbinar saat diberi tahu bahwa ia bisa membantu. “Saya memperhatikan banyak hal, Tuan Putri. Orang-orang lupa bahwa pelayan punya mata.”
“Apa yang sudah kau perhatikan?” tanya Syahquita.
Arla menimbang-nimbang, lalu berkata dengan hati-hati, “Martha—juru masak bantu yang baru enam bulan di sini—akhir-akhir ini sering sekali pergi ke kamar atas dengan alasan mengambil linen, padahal linen tidak disimpan di kamar atas. Dan minggu lalu, saya melihatnya di kandang burung utusan, padahal itu bukan tugasnya.”
Syahquita merasakan darahnya bergerak lebih cepat. “Martha. Siapa yang mempekerjakannya enam bulan lalu?”
“Kepala pelayan, Tuan Putri. Dia direkomendasikan oleh… saya tidak ingat oleh siapa.”
Jawaban itu membuat sesuatu di dada Syahquita terasa dingin. Enam bulan lalu, kastil ini sedang damai. Enam bulan lalu, tidak ada yang punya alasan untuk menanam mata-mata—kecuali seseorang yang sudah merencanakan semuanya jauh sebelum tanda pertama muncul di utara.
“Arla,” ucap Syahquita pelan. “Mulai besok, aku mau kau bekerja seperti biasa, tapi dengan satu tugas tambahan: perhatikan siapa yang bicara dengan Martha. Siapa yang ia temui di luar jam kerja. Ke mana ia pergi saat kastil mulai sepi. Jangan bertanya apa pun padanya. Hanya perhatikan.”
Arla mengangguk dengan wajah serius. “Saya bisa melakukannya, Tuan Putri.”
“Dan Arla—” Syahquita memegang tangan gadis itu sejenak. “Terima kasih. Untuk sup tempo hari, dan untuk hari ini.”
Gadis itu tersenyum kecil, gugup tapi bangga, lalu kembali ke dapur dengan langkah yang lebih tegak dari biasanya.
Malam itu, Albert dan Syahquita duduk berhadapan dengan suasana yang sangat berbeda dari malam-malam sebelumnya. Untuk pertama kalinya, mereka punya nama. Dan dengan nama itu, perang yang selama ini terasa seperti melawan kabut tiba-tiba punya wajah yang mungkin bisa mereka lihat.
“Kita tidak menangkapnya besok,” ucap Syahquita. “Kita mengawasinya. Kalau dia bekerja untuk ordo, dia akan menghubungi mereka lagi. Dan kali ini, kita yang membaca suratnya sebelum burung itu terbang.”
Albert mengangguk. “Enam bulan. Mereka menanamnya di sini enam bulan yang lalu. Jauh sebelum jejak di utara. Jauh sebelum rusa itu.” Ia menatap istrinya. “Mereka sudah merencanakan ini sejak lama, Syah. Ini bukan kontrak baru. Ini kontrak yang sudah dimasak pelan-pelan.”
Dan pikiran itu—bahwa seseorang sudah merencanakan penculikan istrinya sejak enam bulan lalu—membuat Albert tidak bisa tidur sama sekali malam itu.
Syahquita sendiri tidur, tapi dengan gelisah. Dalam tidurnya, ia memikirkan wajah Martha yang selalu sopan, selalu menunduk, selalu mengucapkan “Tuan Putri” dengan nada yang sama setiap harinya. Ia mencoba mencari celah di wajah itu dalam ingatannya—sesuatu yang ia lewatkan, sesuatu yang seharusnya ia lihat. Tapi tidak ada. Pengkhianat yang baik tidak punya wajah khusus, dan pengkhianat yang hebat punya wajah yang paling meyakinkan di antara semua orang.
Sebelum tidur, Albert sempat berdiri lama di depan jendela, menatap sayap timur di mana para pekerja kastil tidur. Ia memikirkan tentang bagaimana sebuah rumah bisa dihancurkan bukan dari gerbangnya, melainkan dari dapurnya. Dan ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa rumahnya tidak akan runtuh dengan cara seperti itu. Tidak selama dia masih berdiri.
Di dapur yang sudah sepi, Arla memeriksa ulang kunci lemari besi sebelum tidur—kebiasaan barunya sejak insiden sup itu. Ia tidak tahu tentang rencana pengawasan, tentang Martha, atau tentang perang informasi yang sedang dimainkan di atas kepalanya. Ia hanya tahu bahwa dapurnya harus aman, dan ia menjaganya dengan kesetiaan yang tidak pernah goyah.